Pages

Tampilkan postingan dengan label Review Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Novel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Februari 2015

MARI LARI: Selesaikan Apa Yang Kamu Mulai

Judul Buku: Mari Lari
Penulis: Ninit Yunita
Penerbit: Gagasmedia

Kalaulah saya melihat novel ini di salah satu sudut toko buku, tanpa pernah baca resensinya terlebih dulu, mungkin saya nggak akan tertarik untuk membaca apalagi membelinya. Jujur covernya nggak menarik buat saya. Judulnya juga. Mari Lari? Duh, males, enakan Mari Tidur atau Mari Makan. Haha… apa siihhh!!

Yup, takdir membuat saya tertarik membaca novel ini lewat perantara review-nya Mba Ila. Dan setelah membacanya, saya sama sekali nggak nyesel. Pesan utamanya bagi saya teramat JLEB. Selesaikan apa yang kamu mulai, kalau nggak pengen nyesel di kemudian hari.

Rio – tokoh utama dalam novel ini – adalah seorang pemuda yang menyesal dan merasakan dampak buruk dari kebiasaan setengah-setengah dalam melakukan segala sesuatu. Dia sering ingin melakukan banyak hal, tapi baru setengah jalan dia akan cepat sekali menyerah pada rasa bosan. Nggak ada satupun hal yang ia selesaikan dengan baik, termasuk kuliahnya. Hingga ayahnya sampai pada batas limit rasa sabarnya, dan menyuruh Rio pergi dari rumah.

Rio bekerja di sebuah showroom mobil milik sahabatnya, sekaligus tinggal di situ – dalam kondisi yang serba memprihatinkan. Kinerjanya di showroom amat membuat sahabatnya amat prihatin pada sahabatnya. Rio sama sekali tidak menunjukkan performa yang mumpuni sebagai seorang marketer mobil. Ia pun amat menydari kondisi dirinya tersebut. Ia merenung, menyesali segala kesalahannya selama ini. Ia sadar  kebiasaan buruknya yang nggak pernah menyelesaikan apapun yang ia kerjakan selain merugikan dirinya sendiri, juga teramat mengecewakan dua orang yang paling ia sayangi dan menyayanginya: ayah dan ibunya. Lalu perlahan tekad untuk memperbaiki diri pun muncul.

Puncaknya, saat ia tahu bahwa ibunya menderita penyakit kanker. Rio ingin sekali membuat ibunya bangga dan bahagia. Rio ingin membalas kasih sayang tanpa batas ibunya dengan memperbaiki segala kesalahannya selama ini. Namun sayang, takdir berkata lain. Rio tak lagi memiliki waktu, karna ajal mengambil alih dunia ibunya.

Rio menyesal dan sedih. Tapi ia terlanjur berjanji akan membuat ibunya bahagia meski tak lagi hidup di dunia yang sama dengannya. Rio memperbaiki performanya di showroom dan berhasil meningkatkan kemampuannya menjual mobil. Ia juga mengejar semua ketertinggalan kuliahnya. Dan satu lagi yang terpenting, ia mulai lari. Ya, Rio tekun berlatih lari demi mengikuti event Bromo Maraton dengan memakai nomor ibunya yang mendapat undangan khusus. Ohya, FYI, ayah-ibu Rio adalah mantan atlet lari berprestasi. Meski ayahnya masih sangat meragukan Rio, toh akhirnya ia memberikan ijin pada Rio untuk memakai nomor ibunya, dengan sebuah syarat. Lalu apakah kali ini Rio akan menyelesaikan apa yang ia mulai dan berhasil mencapai finish line? Baca sendiri, lah, ya… hehe.

Ohya, btw… katanya ini novel udah ada filmnya, ya? Sumpah sama sekali nggak tahu lho malah. Filmnya yang kurang promosi atau kupernya saya yang semakin akut? Ah, entahlah. Haha.

Rabu, 21 Januari 2015

The Dream In Taipe City

 
 Judul: The Dream In Taipe City
Penulis: Mell Shaliha
Penerbit: Indiva Media Kreasi
ISBN: 9786021614167
 
Ella Tan adalah seorang gadis blasteran Jawa-Taiwan yang berjuang untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas Nasional Taiwan seperti impiannya. Sesuai perjanjian kedua orangtuanya yang sudah berpisah, Ella Tan harus kembali tinggal dengan sang ayah yang asli orang Taiwan setelah dewasa. Meski demi memenuhi itu, Ella harus berlapangdada menerima perlakuan tidak menyenangkan dari istri ayahnya yang baru dan beberapa saudara tirinya. Tapi Ella lega ketika akhirnya ayahnya mengijinkannya tinggal di apartemen, jadi ia tak  harus setiap hari berhadapan dengan orang-orang yang selalu menguji kesabarannya. Dan saat itulah Ella seperti baru menyadari betapa ayahnya banar-benar menyayanginya. Hal itu tercermin dari betapa totalnya ayahnya menyiapkan segalaa kebutuhan Ella di tempat tinggal Ella yang baru, melengkapi apartemen Ella dengan berbagai macam perlengkapan yang sama sekali tidak Ella sangka sebelumnya.

Ella juga sangat bersyukur ketika ia akhirnya dinyatakan lulus seleksi masuk universitas impiannya, meski sebelumnya ia harus menghadapi rintangan dari ibu tirinya yang merampas surat pengumuman kelulusan Ella yang dikirim oleh universitas ke alamat rumah. Tapi semua itu bisa dilaluinya karna ia sudah bertemu dengan teman-teman baru yang amat baik. Mereka adalah para mahasiswa Universitas Nasional Taiwan yang berasal dari Indonesia. Saat berada di Negara lain yang jauh dari tanah air, bertemu dengan teman setanah air – meski baru kenal, sudah terasa seperti saudara. Begitupun Ella dan teman-temana barunya tersebut.

Selain mendapatkan teman baru yang sama-sama berasal dari Indonesia, Ella juga mendapatkan teman baru yang berasal dari korea bernama Kim Hae Yo – biasa dipanggil dengan Hae Yo. Hae Yo adalah seorang laki-laki yang supel, agak banyak bicara, dan asyik bagi Ella. Ia tidak sengaja berkenalan dengan Hae Yo saat mereka sama-sama menghadapi masalah mengenai surat pengumuman lolos seleksi masuk. Sejak saat itu, Hae Yo meminta Ella untuk menjadi sahabatnya.

