Pages

Tampilkan postingan dengan label Novel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Islami. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 April 2015

Api Tauhid: Novel Sejarah Tentang Badiuzzaman Said Nursi

Judul Buku: Api Tauhid
Penulis: Habiburrahman E Shirazy
Penerbit: Republika
ISBN: 978-602-8997-95-9

Setelah cukup lama tidak terdengar debut novelnya setelah keberhasilan dua novel fenomenal yaitu Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, kini Habiburrahman kembali menyuguhkan karyanya. Kali ini Kang Abik mempersembahkan novel berjudul Api Tauhid. Berbeda dengan novel-novel sebelumnya yang garis besar temanya adalah tentang cinta, Api Tauhid ini merupakan novel sejarah sekaligus novel biografi tokoh ulama yang berasal dari Turki, yaitu Said Nursi. Tapi bukan berarti tidak ada bumbu cerita cinta sama sekali.

Adalah Fahmi, seorang mahasiswa asli Jawa Timur yang sedang menimba ilmu di negeri Para Nabi. Ia amat terpukul mendengar permohonan dari ayah mertuanya – Kyai Arselan – untuk menceraikan putrinya secara tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas. Untuk mengobati kepedihan hatinya, Fahmi memutuskan untuk I’tikaf di Masjid Nabawi selama berhari-hari dan bertekad untuk tidak akan membatalkan I’tikafnya sebelum ia menamatkan hafalan Qur’annya sebanyak 40 kali. Apa yang dikhawatirkan teman-temannya – Ali dan Hamzah – terjadi. Fahmi jatuh sakit.

Setelah kondisi kesehatannya membaik, Fahmi memutuskan untuk ikut Hamzah pulang ke Turki. Ia ingin mencari pencerahan jiwa dengan melihat negeri penuh sejarah itu, sekaligus ingin napak tilas perjalanan ulama Said Nursi. Dari situ, sejarah tentang perjalanan hidup Said Nursi pun terpapar dengan amat lengkap – sejak beliau masih kanak-kanak hingga menjadi tokoh paling dikenal di Turki.

Said Nursi adalah seorang ulama yang mendapat gelar Badiuzzaman atau keajaiban zaman. Ia telah hafal banyak sekali kitab saat usianya masih amat belia. Ia juga menjadi tokoh yang menentang keras sistem sekularisme di Turki. Selain sejarah tentang perjalanan hidup Said Nursi, dalam novel ini juga banyak sekali ternukil pesan-pesan kebaikan dari beliau.

Karena Api Tauhid merupakan novel sejarah, maka tentu saja membaca novel ini akan sangat berbeda rasanya dengan saat membaca novel Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Dalam Api Tauhid, kisah cinta antara Fahmi dan Nuzula hanya sebatas ‘hiasan’ untuk memperindah novel. Namun sayangnya, novel ini sepertinya digarap dengan kurang maksimal. Ada cukup banyak typo/salah ketik. Salah satunya di halaman 82. Dalam narasi novel disebutkan bahwa lahirnya Nabi Muhammad SAW bertepatan dengan tanggal 22 April, sedangkan pada catatan kaki ditulis 20 April. Lalu mana yang benar? Kisah cinta antara Fahmi dan Nuzula juga terasa agak hambar dan terkesan dipaksakan.

Untuk Api Tauhid, 3 bintang saja dari 5 bintang. Sepertinya saya belum bisa benar-benar move on dari catatan cemerlang Kang Abik lewat Ketika Cinta Bertasbihnya. Jadi – jujur – novel Api Tauhid ini menjadi obat rindu pada tulisan beliau yang agak sedikit mengecewakan.

Rabu, 21 Januari 2015

The Dream In Taipe City

 
 Judul: The Dream In Taipe City
Penulis: Mell Shaliha
Penerbit: Indiva Media Kreasi
ISBN: 9786021614167
 
Ella Tan adalah seorang gadis blasteran Jawa-Taiwan yang berjuang untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas Nasional Taiwan seperti impiannya. Sesuai perjanjian kedua orangtuanya yang sudah berpisah, Ella Tan harus kembali tinggal dengan sang ayah yang asli orang Taiwan setelah dewasa. Meski demi memenuhi itu, Ella harus berlapangdada menerima perlakuan tidak menyenangkan dari istri ayahnya yang baru dan beberapa saudara tirinya. Tapi Ella lega ketika akhirnya ayahnya mengijinkannya tinggal di apartemen, jadi ia tak  harus setiap hari berhadapan dengan orang-orang yang selalu menguji kesabarannya. Dan saat itulah Ella seperti baru menyadari betapa ayahnya banar-benar menyayanginya. Hal itu tercermin dari betapa totalnya ayahnya menyiapkan segalaa kebutuhan Ella di tempat tinggal Ella yang baru, melengkapi apartemen Ella dengan berbagai macam perlengkapan yang sama sekali tidak Ella sangka sebelumnya.

