Pages

Tampilkan postingan dengan label New Authors Reading Challenge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label New Authors Reading Challenge. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Desember 2014

Wrap Up New Authors Reading Challenge 2014


Kalo yang ini Wrap Up New Authors Reading Challenge. Hihi, telat jug sih... gapapa deh yang penting ada jejaknya :D *sungkem sama Mbak Ren*

Langsung aja, yaaaa... ini list-nya:

  1. First Time In Beijing, Riawani Elyta 
  2. Betang Cinta Yang Tumbuh Dalam Diam, Shabrina WS
  3. Geek In High Heels, Octa NH
  4. Ranu, Ifa Avianty & Azzura Dayana
  5. The Mocha Eyes, Aida MA
  6. Rainbow, Eni Martini
  7. London, Windry Ramadhina
  8. Hawa, Riani Kasih
  9. Assalamualaikum, Beijing, Asma Nadia
  10. Cintapuccino, Icha Rahmanti
  11. Temui Aku di Surga, Ella Sofa
  12. Selamanya Cinta, Kireina Enno
  13. Pre Wedding Rush, Okke 'Sepatu Merah'
  14. Fate, Orizuka
  15. Bulan Terbelah di Langit Amerika, Hanum Salsabiela -- ini romance bukan, ya? :D
  16. (Bukan) Salah Waktu, Nastiti Denny
  17. Sabtu Bersama Bapak, Adhitya Mulya
  18. Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio, Irfan Ihsan
  19. The Time Keeper, Mitch Albom
Yuhuuu... memenuhi target juga siiihh.... soalnya target minimal saya ambil 15 buku :D
Tapi tetep sama sekali nggak ada apa-apanya dibanding peserta lain *tutup muka*

Oke, semoga 2015 kuantitas dan kualitas bacaan saya semakin baik, Aamiin.


Minggu, 21 Desember 2014

The Time Keeper: Hikmah Mengapa Tuhan Membatasi Waktu

Judul : The Time keeper (Sang Penjaga Waktu)
Penulis : Mitch Albom
Alih Bahasa : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 312 halaman


“Tidak pernah ada kata terlambat atau terlalu cepat, semuanya terjadi pada waktu yang telah ditetapkan” (Hal. 232)


Jaman sekarang, hidup berkejaran dengan waktu sepertinya sudah menjadi gaya hidup. Slogan ‘waktu adalah uang’ menjadi salah satu slogan yang menjelma menjadi prinsip sebagian orang. Buku-buku bahkan seminar tentang cara mengefektifkan waktu, manajemen waktu, dll menjadi salah satu tema popular yang selalu diminati oleh banyak orang.

Orang-orang berlomba untuk membuat hidup mereka sesibuk mungkin agar dapat meraih pencapaian yang lebih dari yang lainnya. Mereka mengesampingkan kebahagiaan dan ketentraman hati. Tapi semakin banyak yang mereka raih, mereka semakin tidak puas dan terus berharap memiliki jauh lebih banyak waktu lagi untuk membuat pencapaian yang jauh lebih dahsyat lagi.

Tapi apa semua orang seperti itu? Sepertinya tidak. Dunia ini ibarat dua sisi keeping mata uang. Jika ada orang-orang yang selalu haus akan waktu yang jauh lebih banyak, maka di sisi lainnya ada orang-orang yang melihat dunia ini dengan cara yang amat muram. Mereka menganggap bahwa tak lagi ada hal berharga dan menarik yang membuat mereka pantas melewati waktu di dunia ini lebih lama lagi. Mereka berharap waktu akan segera berakhir. Dan ironisnya, hal itu biasanya disebabkan hanya oleh perkara-perkara remeh yang sebenarnya sama sekali tidak sebanding dengan kenikmatan yang diberikan Tuhan untuk masih bisa melewati waktu.

Novel The Time Keeper karya Mitch Albom ini bercerita tentang realita diatas. Adalah Dor, seorang laki-laki yang sejak usianya masih belia sudah sangat tertarik pada perhitungan waktu. Ia adalah orang pertama di dunia yang ‘bisa’ menghitung kapan matahari terbit dan kapan tenggelam. Kapan musim berganti, dll. Ia  mulai melakukannya dengan alat-alat sederhana. Salah satunya dengan tetesan air, juga batu. Hingga saat ia sudah semakin mahir menghitung waktu, ia akhirnya menjadi pemrakarsa terciptanya jam di dunia.

