Pages

Rabu, 20 Agustus 2014

Bulan Terbelah di Langit Amerika: Mencerahkan, bukan Menghakimi

Judul Buku: Bulan Terbelah di Langit Amerika
Penulis: Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Juni, 2014
Tebal: 344 Halaman

Setelah berpetualang menapaki jejak-jejak islam di beberapa Negara di benua Eropa – Wina, Spanyol, Prancis, lalu Turki – dalam 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum dan Rangga kembali melanjutkan petualangan mereka sebagai Agen Muslim. Kali ini petualangan mereka jauh lebih berat. Selain Negara yang menjadi bidikan adalah Negara Adikuasa – Amerika, misi yang mereka bawa juga sangat tidak main-main. Yaitu mematahkan hipotesa ‘Would the world be better without Islam?’, sehubungan dengan peringatan tragedi 11 Sepetember di Amerika.

Hanum tidak bisa berkata tidak setelah tahu bahwa tema yang hendak di usung Heute ist Wunderbar – surat kabar asal Austria yang menjadi tempatnya bekerja selama ini, demi menaikkan oplah sangat menyudutkan agama yang dicintainya sepenuh jiwa raga. Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam? Hanum bertekad akan mematahkan hipotesa tersebut.

Maka,  dengan kebimbangan yang masih jelas membayang – Hanum mengiyakan perintah Gertrud – atasannya, untuk berangkat ke Amerika. Kebetulan yang amat melegakan bagi Hanum saat itu adalah ketika tahu bahwa suaminya – Rangga, juga harus berangkat ke Amerika untuk melaksanakan mandate dari Reinhard – profesornya, guna mengikuti konferensi tentang strategi bisnis, yang juga akan dihadiri oleh Philiphus Brown – seorang pengusaha kaya raya sekaligus dermawan asal Amerika.

Setelah menapakkan kaki mereka di Negara Adikuasa tersebut, ujian demi ujian tak henti mengepung mereka. Termasuk ujian bagi kekuatan cinta mereka, saat Hanum harus terkepung di tengah-tengah kerusuhan yang terjadi saat ia sedang berusaha menemukan narasumber dari salah satu demonstran penentang pembangunan masjid di dekat area Ground Zero bernama Jones – yang juga merupakan keluarga korban tragedy 11 September. Sedangkan Rangga mau tidak mau harus segera berangkat ke Washington DC agar tidak terlambat melakukan registrasi sebagai peserta konferensi. Hanum sempat terlunta-lunta di belantara New York, sebelum akhirnya takdir langit mempertemukannya dengan Julia Collins – wanita Amerika yang ternyata adalah seorang Muslim, dan juga merupakan istri dari salah satu korban tragedy 11 September.

Di tengah masih serba mengambangnya ide Hanum tentang artikel ‘luar biasa’ yang ia harap dapat memuaskan Gertrud sekaligus mematahkan hipotesa gila tentang ‘Would the world be better without Islam?’, takdir langit kembali seperti menunjukkan kuasa-Nya. Melalui ketelitian Rangga dalam mengamati foto milik suami Julia dan istri Jones, serta mendengarkan kisah titik balik hidup Philipus Brown dengan seksama, jalan cerita mulai tersambung dengan amat menakjubkan. Rahasia-rahasia tersingkap. Pertanyaan-pertanyaan yang berkelindan di benak Julia dan Jones akhirnya menemukan jawabannya. Ya, ternyata Philipus Brown, Abe – suami Julia dan Anna – istri Jones, ada di tempat yang sama dan sempat berjuang bersama di detik-detik mengerikan tragedi 11 September.

Lalu akankah Jones akan tetap membenci Islam karna merasa pemeluk agam tersebutlah yang menyebabkan istrinya pergi begitu cepat? Dan akankah Julia merasa menyesal memutuskan mencintai laki-laki pemeluk agama tersebut? Philipus Brown menjawab itu semua dengan amat mengharukan dalam acara CNN TV Heroes yang digelar di Baird Auditorium Smithsonian Museum.

oOo

Seperti saat selesai membaca 99 Cahaya di Langit Eropa, saya kembali menghela nafas lega setelah sampai di halaman terakhir novel ini. Hanum Salsabila dan Rangga Almahendra kembali mmapu meramu jalan cerita yang mengangkat tema cukup berat bagi sebagian orang menjadi sebuah cerita manis yang sarat pesan.