Indahnya persahabatan antara Hae Yo dan Ella tak urung mengalami riak. Saat Ella diterpa perasaan yang tak menentu pada sang dosen muda di NTU     bernama Marcel Yo atau biasa disapa Mr. Yo – yang sudah beberapa kali membantunya. Sayangnya, Ella harus kecewa ketika tahu bahwa  ternyata Mr. Yo sudah memiliki kekasih bernama Miss Wang – yang ternyata juga merupakan wanita yang amat dikagumi Hae Yo.

Sedikit demi sedikit, perasaan Hae Yo pada Ella, dan sebaliknya – perasaan Ella pada Hae Yo, mulai bermetamorfosa justru ketika Hae Yo harus cuti dari kuliahnya untuk pulang ke Korea karna ayahnya sakit. Tapi Hae Yo berjanji pada Ella melalui sebuah surat bahwa ia akan kembali. Dan saat Hae Yo kembali, semuanya tak lagi sama – terutama antara ia dan Ella.

Kisah cinta yang disajikan dalam novel ini cenderung ringan. Gaya berceritanya pun ringan dan mengalir. Tapi, saya sempat merasa bahwa ada beberapa kemiripan ide cerita novel ini dengan novel First Time In Beijing karya Riawani Elyta. Tapi pesan moral yang tersirat dalam novel ini cukup banyak dan rasanya tidak terkesan menggurui.

Selasa, 13 Januari 2015

RINDU: Kisah Perjalanan Penuh Nasehat Indah


Judul Buku : Rindu

Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika

Cetakan : I, Oktober 2014


Novel pertama yang saya selesaikan di tahun 2015 ini adalah salah satu novel karya penulis idola saya – Tere Liye, yang berjudul Rindu. Konon, novel ini sudah 4 kali cetak ulang padahal baru dua bulan terbit. Wow!


Tere Liye menurut saya salah satu penulis yang amat konsisten pada misinya dalam menulis. Sejauh ini, tidak satu pun karyanya yang tak menyelipkan pesan-pesan kebaikan dan nilai kebijaksanaan hidup.  Salah satunya adalah novel Rindu ini.

Rindu bercerita tentang perjalanan haji yang amat luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena perjalanan haji yang diceritakan di sini bukan perjalanan haji seperti yang saat ini kita lihat, melainkan perjalanan haji yang dilakukan pada tahun 1938. Perjalanan yang memakan waktu yang tidak sebentar – berbulan-bulan. Perjalanan yang tidak menggunakan pesawat terbang dengan berbagai kenyamanan dan fasilitas mewah, melainkan menggunakan kapal uap – mengarungi samudra luas, dengan berbagai keterbatasan. Perjalanan haaji yang dilakukan oleh rakyat Indonesia saat masih berstatus sebagai bangsa terjajah.

Ahmad Karaeng yang merupakan seorang ulama besar pada masa itu turut serta dalam kapal Blitar-Holland yang dikomandoi oleh Kapten Phillips itu, untuk menunaikan rindunya pada tanah suci untuk kesekian kalinya. Ahmad Karaeng yang biasa dipanggil dengan sebutan Gurutta adalah seorang ulama kharismatik dan bijak yang amat dicintai oleh seluruh rakyat Makasar, Gowa dan sekitarnya. Bahkan saking kharismatiknya, para kompeni Belanda yang ditugaskan untuk mengawal kapal Blitar-Holland demi memastikan seluruh penumpang tetap patuh pada pemerintahan Hindia-Belanda, menjadikan Gurutta Ahmad Karaeng sebagai target utama untuk diawasi setiap gerak-geriknya. Peran Gurutta sangat sentral dalam novel ini. Beliau menjadi pemimpin rombongan jamaah haji Blitar-Holland dalam menjalani keseharian di kapal yang tidak hanya memakan waktu satu-dua hari saja. Selain itu, Gurutta juga menjadi orang yang menjawab berbagai pertanyaan tentang hidup yang bergelayut di benak beberapa penumpang.

Salah satu penumpang yang mempunyai pertanyaan besar adalah Daeng Andipati. Daeng Andipati seorang pedagang sukses pada jaman itu. Ia tidak sendirian dalam perjalanan ini, melainkan mengajak serta istrinya, dua putrinya yang amat pintar dan disenangi hampir seluruh penumpang – bernama Anna dan Elsa, serta Ijah – pembantu rumah tangganya. Di mata banyak penumpang, keluarga Daeng Andipati sangat ideal. Ia punya alasan sempurna untuk bahagia. Tapi kenyataannya, Daeng Andipati tidak pernah benar-benar merasa bahagia lantaran hatinya masih di rongrong rasa sakit hati dan dendam pada tingkah laku ayahnya di masa lalu. Bahkan meskipun ayahnya telah meninggal, rasa sakit hati tak sedikitpun berkurang dari hati Daeng Andipati.

Daeng Andipati resah atas perasaan tersebut. Lalu ia bertanya pada Gurutta Ahmad Karaeng, mungkinkah ia menginjakkan kaki di tanah suci dengan membawa kebencian sebesar itu? Bagaimana menghilangkan kebencian yang sebegitu besar dan telah mengendap sekian lama dalam hati? Dengan kalimat-kalimat yang amat bijak, Gurutta pun menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah nasehat yang teramat indah.

Penumpang yang juga membawa pertanyaan besar adalah Bonda Upe – seorang wanita mualaf keturunan. Ia punya masa lalu yang amat kelam, dan nisa di mata masyarakat umum kebanyakan. Ia selalu dihantui ketakutan dan perasaan minder. Ia takut orang-orang akan mencemoohnya jika tahu tentang masa lalunya. Ia juga bertanya-tanya, apakah Allah akan menerima seorang wanita dengan masa lalu nista seperti dirinya di tanah suci? Lagi-lagi Gurutta menjawabnya dengan nasehat yang amat indah – yang paling saya sukai dalam novel ini. Inti nasehat itu ada tiga. Pertama, jangan pernah lari daari kenyataan hidup. Terima dengan lapang dada, dan hadapi. Kedua, jangan pernah resah atas penilaian orang lain, karna orang lain hanyak melihat bagian luarnya saja. Ketiga, selalu berbuat baik, dan berharap semoga perbuatan baik kita menjadi perantara atas ampunan Allah yang Maha Luas. (Hal. 311-315)

