Pages

Selasa, 23 September 2014

Sabtu Bersama Bapak: Pelajaran Tentang Parenting dan Keluarga Dalam Sebuah Novel

 Judul: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2014
No. ISBN: (13) 978-979-780-721-4

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Kata-kata tersebut tertulis di cover belakang novel Sabtu Bersama Bapak karya Mas Adhitya Mulya. Ini karya beliau yang pertama say abaca, dan wow… saya langsung dibuat terpesona. Kata-kata di atas sebenarnya sudah sangat menggambarkan tentang keseluruhan isi novel ini.

Novel ini bercerita tentang keluarga Garnida, yang terdiri dari Pak Gunawan Garnida dan Ibu Itje – istrinya, dan kedua putra mereka – Satya Garnida dan Cakra Granida. Satya dan Cakra masih berumur delapan dan lima tahun saat harus menerima dengan lapang dada garis takdir mereka yang akan tumbuh tanpa sosok bapak di samping mereka. Tapi mereka beruntung karna memiliki bapak luar biasa seperti Pak Gunawan. Pak Gunawan yang telah lama menerima sinyal batas umurnya sendiri, telah menyiapkan semuanya dengan baik. Yang dengan itu ia akan tetap bisa menemani setiap langkah putranya dalam memahami hidup, meski jiwanya telah hidup di alam berbeda. Sebuah video.


Hari terus bergulir, Satya dan Cakra telah tumbuh dewasa. Satya telah memiliki keluarga dengan tiga putra dan tinggal di Denmark. Sedangkan Satya sudah memiliki posisi yang cukup mumpuni untuk usianya di sebuah lembaga perbankan. Tapi sayangnya Cakra masih tunacinta.

Karna kesibukannya bekerja di perusahaan minyak, Satya sudah jarang sekali menonton video bapaknya. Tapi email Rissaa – istrinya, yang melarangnya pulang sebelum ia ‘berubah’ menjadi Satya yang lebih baik membuatnya merasa harus kembali belajar pada bapaknya melalui video-video itu.

Sedang Cakra? Aahh. Perjalanan cintanya cukup tragis. Cinta pada pandangan pertamanya pada salah satu karyawati baru bernama Ayu cukup berliku, hingga akhirnya membuat Bu Itje harus turun tangan membantu. Yang saya suka, perjalanan cinta Cakra tetap terasa berliku, tanpa didramatisir bak sinetron Indonesia. Hehehe. Sisi humoris novel ini hampir semuanya terletak pada bagian cerita tentang pencarian cinta Cakra.



Secara keseluruhan, hal paling menonjol dan menarik dari novel ini adalah, terkemasnya materi ‘berat’ tentang parenting dan keluarga menjadi sebuah bacaan renyah dan sama sekali tidak membosankan. Ada pesan di hampir seluruh kalimatnya, tapi tidak membuat pembaca merasa digurui. Ahh, rasanya saya tidak bisa mendeskripsikan kelebihan buku ini dengan baik. Jadi, lebih baik, silahkan membacanya sendiri :)

Karna saya gak bisa menceritakan dg baik, jadi saya selipin foto2 bagian yang saya suka. nggak cuma ini sih sebenernya. Ini cuma beberapa diantaranya :)

Pelajaran mendalam yang saya ambil ketika membaca novel ini adalah, betapa sepertinya banyak lelaki yang memutuskan menikah tanpa kesadaran penuh bahwa setelahnya, ia bertanggungjawab atas dunia dan akhirat istri dan anak-anaknya kelak. Dan mereka harusnya belajar dari Pak Gunawan. Pernikahan sama sekali nggak cukup jika hanya berbekal cinta. Betapa banyak pula seorang wanita yang mengiyakan ajakan menikah dari seorang lelaki, tanpa kesiapan utuh bahwa setelahnya ia wajib mempersembahkan sebaik-baik bakti untuk suaminya, serta sesempurna-sempurna kasih untuk anak-anaknya. Seorang ibu harusnya nggak pernah terpikir balasan apa yang akan anaknya berikan, melainkan terus-menerus berpikir bagaimana cara mencurahkan kasih. Dan mereka (termasuk saya), harusnya belajar dari sosok Ibu Itje.

