Pages

Rabu, 21 Januari 2015

The Dream In Taipe City

 
 Judul: The Dream In Taipe City
Penulis: Mell Shaliha
Penerbit: Indiva Media Kreasi
ISBN: 9786021614167
 
Ella Tan adalah seorang gadis blasteran Jawa-Taiwan yang berjuang untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas Nasional Taiwan seperti impiannya. Sesuai perjanjian kedua orangtuanya yang sudah berpisah, Ella Tan harus kembali tinggal dengan sang ayah yang asli orang Taiwan setelah dewasa. Meski demi memenuhi itu, Ella harus berlapangdada menerima perlakuan tidak menyenangkan dari istri ayahnya yang baru dan beberapa saudara tirinya. Tapi Ella lega ketika akhirnya ayahnya mengijinkannya tinggal di apartemen, jadi ia tak  harus setiap hari berhadapan dengan orang-orang yang selalu menguji kesabarannya. Dan saat itulah Ella seperti baru menyadari betapa ayahnya banar-benar menyayanginya. Hal itu tercermin dari betapa totalnya ayahnya menyiapkan segalaa kebutuhan Ella di tempat tinggal Ella yang baru, melengkapi apartemen Ella dengan berbagai macam perlengkapan yang sama sekali tidak Ella sangka sebelumnya.

Ella juga sangat bersyukur ketika ia akhirnya dinyatakan lulus seleksi masuk universitas impiannya, meski sebelumnya ia harus menghadapi rintangan dari ibu tirinya yang merampas surat pengumuman kelulusan Ella yang dikirim oleh universitas ke alamat rumah. Tapi semua itu bisa dilaluinya karna ia sudah bertemu dengan teman-teman baru yang amat baik. Mereka adalah para mahasiswa Universitas Nasional Taiwan yang berasal dari Indonesia. Saat berada di Negara lain yang jauh dari tanah air, bertemu dengan teman setanah air – meski baru kenal, sudah terasa seperti saudara. Begitupun Ella dan teman-temana barunya tersebut.

Selain mendapatkan teman baru yang sama-sama berasal dari Indonesia, Ella juga mendapatkan teman baru yang berasal dari korea bernama Kim Hae Yo – biasa dipanggil dengan Hae Yo. Hae Yo adalah seorang laki-laki yang supel, agak banyak bicara, dan asyik bagi Ella. Ia tidak sengaja berkenalan dengan Hae Yo saat mereka sama-sama menghadapi masalah mengenai surat pengumuman lolos seleksi masuk. Sejak saat itu, Hae Yo meminta Ella untuk menjadi sahabatnya.

Indahnya persahabatan antara Hae Yo dan Ella tak urung mengalami riak. Saat Ella diterpa perasaan yang tak menentu pada sang dosen muda di NTU     bernama Marcel Yo atau biasa disapa Mr. Yo – yang sudah beberapa kali membantunya. Sayangnya, Ella harus kecewa ketika tahu bahwa  ternyata Mr. Yo sudah memiliki kekasih bernama Miss Wang – yang ternyata juga merupakan wanita yang amat dikagumi Hae Yo.

Sedikit demi sedikit, perasaan Hae Yo pada Ella, dan sebaliknya – perasaan Ella pada Hae Yo, mulai bermetamorfosa justru ketika Hae Yo harus cuti dari kuliahnya untuk pulang ke Korea karna ayahnya sakit. Tapi Hae Yo berjanji pada Ella melalui sebuah surat bahwa ia akan kembali. Dan saat Hae Yo kembali, semuanya tak lagi sama – terutama antara ia dan Ella.

Kisah cinta yang disajikan dalam novel ini cenderung ringan. Gaya berceritanya pun ringan dan mengalir. Tapi, saya sempat merasa bahwa ada beberapa kemiripan ide cerita novel ini dengan novel First Time In Beijing karya Riawani Elyta. Tapi pesan moral yang tersirat dalam novel ini cukup banyak dan rasanya tidak terkesan menggurui.

Selasa, 13 Januari 2015

RINDU: Kisah Perjalanan Penuh Nasehat Indah


Judul Buku : Rindu

Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika

Cetakan : I, Oktober 2014


Novel pertama yang saya selesaikan di tahun 2015 ini adalah salah satu novel karya penulis idola saya – Tere Liye, yang berjudul Rindu. Konon, novel ini sudah 4 kali cetak ulang padahal baru dua bulan terbit. Wow!