Atas kesukaan dan kemahirannya menghitung-hitung waktu – yang lambat laun mampu  mengubah dunia dan perilaku manusia-manusia di dalamnya, Dor adalah orang pertama yang pernah mengharapkan punya waktu tak terbatas agar ia bisa selalu bersama Alli istri tercintanya, sekaligus pernah menjadi orang yang tak lagi berharap punya waktu setelah Alli meninggal. Dor akhirnya ‘dihukum’. Ia diberi waktu tak terbatas. Usianya tak bertambah sedikitpun, lalu ia ‘dilemparkan’ lagi ke dunia yang sudah sangat jauh dari masanya dulu, dan sangat asing baginya. Dor diberikan sebuah misi untuk memberi pelajaran pada manusia-manusia yang berharap memiliki waktu tak terbatas, dan pada mereka yang berharap tak lagi memiliki waktu sedikitpun.

Dor akhirnya dipertemukan dengan seorang pengusaha sukses dan kaya raya bernama Victor dan gadis belia bernama Sarah. Victor mewakili kubu orang yang haus akan waktu dan terus berharap memiliki waktu tak terbatas. Sedangkan Sarah mewakili kubu orang yang berharap waktu berhenti.

Victor mengidap sebuah penyakit yang membuatnya tak lagi memiliki banyak waktu. Dokter sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menyembuhkan Victor. Yang masih bisa dilakukan hanyal melakukan cuci darah untuk setidaknya mengulur waktu, meski mungkin tak seberapa. Dan Victor tidak puas dengan itu. Sifatnya yang ambisius dan tidak mudah puas membuatnya ingin ‘mengakali’ takdirnya. Ia mengerahkan segala daya dan upayanya, dengan melibatkan para peneliti, untuk bisa dihidupkan lagi suatu saat. Ya, Victor berusaha untuk mengakali takdir kematiannya sendiri.



“Selalu ada pencarian untuk mendapatkan lebih banyak menit, lebih banyak jam, kemajuan lebih cepat untuk menghasilkan lebih banyak setiap harinya. Kebahagiaan sederhana dalam menjalani hidup antara dua matahari terbit tidak lagi dirasakan” (Hal. 290)


Sedangkan Sarah, seorang gadis dengan wajah dan bentuk tubuh kurang menarik, tidak memiliki banyak teman dan pergaulan, untuk pertama kalinya jatuh cinta pada temannya yang bernama Ethan. Ia merasa amat senang ketika Ethan bersikap baik padanya, dan menganggap itu merupakan pertanda bahwa Ethan juga jatuh cinta padanya. Sarah terus menghitung-hitung waktu untuk tak sabar segera bertemu dengan Ethan. Ia selalu berusaha melakukan apa saja untuk membuat Ethan merasa senang. 

Hingga saat Sarah memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu, sembari memberikan kado berupa jam tangan mahal yang sangat diidamkan Ethan, kenyataan pahit harus ditelan oleh Sarah. Ternyata ia keliru. Ethan tak sedikitpun menaruh perasaan padanya. Sarah sedih. Dan ia makin hancur kala melalui media social Ethan mengumumkan bahwa Sarah – sanga gadis ‘menjijikkan’ – telah menyatakan cinta padanya, lalu dikomentari oleh puluhan teman Sarah dengan komentar-komentar yang amat pedih bagi Sarah. Saat itulah ia berharap waktu berhenti. Dan Sarah memilih bunuh diri sebagai cara untuk mewujudkan hal itu.

Dan Dor hadir untuk mereka, sebelum misi mereka tersebut benar-benar terpenuhi. Dor membuat mereka tercengang dan akhirnya sadar bahwa tidak seharusnya mereka berharap waktu tanpa batas, ataupun waktu berhenti, karna semuanya sudah sesuai takarannya masing-masing.



“Ada Sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita”
“Mengapa?”
“Supaya setiap hari itu berharga” (Hal. 288)

Senin, 10 November 2014

Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio




Judul Buku: Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio
Penulis: Irfan Ihsan
Penerbit: Noura Books
No. ISBN: 978-602-7816-27-5
Terbit: februari, 2013
 

Setiap mau baca novel, saya hampir pasti membaca halaman sampul belakangnya dulu. Biasanya berisi sinopsis, atau endorsment novel tersebut.

Begitu juga saat akan memulai baca novel ini. Dan, wow... saya takjub karna endorsment yang tertera di novel ini hampir semua dari artis kenamaan. Lalu saya membaca profil penulisnya. Oh, ternyata beliau memang gak jauh dari dunia brodcast. Yang bikin saya penasaran lagi adalah, hampir semua endorsment mengemukakan hal yang sama, yaitu: novel ini sangat patut difilmkan. Aha, semakin penasaran lah saya untuk segera melahap novel ini. Dan, taraaaa.... yup, novel ini memang sepertinya cocok difilmkan. Kenapa? Ah, saya mau cerita sekilas tentang kisah yang ada di novel ini dulu, ah :p

Tokoh utama dalam novel ini bernama Fabian, atau biasa disapa Aan. Seorang penyiar salah satu radio swasta di ibukota. Sebagai penyiar radio dengan jam siaran amat minim, hidup Aan serba memprihatinkan, terutama soal tunggakan kos. Namun hidup Aan perlahan mulai berubah sejak kehadiran Risha sebagai bintang tamu di jam siarannya.