Yang jelas, saya merekomendasikan novel ini untuk semua laki-laki. Yang tengah mencari cinta, yang baru hendak menikah, yang sebentar lagi menjadi ayah, atau yang sudah menjadi suami dan ayah tapi merasa belum menjadi suami dan ayah yang cukup baik untuk istri dan anaknya. Saya merekomendasikan novel ini untuk para wanita yang ingin belajar menjadi perhiasan terindah di dunia dan akhirat – bagi suami dan anak-anaknya kelak :)

Selasa, 16 September 2014

(Bukan) Salah Waktu: Tidak Ada Yang Salah, Kecuali Masa Lalu

”Tahukah kau, Sayang…
Aku mencintaimu lebih dari apa pun. Aku rela kehilangan segalanya, kecuali kamu. Aku sanggup melepas duniaku demi dunia kita bersama.
Namun, ketika waktu bergulir tanpa bisa dibendung, ketika kenyataan memaksa untuk dipahami, ketika kesalahn memohon dimaafkan, kurasa aku tak sanggup, Sayang…
Entahlah, siapa yang harus memahami dan mengalah. Mungkin aku butuh seribu cara untuk mengobati luka hati ini”
Judul : (Bukan) Salah Waktu
Penulis : Nastiti Denny
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2013
Halaman : viii + 24

Sekar – tokoh utama dalam novel ini – akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dan beralih profesi menjadi full-time wife, seperti yang sekrang ini diidamkannya. Meski Prabu – suaminya – orangtuanya, bahkan mertuanya pun tidak benar-benar memahami apa alasan Sekar meninggalkan kariernya yang sudah cukup baik, toh mereka tetap mendukung. Tapi dukungan itu tak lantas menjadikan Sekar bisa dengan mudah menyesuaikan diri dengan perubahan total fungsi diri di rumah.

Saat masih tertatih menyesuaikan diri dengan berbagai jadwal baru sebagai ibu rumah tangga, Sekar harus dihadapkan dengan tantangan yang lain. ia yang ternyata punya trauma masa kecil dan masih menyimpan rapi sebuah rahasia dari suaminya sendiri, harus berusaha menguatkan hati ketika rahasia itu perlahan mulai menyembul ke permukaan.

Namun drama kehidupan memang seringkali tak teraba akal. Saat Sekar tengah menyiapkan segenap mentalnya untuk menghadapi 'serangan' Prabu yang mulai mengendus rahasia hidupnya, justru harus menerima pukulan telak saat ia harus mendengar tentang masa lalu suaminya yang sama sekali tidak pernah ia duga. Prabu yang ia kenal sebagai laki-laki santun dan sangat menyayanginya ternyata telah memiliki seorang putra dari wanita masa lalunya bernama Larasati.

Diam-diam Sekar mencari tahu. Lalu memutuskan menenangkan diri bersama ibunya -- yang tanpa ia sadari selama ini sering ia abaikan dan amat merindukannya. Sedangkan Prabu tenggelam dalam penyesalan dan dilema. Ia ingin tetap bersama Sekar, tapi ia juga tak mungkin meninggalkan putranya setelah tahu tentang keadaan yang sebenarnya.

Lalu apakah Sekar akan berlapang dada menerima Prabu dengan masa lalunya? Silahkan menikmati sendiri alur cerita novel (Bukan) Salah Waktu ini di sela-sela waktu senggang anda :)

Secara keseluruhan saya suka dengan novel ini. Tidak banyak typo, bahasanya mengalir dan ringan, serta tidak terlalu banyak dramatisasi bak sinetron. Meskipun novel ini mengangkat konflik rumah tangga sebagai tema utama, tapi saya tidak menemui pertengkaran dimana sepasang suami-istri yang sedang bertengkat saling berteriak dan marah-marah. Sosok Sekar terkesan anggun menghadapi badai rumah tangga yang menerpanya. Ia tidak sedikitpun mencaci Prabu meski kisah masa lalunya terbilang cukup sebagai alasan untuk sang istri marah besar pada suaminya. Begitu juga Prabu. Ia tampak tenang, tapi bukan tak berusaha.