Selain Daeng Andipati dan Bonda Upe, masih ada beberapa penumpang lagi yang membawa pertanyaan hidup masing-masing. Bahkan tak terkecuali Gurutta Ahmad Karaeng sendiri. Selain diwarnai banyak pertanyaan tentang hidup, perjalanan kapal Blitar-Holland juga diwarnai banyak rintangan. Diantaranya adalah seorang penyusup kapal yang berusaha membunuh Daeng Andipati – yang ternyata adalah orang yang amat dendam pada ayah Daeng Andipati. Lalu Gurutta Ahmad Karaeng yang ditangkap oleh para Tentara Kompeni dan dimasukkan ke penjara kapal, lantaran mereka menemukan buku yang ditulis oleh Gurutta – yang berjudul “Kemerdekaan Adalah Hak Segala Bangsa” yang dianggap sangat membahayakan pemerintahan Hindia-Belanda. Dan cobaan berikutnya, yang menjadi rintangan paling serius adalah saat Kapal Blitar dibajak oleh Perompak Somalia – yang sempat memancing pertikaian sengit antara para penumpang dan komplotan perompak.

Seperti novel Tere Liye yang lainnya, setelah sampai di halaman terakhir saya  dibuat menghela nafas panjang lalu merasakan perasaan lapang yang unik. Saya seperti mendapatkan vitamin agar lebih bijak menghadapi liku terjal kehidupan. Hanya saja, jujur saja saya sempat dihinggapi rasa jenuh saat membacaanyaa. Pasalnya, sebagian lebih dari isi novel ini menceritakan tentang kehidupan di dalam kapal selama perjalanan. Aktivitas makan di kantin bersama, jamaah di masjid kapal, anak-anak mengaji, anak-anak mengaji dan sekolah, adalah adegan-adegaan yang terus berulang. Meskipun begitu, tetap saja nasehat-nasehat yang ada dalam Novel Rindu ini membuat novel ini sangat layak untuk di baca.

Senin, 10 November 2014

Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio




Judul Buku: Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio
Penulis: Irfan Ihsan
Penerbit: Noura Books
No. ISBN: 978-602-7816-27-5
Terbit: februari, 2013
 

Setiap mau baca novel, saya hampir pasti membaca halaman sampul belakangnya dulu. Biasanya berisi sinopsis, atau endorsment novel tersebut.

Begitu juga saat akan memulai baca novel ini. Dan, wow... saya takjub karna endorsment yang tertera di novel ini hampir semua dari artis kenamaan. Lalu saya membaca profil penulisnya. Oh, ternyata beliau memang gak jauh dari dunia brodcast. Yang bikin saya penasaran lagi adalah, hampir semua endorsment mengemukakan hal yang sama, yaitu: novel ini sangat patut difilmkan. Aha, semakin penasaran lah saya untuk segera melahap novel ini. Dan, taraaaa.... yup, novel ini memang sepertinya cocok difilmkan. Kenapa? Ah, saya mau cerita sekilas tentang kisah yang ada di novel ini dulu, ah :p

Tokoh utama dalam novel ini bernama Fabian, atau biasa disapa Aan. Seorang penyiar salah satu radio swasta di ibukota. Sebagai penyiar radio dengan jam siaran amat minim, hidup Aan serba memprihatinkan, terutama soal tunggakan kos. Namun hidup Aan perlahan mulai berubah sejak kehadiran Risha sebagai bintang tamu di jam siarannya.

Risha adalah seorang penyanyi papan atas yang tengah naik daun. Parasnya yang cantik membuat Aan seketika merasakan sesuatu yang tak biasa di hatinya, hingga di satu waktu, saat Aan usai sholat, ia berdoa jika Risha memang jodohnya agar dimudahkan jalannya. Doa itu menemui takdirnya. Saat Aan ditugaskan untuk meliput sebuah acara penghargaan musik, Aan kembali bertemu dengan Risha yang ternyata masih mengingatnya. Bersamaan dengan itu, Risha merasa jantungnya seperti ditikam saat melihat Yudha - kekasih gelap Risha, yang sekaligus pencipta lagu ternama - tengah bergandengan mesra dengan istrinya. Padahal Yudha berjanji pada Risha akan segera menceraikan istrinya. Risha yang merasa sakit hati dan terus diberondong pertanyaan tentang siapa kekasihnya oleh para wartawan seperti kehilangan akal sehat. Spontan ia menarik Aan, lalu menciumnya.

Sejak saat itu hidup Aan berubah drastis. Meski dibina berdasarkan salah persepsi dan ketololan, toh Aan dan Risha akhirnya merajut kisah. Yah, kisah mereka tak serta-merta mulus begitu saja.

Nah nah... dari sepotong saja bagian yang saya ceritakan, pasti banyak yang setuju kalo tema novel ini sangat 'Indonesia'. Bener-bener tipe film-film Indonesia yang ngetrend. Hehe.

Tapi, so far, saya merasa novel ini sangat menghibur. Temanya bener-bener ringan. Konfliknya ngena, tapi gak bikin dada sesak atau kepala ikut nyut-nyut. Bener-bener nge-pop. Senengnya lagi, berhubung penulis menggeluti langsung dunia yang digeluti oleh tokoh utama, maka ia bisa menarasikannya dengan luwes.

Daaann, satu lagi yang gak boleh ketinggalan. Ada satu hal yang bikin saya salut banget sama si penulis. Novel ini bukan novel islami. Yah, seenggaknya bukan novel dengan label islami. Tapiiii, banyak banget pesan-pesan islami yang disisipkan di dalamnya. Salah satu yang paling menonjol adalah, pesan Kakek Aan agar Aan dan Risha TIDAK BERZINA. Sekali lagi, saya angkat topi untuk penulis.

Berapa banyak novel yang enggan memasukkan unsur agam ke dalam cerita? Saya kolot kali yee. Tapi saya emang kurang nyaman kalo baca novel yang agama tokohnya sama sekali gak teridentifikasi. Gak harus muslim kok. Tokohnya digambarkan non-muslim bagi saya malah bikin nyaman bacanya, karna nggak bertanya-tanya lagi agamanya si tokoh apa.

Jadi kesimpulan akhirnyaaa, saya setuju banget novel ini difilmkan. Yang terpenting, pesan moral-pesan moralnya jangan di skip, ya, Bang Sutradara. hihi.