Risha adalah seorang penyanyi papan atas yang tengah naik daun. Parasnya yang cantik membuat Aan seketika merasakan sesuatu yang tak biasa di hatinya, hingga di satu waktu, saat Aan usai sholat, ia berdoa jika Risha memang jodohnya agar dimudahkan jalannya. Doa itu menemui takdirnya. Saat Aan ditugaskan untuk meliput sebuah acara penghargaan musik, Aan kembali bertemu dengan Risha yang ternyata masih mengingatnya. Bersamaan dengan itu, Risha merasa jantungnya seperti ditikam saat melihat Yudha - kekasih gelap Risha, yang sekaligus pencipta lagu ternama - tengah bergandengan mesra dengan istrinya. Padahal Yudha berjanji pada Risha akan segera menceraikan istrinya. Risha yang merasa sakit hati dan terus diberondong pertanyaan tentang siapa kekasihnya oleh para wartawan seperti kehilangan akal sehat. Spontan ia menarik Aan, lalu menciumnya.

Sejak saat itu hidup Aan berubah drastis. Meski dibina berdasarkan salah persepsi dan ketololan, toh Aan dan Risha akhirnya merajut kisah. Yah, kisah mereka tak serta-merta mulus begitu saja.

Nah nah... dari sepotong saja bagian yang saya ceritakan, pasti banyak yang setuju kalo tema novel ini sangat 'Indonesia'. Bener-bener tipe film-film Indonesia yang ngetrend. Hehe.

Tapi, so far, saya merasa novel ini sangat menghibur. Temanya bener-bener ringan. Konfliknya ngena, tapi gak bikin dada sesak atau kepala ikut nyut-nyut. Bener-bener nge-pop. Senengnya lagi, berhubung penulis menggeluti langsung dunia yang digeluti oleh tokoh utama, maka ia bisa menarasikannya dengan luwes.

Daaann, satu lagi yang gak boleh ketinggalan. Ada satu hal yang bikin saya salut banget sama si penulis. Novel ini bukan novel islami. Yah, seenggaknya bukan novel dengan label islami. Tapiiii, banyak banget pesan-pesan islami yang disisipkan di dalamnya. Salah satu yang paling menonjol adalah, pesan Kakek Aan agar Aan dan Risha TIDAK BERZINA. Sekali lagi, saya angkat topi untuk penulis.

Berapa banyak novel yang enggan memasukkan unsur agam ke dalam cerita? Saya kolot kali yee. Tapi saya emang kurang nyaman kalo baca novel yang agama tokohnya sama sekali gak teridentifikasi. Gak harus muslim kok. Tokohnya digambarkan non-muslim bagi saya malah bikin nyaman bacanya, karna nggak bertanya-tanya lagi agamanya si tokoh apa.

Jadi kesimpulan akhirnyaaa, saya setuju banget novel ini difilmkan. Yang terpenting, pesan moral-pesan moralnya jangan di skip, ya, Bang Sutradara. hihi.

Kamis, 30 Oktober 2014

ATHIRAH: Novel Yang Tak Selesai Saya Baca

sesaat sebelum dikirim balik ke empunya :D
Penulis: Alberthiene Endah Penggagas: M. Deden Ridwan Penyelaras Aksara: Nunung Wiyati, A.B Khoir, Lani Rachma ISBN: 978602781667
Penerbit: Noura Books

Ini bukan review novel Athirah, hanya cerita ngalor-ngidul nggak jelas. hehe
*yaiyalah, baca aja nggak selesai masa' mau ngreview :D*

Novel ini saya pinjam dari Mbak Prima, bareng 3 buku lainnya. Baru beberapa lembar baca, dada saya sesak sekali. Saya sempat beberapa kali berhenti, lalu menangis. Sebabnya? Entahlah. Campur aduk. Rasa empati saya yang terlalu besar pada perasaan Bu Athirah sebagai sesama perempuan mungkin. Atau rasa empati yang terlalu besar pada Pak JK dan saudara-saudaranya yang saat itu masih amat kecil untuk menghadapi kisruh cobaan rumah tangga orangtuanya? Atau karna diksi Alberthine Endah yang terlalu dalam/ Entahlah, saya nggak tau persis.