So, Saya pikir novel ini cukup patut direkomendasikan sebagai teman bacaan di sore hari sembari menikmati secangkir teh hangat dan sepotong kue. Selamat membaca :)

Kamis, 11 September 2014

NOTES FROM QATAR 2: Honest, Humble, Helpful


 Judul: notes From Qatar 2
Penulis: Muhammad Assad
No. ISBN: 9786020018 (ISBN13: 9786020018331)
Penerbit: Elex Media Komputindo

Saya membeli buku ini di Gramedia Kudus tanggal 25 Agustus 2013 – dan baru berhasil saya tamatkan pertengahan 2014. Haha. Bahkan sebelum sempat say abaca, buku ini harus mengalami nasib tragis: kebocoran!!! Hiks.

Penasaran sama buku ini sejak Mas Assad datang sebagai bintang tamu di acaranya Ustadz Yusuf Mansur – kalo nggak salah pas bulan Ramadhan. Dan bener sih, buku ini menurut saya pantas menjadi best seller – di luar endorsement-nya yang dari tokoh-tokoh top Indonesia. Yah, meskipun saya sempet males lanjutin baca nih buku gegara Mas Assad nikah. Yup, saya patah hati. haha. #Apasih! #Abaikan

Sebagai buku non-fiksi, buku ini termasuk tidak membosankan menurut saya. Nggak terkesan seperti membaca textbook kuliah yang bikin kepala mumet. Hehe. Karna selain memaparkan teori-teori, Mas Assad juga menyelinginya dengan cerita-cerita ringan tentang dirinya – yang di dalamnya tersirat pengaplikasian dari teori yang sebelumnya ia paparkan.

Gegara kebocoran, bukunya jadi udah jelek banget T.T

Notes From Qatar 2 ini punya tiga kata yang menjadi garis besar dari seluruh pembahasan. Honest, Humble, Helpful.  Selain itu juga diselipkan kisah nyata kiriman para pembaca buku ini yang merasakan langsung ‘keajaiban sedekah’ yang ‘virus’-nya disebarkan Mas Assad lewat buku NFQ 1 (sayang saya justru belum baca). Banyak sekali kisah yang sangat menginspirasi di situ – tak terkecuali kisah-kisahnya Mas Assad sendiri. Mas Assad banyak menyelipkan hadist dan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu membahasnya dengan bahasa yang menurut saya bisa diterima semua kalangan – termasuk yang mungkin masih awam soal agama. Jadi sepertinya, yang biasanya enggan baca buku keislaman karna bikin ngantuk dan mumet, akan merasa asyik baca buku ini.

Salah satu yang saya rasa paling menginspirasi adalah tentang kebiasaan Mas Assad bersedekah setiap hari – sebelum memulai aktivitasnya. Pasti banyak banget, kan, yang ngrasa kesulitan dalam berbagai hal kalo harus bersedekah setiap hari? Entah bingung mau di kasih ke siapa, nggak sempet karna saking sibuknya, atau merasa sayang sama uang yang kita punya. Nah, Mas Assad ternyata menyiasati hal tersebut dengan cara menyiapkan sebuah tempat di depan pintu yang ia gunakan untuk naruh uang tiap mau keluar beraktivitas (kayak kotak sedekah gitu kali, ya!), lalu uang tersebut akan ia salurkan pada yang membutuhkan sebulan sekali. Menurut saya cara tersebut sangat efektif dan patut dicontoh. Selain akan lebih terasa manfaatnya jika uang kita donasikan setelah jumlahnya terkumpul cukup banyak, kitanya juga jadi nggak begitu terasa ‘sayang’ karna nggak langsung keluarin jedeerrr banyak buat sedekah. Emm, ini cocok buat yang masih latihan kayak saya kali, ya. Beda lah sama yang udah jagoan sedekah. Hehe

Mas Assad juga menceritakan tentang pengalamannya menjadi salah satu peserta dalam G20 Youth Summit 2011 sebagai wakil dari Indonesia bersama 5 orang delegasi lainnya. G20 kali itu diselenggarakan di Paris. Dalam G20 ini, setiap Negara anggota G20 mengirimkan 6 delegasi mudanya untuk berkumpul  dan menegosiasikan isu-isu penting yang nanti hasil akhirnya dalam bentuk communiqué dan diserahkan kepada Presiden Perancis (karna saat itu diselenggarakan di Perancis) – Nikolas Sarkozy.