Tere Liye menurut saya salah satu penulis yang amat konsisten pada misinya dalam menulis. Sejauh ini, tidak satu pun karyanya yang tak menyelipkan pesan-pesan kebaikan dan nilai kebijaksanaan hidup.  Salah satunya adalah novel Rindu ini.

Rindu bercerita tentang perjalanan haji yang amat luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena perjalanan haji yang diceritakan di sini bukan perjalanan haji seperti yang saat ini kita lihat, melainkan perjalanan haji yang dilakukan pada tahun 1938. Perjalanan yang memakan waktu yang tidak sebentar – berbulan-bulan. Perjalanan yang tidak menggunakan pesawat terbang dengan berbagai kenyamanan dan fasilitas mewah, melainkan menggunakan kapal uap – mengarungi samudra luas, dengan berbagai keterbatasan. Perjalanan haaji yang dilakukan oleh rakyat Indonesia saat masih berstatus sebagai bangsa terjajah.

Ahmad Karaeng yang merupakan seorang ulama besar pada masa itu turut serta dalam kapal Blitar-Holland yang dikomandoi oleh Kapten Phillips itu, untuk menunaikan rindunya pada tanah suci untuk kesekian kalinya. Ahmad Karaeng yang biasa dipanggil dengan sebutan Gurutta adalah seorang ulama kharismatik dan bijak yang amat dicintai oleh seluruh rakyat Makasar, Gowa dan sekitarnya. Bahkan saking kharismatiknya, para kompeni Belanda yang ditugaskan untuk mengawal kapal Blitar-Holland demi memastikan seluruh penumpang tetap patuh pada pemerintahan Hindia-Belanda, menjadikan Gurutta Ahmad Karaeng sebagai target utama untuk diawasi setiap gerak-geriknya. Peran Gurutta sangat sentral dalam novel ini. Beliau menjadi pemimpin rombongan jamaah haji Blitar-Holland dalam menjalani keseharian di kapal yang tidak hanya memakan waktu satu-dua hari saja. Selain itu, Gurutta juga menjadi orang yang menjawab berbagai pertanyaan tentang hidup yang bergelayut di benak beberapa penumpang.

Salah satu penumpang yang mempunyai pertanyaan besar adalah Daeng Andipati. Daeng Andipati seorang pedagang sukses pada jaman itu. Ia tidak sendirian dalam perjalanan ini, melainkan mengajak serta istrinya, dua putrinya yang amat pintar dan disenangi hampir seluruh penumpang – bernama Anna dan Elsa, serta Ijah – pembantu rumah tangganya. Di mata banyak penumpang, keluarga Daeng Andipati sangat ideal. Ia punya alasan sempurna untuk bahagia. Tapi kenyataannya, Daeng Andipati tidak pernah benar-benar merasa bahagia lantaran hatinya masih di rongrong rasa sakit hati dan dendam pada tingkah laku ayahnya di masa lalu. Bahkan meskipun ayahnya telah meninggal, rasa sakit hati tak sedikitpun berkurang dari hati Daeng Andipati.

Daeng Andipati resah atas perasaan tersebut. Lalu ia bertanya pada Gurutta Ahmad Karaeng, mungkinkah ia menginjakkan kaki di tanah suci dengan membawa kebencian sebesar itu? Bagaimana menghilangkan kebencian yang sebegitu besar dan telah mengendap sekian lama dalam hati? Dengan kalimat-kalimat yang amat bijak, Gurutta pun menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah nasehat yang teramat indah.

Penumpang yang juga membawa pertanyaan besar adalah Bonda Upe – seorang wanita mualaf keturunan. Ia punya masa lalu yang amat kelam, dan nisa di mata masyarakat umum kebanyakan. Ia selalu dihantui ketakutan dan perasaan minder. Ia takut orang-orang akan mencemoohnya jika tahu tentang masa lalunya. Ia juga bertanya-tanya, apakah Allah akan menerima seorang wanita dengan masa lalu nista seperti dirinya di tanah suci? Lagi-lagi Gurutta menjawabnya dengan nasehat yang amat indah – yang paling saya sukai dalam novel ini. Inti nasehat itu ada tiga. Pertama, jangan pernah lari daari kenyataan hidup. Terima dengan lapang dada, dan hadapi. Kedua, jangan pernah resah atas penilaian orang lain, karna orang lain hanyak melihat bagian luarnya saja. Ketiga, selalu berbuat baik, dan berharap semoga perbuatan baik kita menjadi perantara atas ampunan Allah yang Maha Luas. (Hal. 311-315)