Selasa, 23 September 2014

Sabtu Bersama Bapak: Pelajaran Tentang Parenting dan Keluarga Dalam Sebuah Novel

 Judul: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2014
No. ISBN: (13) 978-979-780-721-4

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Kata-kata tersebut tertulis di cover belakang novel Sabtu Bersama Bapak karya Mas Adhitya Mulya. Ini karya beliau yang pertama say abaca, dan wow… saya langsung dibuat terpesona. Kata-kata di atas sebenarnya sudah sangat menggambarkan tentang keseluruhan isi novel ini.

Novel ini bercerita tentang keluarga Garnida, yang terdiri dari Pak Gunawan Garnida dan Ibu Itje – istrinya, dan kedua putra mereka – Satya Garnida dan Cakra Granida. Satya dan Cakra masih berumur delapan dan lima tahun saat harus menerima dengan lapang dada garis takdir mereka yang akan tumbuh tanpa sosok bapak di samping mereka. Tapi mereka beruntung karna memiliki bapak luar biasa seperti Pak Gunawan. Pak Gunawan yang telah lama menerima sinyal batas umurnya sendiri, telah menyiapkan semuanya dengan baik. Yang dengan itu ia akan tetap bisa menemani setiap langkah putranya dalam memahami hidup, meski jiwanya telah hidup di alam berbeda. Sebuah video.


Hari terus bergulir, Satya dan Cakra telah tumbuh dewasa. Satya telah memiliki keluarga dengan tiga putra dan tinggal di Denmark. Sedangkan Satya sudah memiliki posisi yang cukup mumpuni untuk usianya di sebuah lembaga perbankan. Tapi sayangnya Cakra masih tunacinta.

Karna kesibukannya bekerja di perusahaan minyak, Satya sudah jarang sekali menonton video bapaknya. Tapi email Rissaa – istrinya, yang melarangnya pulang sebelum ia ‘berubah’ menjadi Satya yang lebih baik membuatnya merasa harus kembali belajar pada bapaknya melalui video-video itu.

Sedang Cakra? Aahh. Perjalanan cintanya cukup tragis. Cinta pada pandangan pertamanya pada salah satu karyawati baru bernama Ayu cukup berliku, hingga akhirnya membuat Bu Itje harus turun tangan membantu. Yang saya suka, perjalanan cinta Cakra tetap terasa berliku, tanpa didramatisir bak sinetron Indonesia. Hehehe. Sisi humoris novel ini hampir semuanya terletak pada bagian cerita tentang pencarian cinta Cakra.



Secara keseluruhan, hal paling menonjol dan menarik dari novel ini adalah, terkemasnya materi ‘berat’ tentang parenting dan keluarga menjadi sebuah bacaan renyah dan sama sekali tidak membosankan. Ada pesan di hampir seluruh kalimatnya, tapi tidak membuat pembaca merasa digurui. Ahh, rasanya saya tidak bisa mendeskripsikan kelebihan buku ini dengan baik. Jadi, lebih baik, silahkan membacanya sendiri :)

Karna saya gak bisa menceritakan dg baik, jadi saya selipin foto2 bagian yang saya suka. nggak cuma ini sih sebenernya. Ini cuma beberapa diantaranya :)

Pelajaran mendalam yang saya ambil ketika membaca novel ini adalah, betapa sepertinya banyak lelaki yang memutuskan menikah tanpa kesadaran penuh bahwa setelahnya, ia bertanggungjawab atas dunia dan akhirat istri dan anak-anaknya kelak. Dan mereka harusnya belajar dari Pak Gunawan. Pernikahan sama sekali nggak cukup jika hanya berbekal cinta. Betapa banyak pula seorang wanita yang mengiyakan ajakan menikah dari seorang lelaki, tanpa kesiapan utuh bahwa setelahnya ia wajib mempersembahkan sebaik-baik bakti untuk suaminya, serta sesempurna-sempurna kasih untuk anak-anaknya. Seorang ibu harusnya nggak pernah terpikir balasan apa yang akan anaknya berikan, melainkan terus-menerus berpikir bagaimana cara mencurahkan kasih. Dan mereka (termasuk saya), harusnya belajar dari sosok Ibu Itje.

Yang jelas, saya merekomendasikan novel ini untuk semua laki-laki. Yang tengah mencari cinta, yang baru hendak menikah, yang sebentar lagi menjadi ayah, atau yang sudah menjadi suami dan ayah tapi merasa belum menjadi suami dan ayah yang cukup baik untuk istri dan anaknya. Saya merekomendasikan novel ini untuk para wanita yang ingin belajar menjadi perhiasan terindah di dunia dan akhirat – bagi suami dan anak-anaknya kelak :)

Selasa, 16 September 2014

(Bukan) Salah Waktu: Tidak Ada Yang Salah, Kecuali Masa Lalu

”Tahukah kau, Sayang…
Aku mencintaimu lebih dari apa pun. Aku rela kehilangan segalanya, kecuali kamu. Aku sanggup melepas duniaku demi dunia kita bersama.
Namun, ketika waktu bergulir tanpa bisa dibendung, ketika kenyataan memaksa untuk dipahami, ketika kesalahn memohon dimaafkan, kurasa aku tak sanggup, Sayang…
Entahlah, siapa yang harus memahami dan mengalah. Mungkin aku butuh seribu cara untuk mengobati luka hati ini”
Judul : (Bukan) Salah Waktu
Penulis : Nastiti Denny
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2013
Halaman : viii + 24

Sekar – tokoh utama dalam novel ini – akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dan beralih profesi menjadi full-time wife, seperti yang sekrang ini diidamkannya. Meski Prabu – suaminya – orangtuanya, bahkan mertuanya pun tidak benar-benar memahami apa alasan Sekar meninggalkan kariernya yang sudah cukup baik, toh mereka tetap mendukung. Tapi dukungan itu tak lantas menjadikan Sekar bisa dengan mudah menyesuaikan diri dengan perubahan total fungsi diri di rumah.

Saat masih tertatih menyesuaikan diri dengan berbagai jadwal baru sebagai ibu rumah tangga, Sekar harus dihadapkan dengan tantangan yang lain. ia yang ternyata punya trauma masa kecil dan masih menyimpan rapi sebuah rahasia dari suaminya sendiri, harus berusaha menguatkan hati ketika rahasia itu perlahan mulai menyembul ke permukaan.

Namun drama kehidupan memang seringkali tak teraba akal. Saat Sekar tengah menyiapkan segenap mentalnya untuk menghadapi 'serangan' Prabu yang mulai mengendus rahasia hidupnya, justru harus menerima pukulan telak saat ia harus mendengar tentang masa lalu suaminya yang sama sekali tidak pernah ia duga. Prabu yang ia kenal sebagai laki-laki santun dan sangat menyayanginya ternyata telah memiliki seorang putra dari wanita masa lalunya bernama Larasati.