Bulan Terbelah di Langit Amerika yang mengangkat tema tentang salah satu tragedi kemanusiaan paling suram di muka bumi – 11 September – di mana sebagian orang mengarahkan telunjuknya pada Islam. Novel ini benar-benar memberikan pencerahan yang tidak berat sebelah. Meski penulis ada di pihak Islam, ia tak lantas membela dan membenarkan para pelaku pembajakan pesawat yang menabrakkan diri ke Menara Kembar WTC. Penulis tetap mengecam tindakan tersebut. Penulis juga berusaha menyampaikan bahwa tindakan mereka sama sekali tidak menunjukkan apa yang diajarkan oleh Islam. Bulan Terbelah di Langit Amerika berusaha membuka mata banyak orang bahwa tragedi tersebut sejatinya justru amat menyakiti umat Islam sendiri, terutama umat Islam di Amerika, yang harus rela menerima berbagai diskriminasi sebagai imbas dari tindakan dangkal saudara se-agama mereka.

Sekali lagi, salut untuk Hanum Salsabila dan Rangga Almahendra untuk karya briliannya. Semoga mereka tak henti berkarya, dan semoga semakin banyak karya cemerlang seperti ini di Indonesia. Karya yang mencerahkan, bukan menghakimi. Dengan begitu semoga kedamaian dunia akan menjadi milik kita.

Wishful Wednesday [1]: Sabtu Bersama Bapak


Haloooo hari Rabu.... hihi, telat, ya ngucap halo-nya... harusnya tadi pagi.

Untuk pertama kalinya saya mau ikutan Wishful Wednesday, nih. Sejak dua minggu lalu, ada sebuah novel yang membayang-bayangi tiap langkah saya (saking pengennya0 *halah!*. Yaitu novel: Sabtu Bersama Bapak karya Aditya Mulya.

Nggak tau kenapa penasaran banget sama ni novel. Padahal saya belum pernah baca karya Mas Aditya ini. Emm, mungkin karna judulnya menarik, dan yang paling penting... saya baca banyaaakkk banget puja-puji buat novel ini. Pertama dari Mba Dhila BBI, yang bilang novel ini bagus banget di chatt grup WA. Trus makin pengen waktu baca pendapatnya Mba Primadita tentang Sabtu Bersama Bapak.

"Buku ini saya rekomendasikan untuk setiap lelaki yang (ingin, atau sedang) belajar mendewasakan diri. Seriously, it's not a kind of book that makes you feel less manly but otherwise, it gonna makes you understand how to be a real gentleman.

Buku ini saya rekomendasikan untuk setiap perempuan yang ingin memahami hal-hal yang bermakna dalam kehidupan, namun dari sudut pandang lelaki. Bagaimana pria memandang cinta, perjuangan hidup, dan menjadi berarti bagi orang-orang terpenting di kehidupannya." (Primadita)

Hari minggu kemarin saya udah coba nyari sih ke Gramedia Kudus, tapi stocknya lagi kosong :(. Gramedia Kudus emang kecil sih, nggak terlalu lengkap. Tapi kabar bahagianya, diskon 10% all item - setiap waktu :)))
Trus sama mas-mas pegawainya saya disarankan pesen aja, biar nanti bisa dibawakan dari Gramedia Semarang. Trus saya pesen deh. Kemarin saya dapet sms yang mengabarkan pesenan saya udah datang. Yeyyy!! Tapi tetep aja saya baru bisa ambil paling cepet weekend ini.

Lalu, apa Wish-mu di hari Rabu ini?? :)

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Rabu, 13 Agustus 2014

FATE: Serasa Nonton Drama Korea

 Judul: Fate
Penulis: Orizuka
Penerbit: Authorized Books
Tahun Terbit: 2010
No. ISBN: 978-602-96894-0-2
Fate bercerita tentang dua orang pemuda keturunan Korea, Jang Min Ho dan Jang Min Hwan. Mereka adalah ‘saudara’ satu ayah beda ibu yang akhirnya kembali bertemu setelah dipisahkan secara paksa lewat kejadian yang amat menyakitkan bagi Min Hwan, saat ayah mereka berpulang ke pangkuan-Nya. Min Ho dan Min Hwan mau tidak mau harus tinggal bersama dan menjalankan beberapa persyaratan yang tertera dalam surat wasiat jika ingin menjadi pewaris utama Jang Dae Gwan.