Hal menarik lainnya yang Mas Assad dalam buku ini adalah betapa ia anak muda yang jaringannya sudah keren banget. Ia mengenal baik banyak sekali tokoh keren di Indonesia. Yah, sekali lagi, itu terlihat jelas dari endorsement yang tercetak di sampul belakang buku ini. hehe

Emm, apalagi ya? Banyak banget sih hal menarik dan menginspirasi lainnya. Kalo disuruh menceritakan apa aja isinya, saya nggak sanggup kayaknya. Hehe. Jadi mending, yuk, dibaca sendiri ;)

Rabu, 20 Agustus 2014

Bulan Terbelah di Langit Amerika: Mencerahkan, bukan Menghakimi

Judul Buku: Bulan Terbelah di Langit Amerika
Penulis: Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Juni, 2014
Tebal: 344 Halaman

Setelah berpetualang menapaki jejak-jejak islam di beberapa Negara di benua Eropa – Wina, Spanyol, Prancis, lalu Turki – dalam 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum dan Rangga kembali melanjutkan petualangan mereka sebagai Agen Muslim. Kali ini petualangan mereka jauh lebih berat. Selain Negara yang menjadi bidikan adalah Negara Adikuasa – Amerika, misi yang mereka bawa juga sangat tidak main-main. Yaitu mematahkan hipotesa ‘Would the world be better without Islam?’, sehubungan dengan peringatan tragedi 11 Sepetember di Amerika.

Hanum tidak bisa berkata tidak setelah tahu bahwa tema yang hendak di usung Heute ist Wunderbar – surat kabar asal Austria yang menjadi tempatnya bekerja selama ini, demi menaikkan oplah sangat menyudutkan agama yang dicintainya sepenuh jiwa raga. Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam? Hanum bertekad akan mematahkan hipotesa tersebut.

Maka,  dengan kebimbangan yang masih jelas membayang – Hanum mengiyakan perintah Gertrud – atasannya, untuk berangkat ke Amerika. Kebetulan yang amat melegakan bagi Hanum saat itu adalah ketika tahu bahwa suaminya – Rangga, juga harus berangkat ke Amerika untuk melaksanakan mandate dari Reinhard – profesornya, guna mengikuti konferensi tentang strategi bisnis, yang juga akan dihadiri oleh Philiphus Brown – seorang pengusaha kaya raya sekaligus dermawan asal Amerika.

Setelah menapakkan kaki mereka di Negara Adikuasa tersebut, ujian demi ujian tak henti mengepung mereka. Termasuk ujian bagi kekuatan cinta mereka, saat Hanum harus terkepung di tengah-tengah kerusuhan yang terjadi saat ia sedang berusaha menemukan narasumber dari salah satu demonstran penentang pembangunan masjid di dekat area Ground Zero bernama Jones – yang juga merupakan keluarga korban tragedy 11 September. Sedangkan Rangga mau tidak mau harus segera berangkat ke Washington DC agar tidak terlambat melakukan registrasi sebagai peserta konferensi. Hanum sempat terlunta-lunta di belantara New York, sebelum akhirnya takdir langit mempertemukannya dengan Julia Collins – wanita Amerika yang ternyata adalah seorang Muslim, dan juga merupakan istri dari salah satu korban tragedy 11 September.