Diam-diam Sekar mencari tahu. Lalu memutuskan menenangkan diri bersama ibunya -- yang tanpa ia sadari selama ini sering ia abaikan dan amat merindukannya. Sedangkan Prabu tenggelam dalam penyesalan dan dilema. Ia ingin tetap bersama Sekar, tapi ia juga tak mungkin meninggalkan putranya setelah tahu tentang keadaan yang sebenarnya.

Lalu apakah Sekar akan berlapang dada menerima Prabu dengan masa lalunya? Silahkan menikmati sendiri alur cerita novel (Bukan) Salah Waktu ini di sela-sela waktu senggang anda :)

Secara keseluruhan saya suka dengan novel ini. Tidak banyak typo, bahasanya mengalir dan ringan, serta tidak terlalu banyak dramatisasi bak sinetron. Meskipun novel ini mengangkat konflik rumah tangga sebagai tema utama, tapi saya tidak menemui pertengkaran dimana sepasang suami-istri yang sedang bertengkat saling berteriak dan marah-marah. Sosok Sekar terkesan anggun menghadapi badai rumah tangga yang menerpanya. Ia tidak sedikitpun mencaci Prabu meski kisah masa lalunya terbilang cukup sebagai alasan untuk sang istri marah besar pada suaminya. Begitu juga Prabu. Ia tampak tenang, tapi bukan tak berusaha.

So, Saya pikir novel ini cukup patut direkomendasikan sebagai teman bacaan di sore hari sembari menikmati secangkir teh hangat dan sepotong kue. Selamat membaca :)

Rabu, 20 Agustus 2014

Bulan Terbelah di Langit Amerika: Mencerahkan, bukan Menghakimi

Judul Buku: Bulan Terbelah di Langit Amerika
Penulis: Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Juni, 2014
Tebal: 344 Halaman

Setelah berpetualang menapaki jejak-jejak islam di beberapa Negara di benua Eropa – Wina, Spanyol, Prancis, lalu Turki – dalam 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum dan Rangga kembali melanjutkan petualangan mereka sebagai Agen Muslim. Kali ini petualangan mereka jauh lebih berat. Selain Negara yang menjadi bidikan adalah Negara Adikuasa – Amerika, misi yang mereka bawa juga sangat tidak main-main. Yaitu mematahkan hipotesa ‘Would the world be better without Islam?’, sehubungan dengan peringatan tragedi 11 Sepetember di Amerika.

Hanum tidak bisa berkata tidak setelah tahu bahwa tema yang hendak di usung Heute ist Wunderbar – surat kabar asal Austria yang menjadi tempatnya bekerja selama ini, demi menaikkan oplah sangat menyudutkan agama yang dicintainya sepenuh jiwa raga. Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam? Hanum bertekad akan mematahkan hipotesa tersebut.

Maka,  dengan kebimbangan yang masih jelas membayang – Hanum mengiyakan perintah Gertrud – atasannya, untuk berangkat ke Amerika. Kebetulan yang amat melegakan bagi Hanum saat itu adalah ketika tahu bahwa suaminya – Rangga, juga harus berangkat ke Amerika untuk melaksanakan mandate dari Reinhard – profesornya, guna mengikuti konferensi tentang strategi bisnis, yang juga akan dihadiri oleh Philiphus Brown – seorang pengusaha kaya raya sekaligus dermawan asal Amerika.

Setelah menapakkan kaki mereka di Negara Adikuasa tersebut, ujian demi ujian tak henti mengepung mereka. Termasuk ujian bagi kekuatan cinta mereka, saat Hanum harus terkepung di tengah-tengah kerusuhan yang terjadi saat ia sedang berusaha menemukan narasumber dari salah satu demonstran penentang pembangunan masjid di dekat area Ground Zero bernama Jones – yang juga merupakan keluarga korban tragedy 11 September. Sedangkan Rangga mau tidak mau harus segera berangkat ke Washington DC agar tidak terlambat melakukan registrasi sebagai peserta konferensi. Hanum sempat terlunta-lunta di belantara New York, sebelum akhirnya takdir langit mempertemukannya dengan Julia Collins – wanita Amerika yang ternyata adalah seorang Muslim, dan juga merupakan istri dari salah satu korban tragedy 11 September.

Di tengah masih serba mengambangnya ide Hanum tentang artikel ‘luar biasa’ yang ia harap dapat memuaskan Gertrud sekaligus mematahkan hipotesa gila tentang ‘Would the world be better without Islam?’, takdir langit kembali seperti menunjukkan kuasa-Nya. Melalui ketelitian Rangga dalam mengamati foto milik suami Julia dan istri Jones, serta mendengarkan kisah titik balik hidup Philipus Brown dengan seksama, jalan cerita mulai tersambung dengan amat menakjubkan. Rahasia-rahasia tersingkap. Pertanyaan-pertanyaan yang berkelindan di benak Julia dan Jones akhirnya menemukan jawabannya. Ya, ternyata Philipus Brown, Abe – suami Julia dan Anna – istri Jones, ada di tempat yang sama dan sempat berjuang bersama di detik-detik mengerikan tragedi 11 September.

Lalu akankah Jones akan tetap membenci Islam karna merasa pemeluk agam tersebutlah yang menyebabkan istrinya pergi begitu cepat? Dan akankah Julia merasa menyesal memutuskan mencintai laki-laki pemeluk agama tersebut? Philipus Brown menjawab itu semua dengan amat mengharukan dalam acara CNN TV Heroes yang digelar di Baird Auditorium Smithsonian Museum.

oOo

Seperti saat selesai membaca 99 Cahaya di Langit Eropa, saya kembali menghela nafas lega setelah sampai di halaman terakhir novel ini. Hanum Salsabila dan Rangga Almahendra kembali mmapu meramu jalan cerita yang mengangkat tema cukup berat bagi sebagian orang menjadi sebuah cerita manis yang sarat pesan.