Min Hwan geram. Sebenarnya ia tak pernah menginginkan semua ini, jika bukan karna seseorang yang amat ia sayangi memaksanya untuk berjuang menjadi pewaris. Ia bersikap dingin dan ketus pada semua orang di rumah itu – terutama pada Min Ho – kakaknya yang ia anggap tak pernah memedulikannya. Tapi kehadiran Adena ternyata mampu merubah keadaan serba kaku itu.

Adena adalah anak kepala pelayan di rumah itu, yang sejak Jang Dae Gwan masih hidup sudah dianggap seperti anak perempuannya. Sifatnya yang selalu ceria membuat Min Hwan sedikit demi sedikit mencair – meskipun Dena juga harus bersabar setengah mati menerima berbagai perlakuan menyebalkan dari Min Hwan. Tidak butuh waktu lama, Min Ho dan Min Hwan pun sudah kembali menjadi kakak-beadik yang akrab, setelah beberapa kejadian yang terasa sangat emosional.

Tapi garis cerita takdir memang sering tidak dapat tertebak. Keakraban Min Ho dan Min Hwan harus kembali mengalami cobaan berat saat Min Hwan secara tidak sengaja menemukan ‘tempat penyimpanan rahasia’ yang menjadi titik awal terbukanya jati dirinya yang sebenarnya. Ia memutuskan pulang ke Korea, meski saat itu ia baru saja menyadari bahwa hatinya telah tertaut pada Adena.

Lalu apakah Min Hwan akan bersedia kembali ke Indonesia saat Min Ho dan Dena menjemputnya? Lalu bagaimana dengan Dena – apakah ia akan tetap setia pada perasaannya pada Min Ho yang sudah ia pendam sejak lama, atau memilih Min Hwan ternyata sangat peduli padanya? Yuk, baca Fate : )))

Fate adalah novel karya Orizuka yang pertama saya baca. Bagi saya yang belum pernah tertarik dengan tren “Korea-Koreaan”, novel ini benar-benar terasa berbeda dibanding novel-novel yang baca sebelumnya. Nuansa Korea yang amat kental, dialog-dialognya, adegan-adegannya, benar-benar membuat saya merasa seperti sedang menonton drama Korea. Saat masih di bab-bab awal, jujur saya kurang bisa menikmati karna banyaknya kosakata bahasa Korea membuat saya harus bolak-balik melihat catatan kaki.

Tapi semakin ke belakang, saya semakin terbawa oleh permainan emosi pada masing-masing tokohnya. Min Hwan yang merasa dipermainkan, Min Ho yang juga amat nggak menyangka ayahnya sekian lama menyimpan rahasia sehebat itu, dan Adena yang bimbang tentang perasaanya pada dua tuan mudanya itu.

Novel ini bikin saya jadi tahu beberapa kosakata Korea dan beberapa kebiasaan orang Korea. Meskipun seperti menonton drama Korea, yang konon super-duper romantic, novel ini nggak terlalu berlebihan dalam hal itu, dan menyajikan momen-momen romantic yang nggak bikin eneg. Proporsional. Yang jelas, bagi kalian yang gandrung sama macem-macem yang berbau Korea, saya jamin novel ini sama sekali bukan pilihan yang salah.

Kamis, 17 Juli 2014

Pre Wedding Rush: Lika-Liku Menuju Pernikahan

Pengarang : Okke 'Sepatumerah'
Penerbit : Stiletto Book
Tahun Terbit : Desember 2013
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-7572-21-8

Konon, tiap orang yang mau menikah akan mendapat sebuah ujian. Seringkali mereka – orang yang akan menikah – akan dihadapkan pada sebuah masalah yang benar-benar menguji kemantapan hatinya pada pasangannya serta menguji kesiapan mental untuk memasuki babak baru kehidupan.