Ella juga sangat bersyukur ketika ia akhirnya dinyatakan lulus seleksi masuk universitas impiannya, meski sebelumnya ia harus menghadapi rintangan dari ibu tirinya yang merampas surat pengumuman kelulusan Ella yang dikirim oleh universitas ke alamat rumah. Tapi semua itu bisa dilaluinya karna ia sudah bertemu dengan teman-teman baru yang amat baik. Mereka adalah para mahasiswa Universitas Nasional Taiwan yang berasal dari Indonesia. Saat berada di Negara lain yang jauh dari tanah air, bertemu dengan teman setanah air – meski baru kenal, sudah terasa seperti saudara. Begitupun Ella dan teman-temana barunya tersebut.

Selain mendapatkan teman baru yang sama-sama berasal dari Indonesia, Ella juga mendapatkan teman baru yang berasal dari korea bernama Kim Hae Yo – biasa dipanggil dengan Hae Yo. Hae Yo adalah seorang laki-laki yang supel, agak banyak bicara, dan asyik bagi Ella. Ia tidak sengaja berkenalan dengan Hae Yo saat mereka sama-sama menghadapi masalah mengenai surat pengumuman lolos seleksi masuk. Sejak saat itu, Hae Yo meminta Ella untuk menjadi sahabatnya.

Indahnya persahabatan antara Hae Yo dan Ella tak urung mengalami riak. Saat Ella diterpa perasaan yang tak menentu pada sang dosen muda di NTU     bernama Marcel Yo atau biasa disapa Mr. Yo – yang sudah beberapa kali membantunya. Sayangnya, Ella harus kecewa ketika tahu bahwa  ternyata Mr. Yo sudah memiliki kekasih bernama Miss Wang – yang ternyata juga merupakan wanita yang amat dikagumi Hae Yo.

Sedikit demi sedikit, perasaan Hae Yo pada Ella, dan sebaliknya – perasaan Ella pada Hae Yo, mulai bermetamorfosa justru ketika Hae Yo harus cuti dari kuliahnya untuk pulang ke Korea karna ayahnya sakit. Tapi Hae Yo berjanji pada Ella melalui sebuah surat bahwa ia akan kembali. Dan saat Hae Yo kembali, semuanya tak lagi sama – terutama antara ia dan Ella.

Kisah cinta yang disajikan dalam novel ini cenderung ringan. Gaya berceritanya pun ringan dan mengalir. Tapi, saya sempat merasa bahwa ada beberapa kemiripan ide cerita novel ini dengan novel First Time In Beijing karya Riawani Elyta. Tapi pesan moral yang tersirat dalam novel ini cukup banyak dan rasanya tidak terkesan menggurui.

Selasa, 13 Januari 2015

RINDU: Kisah Perjalanan Penuh Nasehat Indah


Judul Buku : Rindu

Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika

Cetakan : I, Oktober 2014


Novel pertama yang saya selesaikan di tahun 2015 ini adalah salah satu novel karya penulis idola saya – Tere Liye, yang berjudul Rindu. Konon, novel ini sudah 4 kali cetak ulang padahal baru dua bulan terbit. Wow!


Tere Liye menurut saya salah satu penulis yang amat konsisten pada misinya dalam menulis. Sejauh ini, tidak satu pun karyanya yang tak menyelipkan pesan-pesan kebaikan dan nilai kebijaksanaan hidup.  Salah satunya adalah novel Rindu ini.

Rindu bercerita tentang perjalanan haji yang amat luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena perjalanan haji yang diceritakan di sini bukan perjalanan haji seperti yang saat ini kita lihat, melainkan perjalanan haji yang dilakukan pada tahun 1938. Perjalanan yang memakan waktu yang tidak sebentar – berbulan-bulan. Perjalanan yang tidak menggunakan pesawat terbang dengan berbagai kenyamanan dan fasilitas mewah, melainkan menggunakan kapal uap – mengarungi samudra luas, dengan berbagai keterbatasan. Perjalanan haaji yang dilakukan oleh rakyat Indonesia saat masih berstatus sebagai bangsa terjajah.

Ahmad Karaeng yang merupakan seorang ulama besar pada masa itu turut serta dalam kapal Blitar-Holland yang dikomandoi oleh Kapten Phillips itu, untuk menunaikan rindunya pada tanah suci untuk kesekian kalinya. Ahmad Karaeng yang biasa dipanggil dengan sebutan Gurutta adalah seorang ulama kharismatik dan bijak yang amat dicintai oleh seluruh rakyat Makasar, Gowa dan sekitarnya. Bahkan saking kharismatiknya, para kompeni Belanda yang ditugaskan untuk mengawal kapal Blitar-Holland demi memastikan seluruh penumpang tetap patuh pada pemerintahan Hindia-Belanda, menjadikan Gurutta Ahmad Karaeng sebagai target utama untuk diawasi setiap gerak-geriknya. Peran Gurutta sangat sentral dalam novel ini. Beliau menjadi pemimpin rombongan jamaah haji Blitar-Holland dalam menjalani keseharian di kapal yang tidak hanya memakan waktu satu-dua hari saja. Selain itu, Gurutta juga menjadi orang yang menjawab berbagai pertanyaan tentang hidup yang bergelayut di benak beberapa penumpang.