Bulan Terbelah di Langit Amerika yang mengangkat tema tentang salah satu tragedi kemanusiaan paling suram di muka bumi – 11 September – di mana sebagian orang mengarahkan telunjuknya pada Islam. Novel ini benar-benar memberikan pencerahan yang tidak berat sebelah. Meski penulis ada di pihak Islam, ia tak lantas membela dan membenarkan para pelaku pembajakan pesawat yang menabrakkan diri ke Menara Kembar WTC. Penulis tetap mengecam tindakan tersebut. Penulis juga berusaha menyampaikan bahwa tindakan mereka sama sekali tidak menunjukkan apa yang diajarkan oleh Islam. Bulan Terbelah di Langit Amerika berusaha membuka mata banyak orang bahwa tragedi tersebut sejatinya justru amat menyakiti umat Islam sendiri, terutama umat Islam di Amerika, yang harus rela menerima berbagai diskriminasi sebagai imbas dari tindakan dangkal saudara se-agama mereka.

Sekali lagi, salut untuk Hanum Salsabila dan Rangga Almahendra untuk karya briliannya. Semoga mereka tak henti berkarya, dan semoga semakin banyak karya cemerlang seperti ini di Indonesia. Karya yang mencerahkan, bukan menghakimi. Dengan begitu semoga kedamaian dunia akan menjadi milik kita.

Rabu, 13 Agustus 2014

FATE: Serasa Nonton Drama Korea

 Judul: Fate
Penulis: Orizuka
Penerbit: Authorized Books
Tahun Terbit: 2010
No. ISBN: 978-602-96894-0-2
Fate bercerita tentang dua orang pemuda keturunan Korea, Jang Min Ho dan Jang Min Hwan. Mereka adalah ‘saudara’ satu ayah beda ibu yang akhirnya kembali bertemu setelah dipisahkan secara paksa lewat kejadian yang amat menyakitkan bagi Min Hwan, saat ayah mereka berpulang ke pangkuan-Nya. Min Ho dan Min Hwan mau tidak mau harus tinggal bersama dan menjalankan beberapa persyaratan yang tertera dalam surat wasiat jika ingin menjadi pewaris utama Jang Dae Gwan.

Min Hwan geram. Sebenarnya ia tak pernah menginginkan semua ini, jika bukan karna seseorang yang amat ia sayangi memaksanya untuk berjuang menjadi pewaris. Ia bersikap dingin dan ketus pada semua orang di rumah itu – terutama pada Min Ho – kakaknya yang ia anggap tak pernah memedulikannya. Tapi kehadiran Adena ternyata mampu merubah keadaan serba kaku itu.

Adena adalah anak kepala pelayan di rumah itu, yang sejak Jang Dae Gwan masih hidup sudah dianggap seperti anak perempuannya. Sifatnya yang selalu ceria membuat Min Hwan sedikit demi sedikit mencair – meskipun Dena juga harus bersabar setengah mati menerima berbagai perlakuan menyebalkan dari Min Hwan. Tidak butuh waktu lama, Min Ho dan Min Hwan pun sudah kembali menjadi kakak-beadik yang akrab, setelah beberapa kejadian yang terasa sangat emosional.

Tapi garis cerita takdir memang sering tidak dapat tertebak. Keakraban Min Ho dan Min Hwan harus kembali mengalami cobaan berat saat Min Hwan secara tidak sengaja menemukan ‘tempat penyimpanan rahasia’ yang menjadi titik awal terbukanya jati dirinya yang sebenarnya. Ia memutuskan pulang ke Korea, meski saat itu ia baru saja menyadari bahwa hatinya telah tertaut pada Adena.

Lalu apakah Min Hwan akan bersedia kembali ke Indonesia saat Min Ho dan Dena menjemputnya? Lalu bagaimana dengan Dena – apakah ia akan tetap setia pada perasaannya pada Min Ho yang sudah ia pendam sejak lama, atau memilih Min Hwan ternyata sangat peduli padanya? Yuk, baca Fate : )))

Fate adalah novel karya Orizuka yang pertama saya baca. Bagi saya yang belum pernah tertarik dengan tren “Korea-Koreaan”, novel ini benar-benar terasa berbeda dibanding novel-novel yang baca sebelumnya. Nuansa Korea yang amat kental, dialog-dialognya, adegan-adegannya, benar-benar membuat saya merasa seperti sedang menonton drama Korea. Saat masih di bab-bab awal, jujur saya kurang bisa menikmati karna banyaknya kosakata bahasa Korea membuat saya harus bolak-balik melihat catatan kaki.

Tapi semakin ke belakang, saya semakin terbawa oleh permainan emosi pada masing-masing tokohnya. Min Hwan yang merasa dipermainkan, Min Ho yang juga amat nggak menyangka ayahnya sekian lama menyimpan rahasia sehebat itu, dan Adena yang bimbang tentang perasaanya pada dua tuan mudanya itu.

Novel ini bikin saya jadi tahu beberapa kosakata Korea dan beberapa kebiasaan orang Korea. Meskipun seperti menonton drama Korea, yang konon super-duper romantic, novel ini nggak terlalu berlebihan dalam hal itu, dan menyajikan momen-momen romantic yang nggak bikin eneg. Proporsional. Yang jelas, bagi kalian yang gandrung sama macem-macem yang berbau Korea, saya jamin novel ini sama sekali bukan pilihan yang salah.

Kamis, 17 Juli 2014

Pre Wedding Rush: Lika-Liku Menuju Pernikahan

Pengarang : Okke 'Sepatumerah'
Penerbit : Stiletto Book
Tahun Terbit : Desember 2013
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-7572-21-8

Konon, tiap orang yang mau menikah akan mendapat sebuah ujian. Seringkali mereka – orang yang akan menikah – akan dihadapkan pada sebuah masalah yang benar-benar menguji kemantapan hatinya pada pasangannya serta menguji kesiapan mental untuk memasuki babak baru kehidupan.

Itulah yang dialami Menina – seorang dosen ‘gaul’, beberapa saat setelah dilamar oleh kekasihnya – Dewo, tepat di hari ulang tahunnya. sejak awal Dewo mengutarakan ajakan menikahnya, sebenarnya Menina memang belum benar-benar yakin karna merasa hubungan mereka baru seumur jagung. Tapi toh ia akhirnya mengangguk bersedia, karna tak mungkin menolak laki-laki sebaik Dewo.

Namun hal tersebut pada akhirnya tak serta merta melenyapkan segala keraguan Menina. Ia justru menjadi seperti orang linglung. Mencoba mencari tahu alasan filosofis ‘kenapa dia harus menikah’  dan ‘apakah Dewo orang yang tepat?’.
Di tengah kecamuk kebimbangannya, ia memutuskan untuk curhat melalui email pada Lanang – mantan kekasihnya. Lanang adalah tipe laki-laki petualang yang seringkali memiliki sudut pandang unik pada kehidupan. Dan itu menjadikannya selalu punya ‘ruang istimewa’ di hati Menina.