Itulah yang dialami Menina – seorang dosen ‘gaul’, beberapa saat setelah dilamar oleh kekasihnya – Dewo, tepat di hari ulang tahunnya. sejak awal Dewo mengutarakan ajakan menikahnya, sebenarnya Menina memang belum benar-benar yakin karna merasa hubungan mereka baru seumur jagung. Tapi toh ia akhirnya mengangguk bersedia, karna tak mungkin menolak laki-laki sebaik Dewo.

Namun hal tersebut pada akhirnya tak serta merta melenyapkan segala keraguan Menina. Ia justru menjadi seperti orang linglung. Mencoba mencari tahu alasan filosofis ‘kenapa dia harus menikah’  dan ‘apakah Dewo orang yang tepat?’.
Di tengah kecamuk kebimbangannya, ia memutuskan untuk curhat melalui email pada Lanang – mantan kekasihnya. Lanang adalah tipe laki-laki petualang yang seringkali memiliki sudut pandang unik pada kehidupan. Dan itu menjadikannya selalu punya ‘ruang istimewa’ di hati Menina.

Menina dan Lanang akhirnya justru memutuskan melewati perjalanan bersama saat Menina hendak pulang ke Surabaya untuk mengurus lamaran resmi, sedang Lanang hendak ke Jogja. Dan perjalanan tersebutlah yang menjadi awal dari semua rangkaian kerumitan hubungan mereka – Menina, Dewo dan Lanang.

Menina yang impulsif menyetujui ajakan Lanang untuk terlebih dahulu jalan-jalan di Jogja, tragedi gempa Jogja yang akhirnya membuat Menina lebih lama bertahan di kota itu, Dewo sangat kecewa dengan keputusan Menina, perkenalan dengan Sigit dan Ayako, lalu terbongkarnya rahasia besar antara Lanang dan Ayako. Kejadian-kejadian tersebut membuat perasaan Menina teraduk-aduk. Hingga akhirnya ia tahu apa yang harus dilakukannya dan ke mana ia harus kembali.

Meski tema serupa sudah beberapa kali saya jumpai di beberapa novel lain, Pre Wedding Rush tetap menyajikan sajian yang tidak membosankan. Bahasanya yang ringan membuat novel ini seperti camilan ringan yang menemani kala penat – meskipun mengusung tema yang sepertinya berat. Andai novel ini lebih dipanjangkan sedikit, saya ingin bagian tentang Lanang-Ayako dan Sigit dibahas agak lebih detail.

Sejak menamatkan novel tersebut hingga saya menulis review, saya masih menyimpan rasa sebal dan marah pada sosok Lanang. Bahkan saya ingin mencakar wajahnya saat rahasianya dengan Ayako terkuak. Dan perasaan sebal saya yang berbekas cukup lama itu mungkin bagian dari keberhasilan Mbak Okke dalam mengolah konflik dan karakter tokoh dalam novel karyanya.

Rabu, 25 Juni 2014

Dare To Say! [1]


Udah beberapa kali sih berkunjung ke postingan Dare To Say-nya temen-temen. Tapi baru kali ini akhirnya memberanikan diri *kayak mau perang aja, yeuph* ikut meme yang diprakarsai oleh Kak Zelie ini.

Oke, saya akan berbagi cerita tentang buku yang ternyata jauh dari harapan saya. Emm, oke mungkin bukan bukunya yang salah, tapi sayanya yang terlampau tinggi berekspektasi. Kenapa berekspektasi terlalu tinggi? Mungkin efek baca buku dari penulis yang sama, yang bener-bener bikin... susah melupakan.

Buku yang jauh dari harapan saya tersebut adalah: Sunset Bersama Rossie.

Saya memang suka sama hampir semua tulisan Tere Liye. Selalu mengaduk-aduk perasaan bagi saya penyuka buku mellow. Tapi yang iniii... nggak tau yaaa... kok saya nggak bisa kebawa sama jalan cerita yang dibuat sebegitu tragisnya. Saya juga sama sekali nggak nangis lho baca novel ini. Beda banget sama pas baca Bidadari-Bidadari Surga yang nangsinya sampe mingsek-mingsek. Padahal kalo baca review2nya SBR di GR tuuhh rata2 pada bagus-bagus bangeeettt.