Selain Daeng Andipati dan Bonda Upe, masih ada beberapa penumpang lagi yang membawa pertanyaan hidup masing-masing. Bahkan tak terkecuali Gurutta Ahmad Karaeng sendiri. Selain diwarnai banyak pertanyaan tentang hidup, perjalanan kapal Blitar-Holland juga diwarnai banyak rintangan. Diantaranya adalah seorang penyusup kapal yang berusaha membunuh Daeng Andipati – yang ternyata adalah orang yang amat dendam pada ayah Daeng Andipati. Lalu Gurutta Ahmad Karaeng yang ditangkap oleh para Tentara Kompeni dan dimasukkan ke penjara kapal, lantaran mereka menemukan buku yang ditulis oleh Gurutta – yang berjudul “Kemerdekaan Adalah Hak Segala Bangsa” yang dianggap sangat membahayakan pemerintahan Hindia-Belanda. Dan cobaan berikutnya, yang menjadi rintangan paling serius adalah saat Kapal Blitar dibajak oleh Perompak Somalia – yang sempat memancing pertikaian sengit antara para penumpang dan komplotan perompak.

Seperti novel Tere Liye yang lainnya, setelah sampai di halaman terakhir saya  dibuat menghela nafas panjang lalu merasakan perasaan lapang yang unik. Saya seperti mendapatkan vitamin agar lebih bijak menghadapi liku terjal kehidupan. Hanya saja, jujur saja saya sempat dihinggapi rasa jenuh saat membacaanyaa. Pasalnya, sebagian lebih dari isi novel ini menceritakan tentang kehidupan di dalam kapal selama perjalanan. Aktivitas makan di kantin bersama, jamaah di masjid kapal, anak-anak mengaji, anak-anak mengaji dan sekolah, adalah adegan-adegaan yang terus berulang. Meskipun begitu, tetap saja nasehat-nasehat yang ada dalam Novel Rindu ini membuat novel ini sangat layak untuk di baca.

Rabu, 31 Desember 2014

Receh Untuk Buku 2015

Ikutan ini, aaahh... untuk pertma kalinya nih. Sepertinya menarik. Soalnya sering banget punya uang receh yang 'seolah' jadi nggak ada artinya lagi. Padahal uang receh pun kalo dikumpulin jadi banyak tetep bisa dimanfaatin, kan? Nah, salah stunya buat beli buku. hehe




Ini nih aturan mainnya:

  1.  Kumpulkan uang receh dari Januari-Desember
  2.  Jangan dihitung sampai akhir tahun 2015
  3.  Setelah semua uang terkumpul, belikan buku yang kamu inginkan/bukunya dihadiahkan ke orang  lain
  4. Kalau mau ikut, bikin posting mengenai challenge ini di blog masing-masing (tidak harus blog buku) kemudian masukkan link dari postingan kamu di mr.linky di blog Mbak Maya ini.
  5. Pasang banner Receh Untuk Buku 2015

Okesip, berarti saya harus beli celengan baru nih, buat ngumpulin receh :D

Wrap Up New Authors Reading Challenge 2014


Kalo yang ini Wrap Up New Authors Reading Challenge. Hihi, telat jug sih... gapapa deh yang penting ada jejaknya :D *sungkem sama Mbak Ren*

Langsung aja, yaaaa... ini list-nya:

  1. First Time In Beijing, Riawani Elyta 
  2. Betang Cinta Yang Tumbuh Dalam Diam, Shabrina WS
  3. Geek In High Heels, Octa NH
  4. Ranu, Ifa Avianty & Azzura Dayana
  5. The Mocha Eyes, Aida MA
  6. Rainbow, Eni Martini
  7. London, Windry Ramadhina
  8. Hawa, Riani Kasih
  9. Assalamualaikum, Beijing, Asma Nadia
  10. Cintapuccino, Icha Rahmanti
  11. Temui Aku di Surga, Ella Sofa
  12. Selamanya Cinta, Kireina Enno
  13. Pre Wedding Rush, Okke 'Sepatu Merah'
  14. Fate, Orizuka
  15. Bulan Terbelah di Langit Amerika, Hanum Salsabiela -- ini romance bukan, ya? :D
  16. (Bukan) Salah Waktu, Nastiti Denny
  17. Sabtu Bersama Bapak, Adhitya Mulya
  18. Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio, Irfan Ihsan
  19. The Time Keeper, Mitch Albom
Yuhuuu... memenuhi target juga siiihh.... soalnya target minimal saya ambil 15 buku :D
Tapi tetep sama sekali nggak ada apa-apanya dibanding peserta lain *tutup muka*

Oke, semoga 2015 kuantitas dan kualitas bacaan saya semakin baik, Aamiin.