Menina dan Lanang akhirnya justru memutuskan melewati perjalanan bersama saat Menina hendak pulang ke Surabaya untuk mengurus lamaran resmi, sedang Lanang hendak ke Jogja. Dan perjalanan tersebutlah yang menjadi awal dari semua rangkaian kerumitan hubungan mereka – Menina, Dewo dan Lanang.

Menina yang impulsif menyetujui ajakan Lanang untuk terlebih dahulu jalan-jalan di Jogja, tragedi gempa Jogja yang akhirnya membuat Menina lebih lama bertahan di kota itu, Dewo sangat kecewa dengan keputusan Menina, perkenalan dengan Sigit dan Ayako, lalu terbongkarnya rahasia besar antara Lanang dan Ayako. Kejadian-kejadian tersebut membuat perasaan Menina teraduk-aduk. Hingga akhirnya ia tahu apa yang harus dilakukannya dan ke mana ia harus kembali.

Meski tema serupa sudah beberapa kali saya jumpai di beberapa novel lain, Pre Wedding Rush tetap menyajikan sajian yang tidak membosankan. Bahasanya yang ringan membuat novel ini seperti camilan ringan yang menemani kala penat – meskipun mengusung tema yang sepertinya berat. Andai novel ini lebih dipanjangkan sedikit, saya ingin bagian tentang Lanang-Ayako dan Sigit dibahas agak lebih detail.

Sejak menamatkan novel tersebut hingga saya menulis review, saya masih menyimpan rasa sebal dan marah pada sosok Lanang. Bahkan saya ingin mencakar wajahnya saat rahasianya dengan Ayako terkuak. Dan perasaan sebal saya yang berbekas cukup lama itu mungkin bagian dari keberhasilan Mbak Okke dalam mengolah konflik dan karakter tokoh dalam novel karyanya.

Selasa, 17 Juni 2014

NEGERI DI UJUNG TANDUK: Tentang Betapa Mengerikannya Intrik Politik

Judul: Negeri di Ujung Tanduk
Penulis: Tere Liye
Penerbit: GPU
Terbit: April 2013
Tebal: 360 Hal

Akhirnya bisa baca Negeri di Ujung Tanduk, setelah lebih dari setahun lalu baca prekuelnya. Yup, Negeri di Ujung tanduk ini adalah sekuel dari novel Negeri Para Bedebah. Sayangnya dulu saya belum punya blog buku, jadi ya nggak bikin resensinya L. Jangankan blog buku, kepikiran buat nulis review setelah baca buku aja blas nggak pernah kepikiran waktu itu.

Negeri di Ujung tanduk masih tetap bercerita tentang si pemuda brilian bernama Thomas – dengan segala idealismenya, Opa dengan segala nasehat tentang kebijaksanaan hidupnya, Kadek dengan kesetiaannya mengabdi dan Rudi dengan kesetiakawanan seorang petarung sejati. Bedanya, konfilk utama Negeri Para Bedebah bercerita tentang Thomas yang ‘memperjuangkan’ bail out untuk Bank Semesta milik Om Liem, Negeri di Ujung Tanduk ini lebih focus ke soal politik sebagai inti dari berbagai konfliknya.
Thomas memutuskan membuka unit politik di peruahaan konsultan miliknya. Dan salah satu yang menjadi klien politik paling pentingnya adalah salah satu kader partai paling berkuasa dengan inisial JD. JD digambarkan sebagai seorang politikus yang punya idealisme – yang membuat Thomas merasa harus membantunya menuju RI 1, apapun tantangannya. JD juga diceritakan pernah menjabat sebagai walikota dan gubernur terbaik.

Namun, seperti kita ketahui, dunia politik adalah dunia yang penuh intrik. Terlebih bagi orang-orang yang punya idealisme dan tekad untuk menegakkan hukum setegak-tegaknya seperti JD, maka akan banyak sekali orang yang merasa kepentingannya terancam dan siap menjegalnya dengan cara apapun. Hal itulah yang terjadi pada JD. Sehari menjelang digelarnya konvensi pemilihan kandidat capres digelar, ia ditangkap dengan tuduhan korupsi megaproyek bernilai milyaran rupiah saat ia masih menjabat sebagai Gubernur. Sedangkan Thomas – konsultan politik handalnya dijebak saat ia berada di Hongkong dengan tuduhan kepemilikan senjata berbahaya dan obat-obatan terlarang. Bermula dari situlah pertarungan-pertarungan di mulai.

Thomas yang akhirnya bisa meloloskan diri dari Hongkong berkat bantuan lawan bertarungnya. Disusul penangkapan yang dikomandoi langsung oleh orang nomor tiga di kepolisian, lalu berhasil meloloskan diri berkat bantuan Rudi, dan akhirnya bisa hadir di acara konvensi pemilihan kandidat capres dan mampu membuat suara untuk JD tetap utuh tak tergoyahkan. Berkat bantuan tenaga IT di kantor konsultannya juga, ia mampu memetakkan nama-nama yang bisa ia jadikan bidak untuk membalik keadaan. Ia mengajukan 3 nama pada KPK – yang merupakan tokoh penting partai yang paling keras menyuarakan agar JD didiskualifikasi dari kandidat capres, terkait kasus korupsi pembangunan gedung olahraga beberapa tahun silam – dengan saksi kunci yang tak terbantahkan. Namun sayang, pihak lawan terlalu kuat untuk dilumpuhkan begitu saja. Dan Thomas harus menghadapi tantangan yang berkalilipat lebih menggentarkan keberanian.

Lalu bagaimana kelanjutannya? Duh, saya terlalu bingung bagaimana menjabarkannya. Lebih baik baca sendiri deh, biar bisa menikmati langsung sensai tegang yang bikin saya sampe kebawa-bawa mimpi dan akhirnya terbangun jam 12 malem untuk menyelesaikan baca novel itu – saking penasarannya. Hihi.
Emm, overall… saya selalu suka sama karyanya Tere Liye (saya sadar ini sudah masuk ranah fanatic, jadi saya kurang bisa objektif). Selalu ada sensasi tersendiri baca karya beliau. Tegang, sesak, haru, lalu lega bercampur dan muncul silih berganti. Yang selalu bikin saya salut sama Tere Liye adalah komitmennya untuk selalu menyisipkan nasehat kebijaksanaan hidup di setiap karyanya – termasuk dalam novel Negeri di Ujung Tanduk ini.