Menurut saya Sunset bersama Rossie ceritanya terlalu sinetron. Apalagi endingnya... film india sekali -___-.

Tapi tetep suka siiih sama pesan-pesan bijak yang terselip di tiap karya Tere liye :)

Sekian cerita perdana saya tentang buku yang tidak sesuai harapan :)


Kamu ingin ikutan berbagi juga? Silahkan! Caranya gak susah, kok:
  • Follow Book admirer atau tambahkan di blogroll kamu. Bisa juga follow lewat email
  • Buat posting tentang buku yang kamu baca dan ternyata tidak sesuai dugaan, harapan, rating GR, rekomendasi teman, baik lebih bagus atau lebih jelek. Kasih tau apa yang awalnya kamu harapkan (rating awal) dan apa yang kamu dapatkan (rating akhir). Underrated or overrated? :D
  • Oh ya, boleh juga kok kalau kamu mau share pengalaman kamu tentang komen yang muncul soal buku yang udah kamu baca/review. Banyak yang menganggap kamu menilai suatu buku terlalu rendah/tinggi? Silahkan sampaikan pembelaanmu dengan baik :P
  • Masukkan link postingan kamu ke Mr.Linky yang sudah disediakan di akhir post. Kalau mau, boleh tambahkan button ‘Dare to Say’ juga di postinganmu :D
  • Posting dilakukan setiap tanggal 23. Tapi, Mr. Linky akan dibuka sampai dengan tanggal 22 bulan berikutnya. Jadi, waktu posting tetap satu bulan :D
  • Penasaran pengen baca pengakuan para pembaca buku, kan? Rajin-rajin ya, berkunjung ke sesama peserta! ;)

Selasa, 17 Juni 2014

NEGERI DI UJUNG TANDUK: Tentang Betapa Mengerikannya Intrik Politik

Judul: Negeri di Ujung Tanduk
Penulis: Tere Liye
Penerbit: GPU
Terbit: April 2013
Tebal: 360 Hal

Akhirnya bisa baca Negeri di Ujung Tanduk, setelah lebih dari setahun lalu baca prekuelnya. Yup, Negeri di Ujung tanduk ini adalah sekuel dari novel Negeri Para Bedebah. Sayangnya dulu saya belum punya blog buku, jadi ya nggak bikin resensinya L. Jangankan blog buku, kepikiran buat nulis review setelah baca buku aja blas nggak pernah kepikiran waktu itu.

Negeri di Ujung tanduk masih tetap bercerita tentang si pemuda brilian bernama Thomas – dengan segala idealismenya, Opa dengan segala nasehat tentang kebijaksanaan hidupnya, Kadek dengan kesetiaannya mengabdi dan Rudi dengan kesetiakawanan seorang petarung sejati. Bedanya, konfilk utama Negeri Para Bedebah bercerita tentang Thomas yang ‘memperjuangkan’ bail out untuk Bank Semesta milik Om Liem, Negeri di Ujung Tanduk ini lebih focus ke soal politik sebagai inti dari berbagai konfliknya.
Thomas memutuskan membuka unit politik di peruahaan konsultan miliknya. Dan salah satu yang menjadi klien politik paling pentingnya adalah salah satu kader partai paling berkuasa dengan inisial JD. JD digambarkan sebagai seorang politikus yang punya idealisme – yang membuat Thomas merasa harus membantunya menuju RI 1, apapun tantangannya. JD juga diceritakan pernah menjabat sebagai walikota dan gubernur terbaik.

Namun, seperti kita ketahui, dunia politik adalah dunia yang penuh intrik. Terlebih bagi orang-orang yang punya idealisme dan tekad untuk menegakkan hukum setegak-tegaknya seperti JD, maka akan banyak sekali orang yang merasa kepentingannya terancam dan siap menjegalnya dengan cara apapun. Hal itulah yang terjadi pada JD. Sehari menjelang digelarnya konvensi pemilihan kandidat capres digelar, ia ditangkap dengan tuduhan korupsi megaproyek bernilai milyaran rupiah saat ia masih menjabat sebagai Gubernur. Sedangkan Thomas – konsultan politik handalnya dijebak saat ia berada di Hongkong dengan tuduhan kepemilikan senjata berbahaya dan obat-obatan terlarang. Bermula dari situlah pertarungan-pertarungan di mulai.