Di tengah masih serba mengambangnya ide Hanum tentang artikel ‘luar biasa’ yang ia harap dapat memuaskan Gertrud sekaligus mematahkan hipotesa gila tentang ‘Would the world be better without Islam?’, takdir langit kembali seperti menunjukkan kuasa-Nya. Melalui ketelitian Rangga dalam mengamati foto milik suami Julia dan istri Jones, serta mendengarkan kisah titik balik hidup Philipus Brown dengan seksama, jalan cerita mulai tersambung dengan amat menakjubkan. Rahasia-rahasia tersingkap. Pertanyaan-pertanyaan yang berkelindan di benak Julia dan Jones akhirnya menemukan jawabannya. Ya, ternyata Philipus Brown, Abe – suami Julia dan Anna – istri Jones, ada di tempat yang sama dan sempat berjuang bersama di detik-detik mengerikan tragedi 11 September.

Lalu akankah Jones akan tetap membenci Islam karna merasa pemeluk agam tersebutlah yang menyebabkan istrinya pergi begitu cepat? Dan akankah Julia merasa menyesal memutuskan mencintai laki-laki pemeluk agama tersebut? Philipus Brown menjawab itu semua dengan amat mengharukan dalam acara CNN TV Heroes yang digelar di Baird Auditorium Smithsonian Museum.

oOo

Seperti saat selesai membaca 99 Cahaya di Langit Eropa, saya kembali menghela nafas lega setelah sampai di halaman terakhir novel ini. Hanum Salsabila dan Rangga Almahendra kembali mmapu meramu jalan cerita yang mengangkat tema cukup berat bagi sebagian orang menjadi sebuah cerita manis yang sarat pesan.

Bulan Terbelah di Langit Amerika yang mengangkat tema tentang salah satu tragedi kemanusiaan paling suram di muka bumi – 11 September – di mana sebagian orang mengarahkan telunjuknya pada Islam. Novel ini benar-benar memberikan pencerahan yang tidak berat sebelah. Meski penulis ada di pihak Islam, ia tak lantas membela dan membenarkan para pelaku pembajakan pesawat yang menabrakkan diri ke Menara Kembar WTC. Penulis tetap mengecam tindakan tersebut. Penulis juga berusaha menyampaikan bahwa tindakan mereka sama sekali tidak menunjukkan apa yang diajarkan oleh Islam. Bulan Terbelah di Langit Amerika berusaha membuka mata banyak orang bahwa tragedi tersebut sejatinya justru amat menyakiti umat Islam sendiri, terutama umat Islam di Amerika, yang harus rela menerima berbagai diskriminasi sebagai imbas dari tindakan dangkal saudara se-agama mereka.

Sekali lagi, salut untuk Hanum Salsabila dan Rangga Almahendra untuk karya briliannya. Semoga mereka tak henti berkarya, dan semoga semakin banyak karya cemerlang seperti ini di Indonesia. Karya yang mencerahkan, bukan menghakimi. Dengan begitu semoga kedamaian dunia akan menjadi milik kita.

Wishful Wednesday [1]: Sabtu Bersama Bapak


Haloooo hari Rabu.... hihi, telat, ya ngucap halo-nya... harusnya tadi pagi.

Untuk pertama kalinya saya mau ikutan Wishful Wednesday, nih. Sejak dua minggu lalu, ada sebuah novel yang membayang-bayangi tiap langkah saya (saking pengennya0 *halah!*. Yaitu novel: Sabtu Bersama Bapak karya Aditya Mulya.

Nggak tau kenapa penasaran banget sama ni novel. Padahal saya belum pernah baca karya Mas Aditya ini. Emm, mungkin karna judulnya menarik, dan yang paling penting... saya baca banyaaakkk banget puja-puji buat novel ini. Pertama dari Mba Dhila BBI, yang bilang novel ini bagus banget di chatt grup WA. Trus makin pengen waktu baca pendapatnya Mba Primadita tentang Sabtu Bersama Bapak.

"Buku ini saya rekomendasikan untuk setiap lelaki yang (ingin, atau sedang) belajar mendewasakan diri. Seriously, it's not a kind of book that makes you feel less manly but otherwise, it gonna makes you understand how to be a real gentleman.