Salah satu penumpang yang mempunyai pertanyaan besar adalah Daeng Andipati. Daeng Andipati seorang pedagang sukses pada jaman itu. Ia tidak sendirian dalam perjalanan ini, melainkan mengajak serta istrinya, dua putrinya yang amat pintar dan disenangi hampir seluruh penumpang – bernama Anna dan Elsa, serta Ijah – pembantu rumah tangganya. Di mata banyak penumpang, keluarga Daeng Andipati sangat ideal. Ia punya alasan sempurna untuk bahagia. Tapi kenyataannya, Daeng Andipati tidak pernah benar-benar merasa bahagia lantaran hatinya masih di rongrong rasa sakit hati dan dendam pada tingkah laku ayahnya di masa lalu. Bahkan meskipun ayahnya telah meninggal, rasa sakit hati tak sedikitpun berkurang dari hati Daeng Andipati.

Daeng Andipati resah atas perasaan tersebut. Lalu ia bertanya pada Gurutta Ahmad Karaeng, mungkinkah ia menginjakkan kaki di tanah suci dengan membawa kebencian sebesar itu? Bagaimana menghilangkan kebencian yang sebegitu besar dan telah mengendap sekian lama dalam hati? Dengan kalimat-kalimat yang amat bijak, Gurutta pun menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah nasehat yang teramat indah.

Penumpang yang juga membawa pertanyaan besar adalah Bonda Upe – seorang wanita mualaf keturunan. Ia punya masa lalu yang amat kelam, dan nisa di mata masyarakat umum kebanyakan. Ia selalu dihantui ketakutan dan perasaan minder. Ia takut orang-orang akan mencemoohnya jika tahu tentang masa lalunya. Ia juga bertanya-tanya, apakah Allah akan menerima seorang wanita dengan masa lalu nista seperti dirinya di tanah suci? Lagi-lagi Gurutta menjawabnya dengan nasehat yang amat indah – yang paling saya sukai dalam novel ini. Inti nasehat itu ada tiga. Pertama, jangan pernah lari daari kenyataan hidup. Terima dengan lapang dada, dan hadapi. Kedua, jangan pernah resah atas penilaian orang lain, karna orang lain hanyak melihat bagian luarnya saja. Ketiga, selalu berbuat baik, dan berharap semoga perbuatan baik kita menjadi perantara atas ampunan Allah yang Maha Luas. (Hal. 311-315)

Selain Daeng Andipati dan Bonda Upe, masih ada beberapa penumpang lagi yang membawa pertanyaan hidup masing-masing. Bahkan tak terkecuali Gurutta Ahmad Karaeng sendiri. Selain diwarnai banyak pertanyaan tentang hidup, perjalanan kapal Blitar-Holland juga diwarnai banyak rintangan. Diantaranya adalah seorang penyusup kapal yang berusaha membunuh Daeng Andipati – yang ternyata adalah orang yang amat dendam pada ayah Daeng Andipati. Lalu Gurutta Ahmad Karaeng yang ditangkap oleh para Tentara Kompeni dan dimasukkan ke penjara kapal, lantaran mereka menemukan buku yang ditulis oleh Gurutta – yang berjudul “Kemerdekaan Adalah Hak Segala Bangsa” yang dianggap sangat membahayakan pemerintahan Hindia-Belanda. Dan cobaan berikutnya, yang menjadi rintangan paling serius adalah saat Kapal Blitar dibajak oleh Perompak Somalia – yang sempat memancing pertikaian sengit antara para penumpang dan komplotan perompak.

Seperti novel Tere Liye yang lainnya, setelah sampai di halaman terakhir saya  dibuat menghela nafas panjang lalu merasakan perasaan lapang yang unik. Saya seperti mendapatkan vitamin agar lebih bijak menghadapi liku terjal kehidupan. Hanya saja, jujur saja saya sempat dihinggapi rasa jenuh saat membacaanyaa. Pasalnya, sebagian lebih dari isi novel ini menceritakan tentang kehidupan di dalam kapal selama perjalanan. Aktivitas makan di kantin bersama, jamaah di masjid kapal, anak-anak mengaji, anak-anak mengaji dan sekolah, adalah adegan-adegaan yang terus berulang. Meskipun begitu, tetap saja nasehat-nasehat yang ada dalam Novel Rindu ini membuat novel ini sangat layak untuk di baca.