Thomas yang akhirnya bisa meloloskan diri dari Hongkong berkat bantuan lawan bertarungnya. Disusul penangkapan yang dikomandoi langsung oleh orang nomor tiga di kepolisian, lalu berhasil meloloskan diri berkat bantuan Rudi, dan akhirnya bisa hadir di acara konvensi pemilihan kandidat capres dan mampu membuat suara untuk JD tetap utuh tak tergoyahkan. Berkat bantuan tenaga IT di kantor konsultannya juga, ia mampu memetakkan nama-nama yang bisa ia jadikan bidak untuk membalik keadaan. Ia mengajukan 3 nama pada KPK – yang merupakan tokoh penting partai yang paling keras menyuarakan agar JD didiskualifikasi dari kandidat capres, terkait kasus korupsi pembangunan gedung olahraga beberapa tahun silam – dengan saksi kunci yang tak terbantahkan. Namun sayang, pihak lawan terlalu kuat untuk dilumpuhkan begitu saja. Dan Thomas harus menghadapi tantangan yang berkalilipat lebih menggentarkan keberanian.

Lalu bagaimana kelanjutannya? Duh, saya terlalu bingung bagaimana menjabarkannya. Lebih baik baca sendiri deh, biar bisa menikmati langsung sensai tegang yang bikin saya sampe kebawa-bawa mimpi dan akhirnya terbangun jam 12 malem untuk menyelesaikan baca novel itu – saking penasarannya. Hihi.
Emm, overall… saya selalu suka sama karyanya Tere Liye (saya sadar ini sudah masuk ranah fanatic, jadi saya kurang bisa objektif). Selalu ada sensasi tersendiri baca karya beliau. Tegang, sesak, haru, lalu lega bercampur dan muncul silih berganti. Yang selalu bikin saya salut sama Tere Liye adalah komitmennya untuk selalu menyisipkan nasehat kebijaksanaan hidup di setiap karyanya – termasuk dalam novel Negeri di Ujung Tanduk ini.

Tapi saya juga harus mengakui, ada sedikit kekecewaan saat membaca novel ini. Saya merasa lebih puas dengan prekuelnya – Negeri Para Bedebah, yang membahas collapsnya Bank Semesta. Menurut saya terasa sekali Tere Liye lebih menguasai teori-teori soal ekonomi dibanding soal politik. Teori-teori politik yang dipaparkan dalam novel ini terlihat seperti ‘amatiran’. Apalagi saat diceritakan Thomas sedang menjadi salah satu pembicara di sebuah acara konverensi politik di luar negeri. Menurut saya yang disampaikan Thomas terlalu sederhana untuk membuat audiens dari berbagai Negara terperangah kagum saat mendengarnya. Polanya juga tertebak sekali dalam novel ini. Menemui kesulitan, lalu mendapat bantuan. Menemui kesulitan baru lagi, lalu mendapat bantuan lagi. Pola itu terjadi berulang-ulang sehingga bikin cerita lumayan tertebak, meskipun darimana datangnya bantuan tetep bikin ngerasa surpraise.

Anyway… Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk ini tetap saja novel yang amat menarik buat saya. Hemat saya, dua-duanya PASTI terinspirasi dari kondisi Negeri kita tercinta ini. Negeri Para Bedebah terinspirasi kasus Bank Century, sedangkan Negeri di Ujung Tanduk terinspirasi dari carut marut kondisi politik Negeri. Itu dugaan saya lho, ya. Saya belum nanya langsung sih ke Bang Tere. Hehe. Yang pasti, baca dua novel itu seperti belajar banyak hal secara nggak langsung. Di Negeri Para Bedebah saya belajar tentang beberapa teori dan kebijakan perbankan, sedangkan di Negeri di Ujung Tanduk saya jadi punya bayangan tentang ‘mengerikannya’ intrik politik itu. Saya juga jadi bertanya-tanya, apa benar intrik politik di negeri kita ini semengerikan itu? Ah, tapi saya berharap ada pemuda secemerlang Thomas di negeri ini :)