Tapi saya juga harus mengakui, ada sedikit kekecewaan saat membaca novel ini. Saya merasa lebih puas dengan prekuelnya – Negeri Para Bedebah, yang membahas collapsnya Bank Semesta. Menurut saya terasa sekali Tere Liye lebih menguasai teori-teori soal ekonomi dibanding soal politik. Teori-teori politik yang dipaparkan dalam novel ini terlihat seperti ‘amatiran’. Apalagi saat diceritakan Thomas sedang menjadi salah satu pembicara di sebuah acara konverensi politik di luar negeri. Menurut saya yang disampaikan Thomas terlalu sederhana untuk membuat audiens dari berbagai Negara terperangah kagum saat mendengarnya. Polanya juga tertebak sekali dalam novel ini. Menemui kesulitan, lalu mendapat bantuan. Menemui kesulitan baru lagi, lalu mendapat bantuan lagi. Pola itu terjadi berulang-ulang sehingga bikin cerita lumayan tertebak, meskipun darimana datangnya bantuan tetep bikin ngerasa surpraise.

Anyway… Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk ini tetap saja novel yang amat menarik buat saya. Hemat saya, dua-duanya PASTI terinspirasi dari kondisi Negeri kita tercinta ini. Negeri Para Bedebah terinspirasi kasus Bank Century, sedangkan Negeri di Ujung Tanduk terinspirasi dari carut marut kondisi politik Negeri. Itu dugaan saya lho, ya. Saya belum nanya langsung sih ke Bang Tere. Hehe. Yang pasti, baca dua novel itu seperti belajar banyak hal secara nggak langsung. Di Negeri Para Bedebah saya belajar tentang beberapa teori dan kebijakan perbankan, sedangkan di Negeri di Ujung Tanduk saya jadi punya bayangan tentang ‘mengerikannya’ intrik politik itu. Saya juga jadi bertanya-tanya, apa benar intrik politik di negeri kita ini semengerikan itu? Ah, tapi saya berharap ada pemuda secemerlang Thomas di negeri ini :)

Rabu, 28 Mei 2014

Selamanya Cinta: Memaksa Kita Mengenang Indahnya Masa SMA



Pengarang:  Kireina Enno
Penerbit: Bukune
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 302

Selamanya cinta bercerita tentang kisah persahabatan empat orang – Reina, Dinda, Abe dan Teddy yang telah akrab sejak SMA. Konflik-konflik ringan khas anak SMA mewarnai hari-hari mereka. Reina – gadis sederhana berotak encer yang membuat beberapa temannya iri dan berusaha mengusiknya, seperti tak pernah ambil pusing dengan hal itu. Meski saat sudah benar-benar marah, ia tak segan mengambil tindakan dengan mendatangi langsung orang yang mencari gara-gara dengannya. Hal itulah yang membuat Reina terlihat berbeda dan menarik. Dan hal itu pullah yang membuat Abe menaruh perhatian lebih pada Reina. Mulanya ia berusaha memungkiri bahwa perasaannya pada Reina murni sekedar saying sebagai sahabat, tapi akhirnya dia sadar dia keliru. Nyatanya perasaannya terus tumbuh dan tumbuh, meski tak kunjung membuatnya mampu mengungkapkannya. Abe terlalu tidak yakin apakah Reina akan menerima cintanya, dan takut jika ia mengungkapkan perasaanya Reina justru akan menjauh.

Dinda dan Teddy pun bukan tidak menyadari perasaan dua sahabatnya itu. Meski akhirnya justru mereka berdua-lah yang lebih dulu ‘berani’ mengakui bahwa ada perasaan lebih juga diantara mereka. Sayangnya, hubungan lebih dari sahabat antara Dinda dan Teddy membuat mereka harus menerima cobaan persahabatan yang cukup berat. Dan hal itu membuat Reina semakin meyakini bahwa pacaran dengan sahabat sendiri itu seperti inses.

Lalu, apakah Abe akhirnya memutuskan untuk selamanya memendam cintanya pada Reina demi persahabatan mereka? Atau sebaliknya, dia bertekad mengungkapkan perasaannya, tanpa peduli apapun resikonya? Yuk, baca Selamanya Cinta :)
oOo

Secara keseluruhan novel ini menarik, meskipun bisa dibilang temanya cukup klise. Bahasanya ringan dan tidak berbelit-belit sehingga membuat kita sangat mudah memahami alur cerita. Hal itu juga membuat novel ini dibaca saat kita sedang lelah pikiran tapi ingin membaca (mungkin bahasa sederhananya: membaca sebagai hiburan aja).

Selamanya Cinta juga berhasil membuat saya sangat merindukan masa SMA dan sahabat-sahabat saya. Formasi persahabatan Reina, dkk sama persis dengan formasi persahabatan saya. Tapi Alhamdulillahnya, sama sekali tidak ada ‘skandal cinta’ dalam persahabatan kami J. Suasana masa SMA digambarkan dengan sangat baik oleh penulis. Konflik-konflik yang dimunculkan juga cenderung tidak berlebihan dan natural. Tapi kemunculan tokoh Jordy di bab-bab akhir beserta konflik yang ditimbulkannya memberikan kesan ‘sinetron’ sekali.

Yang menarik lagi dari novel ini adalah konsep ceritanya. Selamanya Cinta terdiri dari cerita di dalam cerita. Kisah Reina-Abe-Dinda-Teddy sebenarnya merupakan tokoh rekaan dari Dita yang kemudia ia jadikan sebuah novel – dan novel tersebut menjadi bagian terbesar di novel Selamanya Cinta, untuk menceritakan masa SMA-nya dulu. Sederhanyana, Dita menuliskan cerita masa SMA-nya menjadi sebuah novel. Endingnya. Ya, begitulah… saya bingung menjelaskannya. Lebih baik baca sendiri :D

Emm, oh yaa… yang cukup mengganjal, penggambaran tokoh Reina yang ceritanya penggambaran sosok Dita menurut saya terasa berbeda. Maksudnya, mereka seperti penggambaran atas dua orang yang berbeda. Tapi saya tidak bisa menjelaskan detail perbedaan karakter mereka. Perasaan saya saja juga bisa jadi. Hihi.