Buku ini saya rekomendasikan untuk setiap perempuan yang ingin memahami hal-hal yang bermakna dalam kehidupan, namun dari sudut pandang lelaki. Bagaimana pria memandang cinta, perjuangan hidup, dan menjadi berarti bagi orang-orang terpenting di kehidupannya." (Primadita)

Hari minggu kemarin saya udah coba nyari sih ke Gramedia Kudus, tapi stocknya lagi kosong :(. Gramedia Kudus emang kecil sih, nggak terlalu lengkap. Tapi kabar bahagianya, diskon 10% all item - setiap waktu :)))
Trus sama mas-mas pegawainya saya disarankan pesen aja, biar nanti bisa dibawakan dari Gramedia Semarang. Trus saya pesen deh. Kemarin saya dapet sms yang mengabarkan pesenan saya udah datang. Yeyyy!! Tapi tetep aja saya baru bisa ambil paling cepet weekend ini.

Lalu, apa Wish-mu di hari Rabu ini?? :)

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Rabu, 13 Agustus 2014

FATE: Serasa Nonton Drama Korea

 Judul: Fate
Penulis: Orizuka
Penerbit: Authorized Books
Tahun Terbit: 2010
No. ISBN: 978-602-96894-0-2
Fate bercerita tentang dua orang pemuda keturunan Korea, Jang Min Ho dan Jang Min Hwan. Mereka adalah ‘saudara’ satu ayah beda ibu yang akhirnya kembali bertemu setelah dipisahkan secara paksa lewat kejadian yang amat menyakitkan bagi Min Hwan, saat ayah mereka berpulang ke pangkuan-Nya. Min Ho dan Min Hwan mau tidak mau harus tinggal bersama dan menjalankan beberapa persyaratan yang tertera dalam surat wasiat jika ingin menjadi pewaris utama Jang Dae Gwan.

Min Hwan geram. Sebenarnya ia tak pernah menginginkan semua ini, jika bukan karna seseorang yang amat ia sayangi memaksanya untuk berjuang menjadi pewaris. Ia bersikap dingin dan ketus pada semua orang di rumah itu – terutama pada Min Ho – kakaknya yang ia anggap tak pernah memedulikannya. Tapi kehadiran Adena ternyata mampu merubah keadaan serba kaku itu.

Adena adalah anak kepala pelayan di rumah itu, yang sejak Jang Dae Gwan masih hidup sudah dianggap seperti anak perempuannya. Sifatnya yang selalu ceria membuat Min Hwan sedikit demi sedikit mencair – meskipun Dena juga harus bersabar setengah mati menerima berbagai perlakuan menyebalkan dari Min Hwan. Tidak butuh waktu lama, Min Ho dan Min Hwan pun sudah kembali menjadi kakak-beadik yang akrab, setelah beberapa kejadian yang terasa sangat emosional.

Tapi garis cerita takdir memang sering tidak dapat tertebak. Keakraban Min Ho dan Min Hwan harus kembali mengalami cobaan berat saat Min Hwan secara tidak sengaja menemukan ‘tempat penyimpanan rahasia’ yang menjadi titik awal terbukanya jati dirinya yang sebenarnya. Ia memutuskan pulang ke Korea, meski saat itu ia baru saja menyadari bahwa hatinya telah tertaut pada Adena.

Lalu apakah Min Hwan akan bersedia kembali ke Indonesia saat Min Ho dan Dena menjemputnya? Lalu bagaimana dengan Dena – apakah ia akan tetap setia pada perasaannya pada Min Ho yang sudah ia pendam sejak lama, atau memilih Min Hwan ternyata sangat peduli padanya? Yuk, baca Fate : )))

Fate adalah novel karya Orizuka yang pertama saya baca. Bagi saya yang belum pernah tertarik dengan tren “Korea-Koreaan”, novel ini benar-benar terasa berbeda dibanding novel-novel yang baca sebelumnya. Nuansa Korea yang amat kental, dialog-dialognya, adegan-adegannya, benar-benar membuat saya merasa seperti sedang menonton drama Korea. Saat masih di bab-bab awal, jujur saya kurang bisa menikmati karna banyaknya kosakata bahasa Korea membuat saya harus bolak-balik melihat catatan kaki.

Tapi semakin ke belakang, saya semakin terbawa oleh permainan emosi pada masing-masing tokohnya. Min Hwan yang merasa dipermainkan, Min Ho yang juga amat nggak menyangka ayahnya sekian lama menyimpan rahasia sehebat itu, dan Adena yang bimbang tentang perasaanya pada dua tuan mudanya itu.