Wrap Up Indonesian Romance Reading Challenge 2014


Huaaa... sudah 2015 ya iniii? Dan saya belom nyelesaiin tanggungan-tanggungan saya di 2014. Belom bikin wrap up buat RC-RC yang saya ikuti, belom beresin naskah lomba yang deadlinenya tanggal 2 Januari 2015, belom daftar challenge #1Day1Dream yang pengen saya ikuti, dan lain lain, dan lain lain. Omaigad... jadi semalem tuh saya tidur sambil kepikiran macem-macem ituuuh, beneran!

Oke, kalo diomongin doang kayaknya tetep nggak bakal tetiba jadi beres sendiri, yah. Maka dari itu, saya mau mulai selesaiin satu persatu. Yang pertama, saya mau bikin wrap up buat Indonesian Romance Reading Challenge 2014 yang digawangi oleh Mba Sulis.

Hasilnya nggak memukau, sih... tapi seenggaknya bisa memenuhi level tantangan yang saya pilih. Hehe.

Nah, ini list-nya:


  1. First Time In Beijing, Riawani Elyta 
  2. Betang Cinta Yang Tumbuh Dalam Diam, Shabrina WS
  3. Perjalanan Hati, Riawani Elyta
  4. Geek In High Heels, Octa NH
  5. Ranu, Ifa Avianty & Azzura Dayana
  6. A Miracle Of Touch, Riawani Elyta
  7. The Mocha Eyes, Aida MA
  8. Rainbow, Eni Martini
  9. London, Windry Ramadhina
  10. Hawa, Riani Kasih
  11. Assalamualaikum, Beijing, Asma Nadia
  12. Cintapuccino, Icha Rahmanti
  13. Temui Aku di Surga, Ella Sofa
  14. Selamanya Cinta, Kireina Enno
  15. Pre Wedding Rush, Okke 'Sepatu Merah'
  16. Fate, Orizuka
  17. Bulan Terbelah di Langit Amerika, Hanum Salsabiela -- ini romance bukan, ya? :D
  18. (Bukan) Salah Waktu, Nastiti Denny
  19. Sabtu Bersama Bapak, Adhitya Mulya
  20. Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio, Irfan Ihsan
  21. The Time Keeper, Mitch Albom
Horaiiii... tuuu kan terpenuhi :D Alhamdulillah...

Yap, semoga tahun 2015 akan jauh lebih baik lagi, Aamiin.

Senin, 29 Desember 2014

PROJECT 2015: DONATE FOR COMMENTS


Mata saya yang tadinya tinggal setengah watt (baca: ngantuk akut) langsung terang benderang lagi waktu baca blogpostnya Mba Ren tentang project pribadinya Si Cantik Oky yang dikasih judul: Donate For Comments. Waahhh, nggak pake mikir dua kali, langsung Bismillah ikutan.

Yap, buat orang kayak saya (yang belom bisa dikategorikan dermawan, tapi punya keinginan untuk jadi dermawan), sedekah itu harus 'dipaksa'. Salah satunya dengan cara-cara seperti ini, dengan mencanangkan target bagi diri sendiri. Semoga Allah membalas ide cemerlang Oky yang membuat banyak orang jadi punya kemauan dan tekad untuk berbagi melalui perantara blog dengan sebaik-baik balasan, yah. Aamiin :)

Insya Allah project ini mau saya terapin selain di blog ini, juga di blog yang satunya lagi. Dan tentu saja nggak cuma saya yang boleh ikut. Siapa aja boleh, semakin banyak semakin baik. Berbagi itu indah, kan? Lebih dari itu, ini salah satu perintah mulia dari manusia paling mulia di dunia :)

Nah, biar nggak bingung, ini nih aturan main yang saya adopsi dari masterpostnya Oky, dengan sedikit perubahan:
  1. Saya menargetkan Rp 500,- untuk setiap komentar yang masuk di tahun 2015 (1 Januari 2015-31 Desember 2015) ini (di blogpost saya di tahun berapapun), termasuk reply dari saya pribadi.
  2. Komentar SPAM tidak dihitung.
  3. Saya akan bikin rekap tiap bulan kayak Mba Ren, di post ini. Biar gak mabok ngitung pas akhir tahun, biar temen-temen bisa bantu mantau, dan biar saya bisa menyisihkan donasinya sedikit demi sedikit. 
  4. Saya akan menyumbangkan dana dari project ini untuk orang-orang di sekitar saya yang masih tergolong fakir miskin. Yup, karna setau saya sedekah itu sebaiknya untuk orang yang paling dekat dulu :)
  5. Dana dari saya pribadi. Teman-teman hanya perlu membantu saya dengan menyumbangkan komentar, agar jumlah donasinya semakin banyak :) 

 Tertarik ingin bergabung? Yuk, jangan ragu-ragu :) Bagi yang belum punya blog, tetep bisa membantu dengan menyumbangkan komentarnya, yah!