Yang jelas saya nggak habis pikir. Nggak habis pikir sama laki-laki seperti H. Kalla (Ayahanda Pak Jusuf Kalla) ini. Yup, saya pernah lihat langsung kok contohnya selain cuma dari novel ini.

Berjuang bersama, saling mencintai, terlihat selalu akur dan damai, istrinya cantik, nggak kurang suatu apa, anak-anak yang baik, lalu tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan nikah lagi?! Huh! Kecualiiiii kalo sebelumnya memang udah sering berantem dan nggak cocok sama istrinya, dll yang jadi pemicu. Lah ini? Kondisi yang digambarkan oleh Pak JK (lewat Alberthine Endah) terlalu ideal untuk melogika apa gerangan yang menjadi pemicu ayahandanya memutuskan menikah lagi.

Atau memang seperti itu (beberapa) laki-laki??  Entahlah.

Dari novel ini, meskipun -- sekali lagi -- belum selesai saya baca, saya jadi tahu dari Bapak Wakil Presiden kita ini beberapa hal yang sebelumnya saya nggak tahu. Saya baru tahu Pak JK bahkan sudah haji sejak masih kanak-kanak. Dan yang bikin takjub, beliau merasakan perjalanan menuju Tanah Suci menggunakan kapal yang memakan waktu puluhan hari. Saya juga brau tahu salah satu adiknya meninggal di Tanah Suci saat itu.

Dan yang paling penting, saya baru tahu (nggak bener-bener baru sih, saya udah pernah denger cerita sekilas sebelumnya tentang ini) kalau Pak JK tuh ternyata keturunan orang yang amat terpandang dan kaya raya dari sononya. Emm, terkait ini saya sempet komentar ke salah satu temen saat kami sedang chatt melalui whatsapp.

"Ya nggak heran, yah, kalo Pak JK kaya... orang udah kaya dari sononya, nggak bener-bener berjuang dari 0. Kalo Pak Kallanya, nah baru salut. kan beliau berjuang dari 0"

Tapi teman saya menyanggah. Dia bilang, intinya, berapa banyak anak orang kaya yang justru terlena sama berbagai kenyamanan yang ada?! Kekayaan itu melenakan, begitu kata temen saya.

Intinya, Pak JK juga sosok yang patut dikagumi, karna  beliau nggak jadi terlena sama berbagai kenyamanan yang ada di hidupnya saat itu. Iya sih, saya sadar saya terlalu cepet komentar waktu itu. Setelah baca lagi, semakin ke belakang saya makin salut sama Pak JK. Di usia yang amat belia, saat anak seumurannya sibuk bermain, dia sudah sangat ulet belajar berdagang pada ayahnya. Ah, saya jadi ingat hal yang saya pelajari beberapa hari kemarin, yang saya ceritain di sini :)

Dan, ah iya... saya kagum sekali sama Ibu Athirah. Kagum pada kehebatan beliau meredam gejolak hatinya yang tersakiti di depan anak-anaknya, bahkan di depan suaminya sendiri. Kagum sama kehebatan beliau sebagai istri yang.... ah, lidah saya kelu. Dikhianati, tapi tetap melayani dengan sepenuh bakti... Subhanallah, Ibu Athirah mungkin wanita dengan hati seluas samudra. Kagum sama kehebatan beliau yang justru bisa menjadikan lukanya sebagai pijakan untuk melompat jauh lebih tinggi. Kalo Om Mario Teguh bilang, marahlah dengan anggun. Ya marahnya Ibu Athirah ini contoh marah dengan anggun itu.

Tapi sayangnyaaa, saya yang emang selalu ngantuk kalo baca biografi atau novel yang based on true story gini, 'menyerah' saat sampai pertengahan. Sama persis waktu saya baca novel Sepatu Dahlan. Nggak selesai juga. hihi. Habis gimana ya, novel-novel model gini kan cenderung datar. Konfliknya kurang mengaduk-aduk. *ketauan suka novel yang drama banget. haha*. Alhasil, saya booring dan berpaling pada yang lain #halah

Etapi, saya tercengang waktu si temen chatt saya tadi mengabari beberapa hari kemudian, kalo ternyata usaha Pak H. Kalla sempet bangrut dan harus mulai dari nol lagi. Wah, saya jadi penasaran dan sempet pengen lanjutin baca lagi, tapi.... eng, tapiii... godaan novel lain masih lebih kuat. Haha. Tadinya mau paksain buat baca lagi, tapi... eng, sudah diminta kirim balik sama yang punya kemarin. #Alasan!!! :D

Ada yang sudah baca sampai tuntas novel ini? Kalau ada, ada yang bersedia berbagi cerita menarik yang saya lewatin tentang novel ini? Kalau ada, waaahh saya pasti seneng banget :)