Novel ini bikin saya jadi tahu beberapa kosakata Korea dan beberapa kebiasaan orang Korea. Meskipun seperti menonton drama Korea, yang konon super-duper romantic, novel ini nggak terlalu berlebihan dalam hal itu, dan menyajikan momen-momen romantic yang nggak bikin eneg. Proporsional. Yang jelas, bagi kalian yang gandrung sama macem-macem yang berbau Korea, saya jamin novel ini sama sekali bukan pilihan yang salah.

Kamis, 17 Juli 2014

Pre Wedding Rush: Lika-Liku Menuju Pernikahan

Pengarang : Okke 'Sepatumerah'
Penerbit : Stiletto Book
Tahun Terbit : Desember 2013
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-7572-21-8

Konon, tiap orang yang mau menikah akan mendapat sebuah ujian. Seringkali mereka – orang yang akan menikah – akan dihadapkan pada sebuah masalah yang benar-benar menguji kemantapan hatinya pada pasangannya serta menguji kesiapan mental untuk memasuki babak baru kehidupan.

Itulah yang dialami Menina – seorang dosen ‘gaul’, beberapa saat setelah dilamar oleh kekasihnya – Dewo, tepat di hari ulang tahunnya. sejak awal Dewo mengutarakan ajakan menikahnya, sebenarnya Menina memang belum benar-benar yakin karna merasa hubungan mereka baru seumur jagung. Tapi toh ia akhirnya mengangguk bersedia, karna tak mungkin menolak laki-laki sebaik Dewo.

Namun hal tersebut pada akhirnya tak serta merta melenyapkan segala keraguan Menina. Ia justru menjadi seperti orang linglung. Mencoba mencari tahu alasan filosofis ‘kenapa dia harus menikah’  dan ‘apakah Dewo orang yang tepat?’.
Di tengah kecamuk kebimbangannya, ia memutuskan untuk curhat melalui email pada Lanang – mantan kekasihnya. Lanang adalah tipe laki-laki petualang yang seringkali memiliki sudut pandang unik pada kehidupan. Dan itu menjadikannya selalu punya ‘ruang istimewa’ di hati Menina.

Menina dan Lanang akhirnya justru memutuskan melewati perjalanan bersama saat Menina hendak pulang ke Surabaya untuk mengurus lamaran resmi, sedang Lanang hendak ke Jogja. Dan perjalanan tersebutlah yang menjadi awal dari semua rangkaian kerumitan hubungan mereka – Menina, Dewo dan Lanang.

Menina yang impulsif menyetujui ajakan Lanang untuk terlebih dahulu jalan-jalan di Jogja, tragedi gempa Jogja yang akhirnya membuat Menina lebih lama bertahan di kota itu, Dewo sangat kecewa dengan keputusan Menina, perkenalan dengan Sigit dan Ayako, lalu terbongkarnya rahasia besar antara Lanang dan Ayako. Kejadian-kejadian tersebut membuat perasaan Menina teraduk-aduk. Hingga akhirnya ia tahu apa yang harus dilakukannya dan ke mana ia harus kembali.

Meski tema serupa sudah beberapa kali saya jumpai di beberapa novel lain, Pre Wedding Rush tetap menyajikan sajian yang tidak membosankan. Bahasanya yang ringan membuat novel ini seperti camilan ringan yang menemani kala penat – meskipun mengusung tema yang sepertinya berat. Andai novel ini lebih dipanjangkan sedikit, saya ingin bagian tentang Lanang-Ayako dan Sigit dibahas agak lebih detail.

Sejak menamatkan novel tersebut hingga saya menulis review, saya masih menyimpan rasa sebal dan marah pada sosok Lanang. Bahkan saya ingin mencakar wajahnya saat rahasianya dengan Ayako terkuak. Dan perasaan sebal saya yang berbekas cukup lama itu mungkin bagian dari keberhasilan Mbak Okke dalam mengolah konflik dan karakter tokoh dalam novel karyanya.