Rabu, 28 Mei 2014

Selamanya Cinta: Memaksa Kita Mengenang Indahnya Masa SMA



Pengarang:  Kireina Enno
Penerbit: Bukune
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 302

Selamanya cinta bercerita tentang kisah persahabatan empat orang – Reina, Dinda, Abe dan Teddy yang telah akrab sejak SMA. Konflik-konflik ringan khas anak SMA mewarnai hari-hari mereka. Reina – gadis sederhana berotak encer yang membuat beberapa temannya iri dan berusaha mengusiknya, seperti tak pernah ambil pusing dengan hal itu. Meski saat sudah benar-benar marah, ia tak segan mengambil tindakan dengan mendatangi langsung orang yang mencari gara-gara dengannya. Hal itulah yang membuat Reina terlihat berbeda dan menarik. Dan hal itu pullah yang membuat Abe menaruh perhatian lebih pada Reina. Mulanya ia berusaha memungkiri bahwa perasaannya pada Reina murni sekedar saying sebagai sahabat, tapi akhirnya dia sadar dia keliru. Nyatanya perasaannya terus tumbuh dan tumbuh, meski tak kunjung membuatnya mampu mengungkapkannya. Abe terlalu tidak yakin apakah Reina akan menerima cintanya, dan takut jika ia mengungkapkan perasaanya Reina justru akan menjauh.

Dinda dan Teddy pun bukan tidak menyadari perasaan dua sahabatnya itu. Meski akhirnya justru mereka berdua-lah yang lebih dulu ‘berani’ mengakui bahwa ada perasaan lebih juga diantara mereka. Sayangnya, hubungan lebih dari sahabat antara Dinda dan Teddy membuat mereka harus menerima cobaan persahabatan yang cukup berat. Dan hal itu membuat Reina semakin meyakini bahwa pacaran dengan sahabat sendiri itu seperti inses.

Lalu, apakah Abe akhirnya memutuskan untuk selamanya memendam cintanya pada Reina demi persahabatan mereka? Atau sebaliknya, dia bertekad mengungkapkan perasaannya, tanpa peduli apapun resikonya? Yuk, baca Selamanya Cinta :)
oOo

Secara keseluruhan novel ini menarik, meskipun bisa dibilang temanya cukup klise. Bahasanya ringan dan tidak berbelit-belit sehingga membuat kita sangat mudah memahami alur cerita. Hal itu juga membuat novel ini dibaca saat kita sedang lelah pikiran tapi ingin membaca (mungkin bahasa sederhananya: membaca sebagai hiburan aja).

Selamanya Cinta juga berhasil membuat saya sangat merindukan masa SMA dan sahabat-sahabat saya. Formasi persahabatan Reina, dkk sama persis dengan formasi persahabatan saya. Tapi Alhamdulillahnya, sama sekali tidak ada ‘skandal cinta’ dalam persahabatan kami J. Suasana masa SMA digambarkan dengan sangat baik oleh penulis. Konflik-konflik yang dimunculkan juga cenderung tidak berlebihan dan natural. Tapi kemunculan tokoh Jordy di bab-bab akhir beserta konflik yang ditimbulkannya memberikan kesan ‘sinetron’ sekali.

Yang menarik lagi dari novel ini adalah konsep ceritanya. Selamanya Cinta terdiri dari cerita di dalam cerita. Kisah Reina-Abe-Dinda-Teddy sebenarnya merupakan tokoh rekaan dari Dita yang kemudia ia jadikan sebuah novel – dan novel tersebut menjadi bagian terbesar di novel Selamanya Cinta, untuk menceritakan masa SMA-nya dulu. Sederhanyana, Dita menuliskan cerita masa SMA-nya menjadi sebuah novel. Endingnya. Ya, begitulah… saya bingung menjelaskannya. Lebih baik baca sendiri :D

Emm, oh yaa… yang cukup mengganjal, penggambaran tokoh Reina yang ceritanya penggambaran sosok Dita menurut saya terasa berbeda. Maksudnya, mereka seperti penggambaran atas dua orang yang berbeda. Tapi saya tidak bisa menjelaskan detail perbedaan karakter mereka. Perasaan saya saja juga bisa jadi. Hihi.