Rasulullah bilang, "Belilah kesulitanmu dengan sedekah"

Dan saya bilang, "Bismillah, I will donate Rp500 for every comments in 2015" :)

REKAP:

 1. Januari: 10 Komentar x Rp 500,- = Rp 5.000,-

Terima kasih atas dukungan teman-teman semua :)  

Minggu, 21 Desember 2014

The Time Keeper: Hikmah Mengapa Tuhan Membatasi Waktu

Judul : The Time keeper (Sang Penjaga Waktu)
Penulis : Mitch Albom
Alih Bahasa : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 312 halaman


“Tidak pernah ada kata terlambat atau terlalu cepat, semuanya terjadi pada waktu yang telah ditetapkan” (Hal. 232)


Jaman sekarang, hidup berkejaran dengan waktu sepertinya sudah menjadi gaya hidup. Slogan ‘waktu adalah uang’ menjadi salah satu slogan yang menjelma menjadi prinsip sebagian orang. Buku-buku bahkan seminar tentang cara mengefektifkan waktu, manajemen waktu, dll menjadi salah satu tema popular yang selalu diminati oleh banyak orang.

Orang-orang berlomba untuk membuat hidup mereka sesibuk mungkin agar dapat meraih pencapaian yang lebih dari yang lainnya. Mereka mengesampingkan kebahagiaan dan ketentraman hati. Tapi semakin banyak yang mereka raih, mereka semakin tidak puas dan terus berharap memiliki jauh lebih banyak waktu lagi untuk membuat pencapaian yang jauh lebih dahsyat lagi.

Tapi apa semua orang seperti itu? Sepertinya tidak. Dunia ini ibarat dua sisi keeping mata uang. Jika ada orang-orang yang selalu haus akan waktu yang jauh lebih banyak, maka di sisi lainnya ada orang-orang yang melihat dunia ini dengan cara yang amat muram. Mereka menganggap bahwa tak lagi ada hal berharga dan menarik yang membuat mereka pantas melewati waktu di dunia ini lebih lama lagi. Mereka berharap waktu akan segera berakhir. Dan ironisnya, hal itu biasanya disebabkan hanya oleh perkara-perkara remeh yang sebenarnya sama sekali tidak sebanding dengan kenikmatan yang diberikan Tuhan untuk masih bisa melewati waktu.

Novel The Time Keeper karya Mitch Albom ini bercerita tentang realita diatas. Adalah Dor, seorang laki-laki yang sejak usianya masih belia sudah sangat tertarik pada perhitungan waktu. Ia adalah orang pertama di dunia yang ‘bisa’ menghitung kapan matahari terbit dan kapan tenggelam. Kapan musim berganti, dll. Ia  mulai melakukannya dengan alat-alat sederhana. Salah satunya dengan tetesan air, juga batu. Hingga saat ia sudah semakin mahir menghitung waktu, ia akhirnya menjadi pemrakarsa terciptanya jam di dunia.

Atas kesukaan dan kemahirannya menghitung-hitung waktu – yang lambat laun mampu  mengubah dunia dan perilaku manusia-manusia di dalamnya, Dor adalah orang pertama yang pernah mengharapkan punya waktu tak terbatas agar ia bisa selalu bersama Alli istri tercintanya, sekaligus pernah menjadi orang yang tak lagi berharap punya waktu setelah Alli meninggal. Dor akhirnya ‘dihukum’. Ia diberi waktu tak terbatas. Usianya tak bertambah sedikitpun, lalu ia ‘dilemparkan’ lagi ke dunia yang sudah sangat jauh dari masanya dulu, dan sangat asing baginya. Dor diberikan sebuah misi untuk memberi pelajaran pada manusia-manusia yang berharap memiliki waktu tak terbatas, dan pada mereka yang berharap tak lagi memiliki waktu sedikitpun.

Dor akhirnya dipertemukan dengan seorang pengusaha sukses dan kaya raya bernama Victor dan gadis belia bernama Sarah. Victor mewakili kubu orang yang haus akan waktu dan terus berharap memiliki waktu tak terbatas. Sedangkan Sarah mewakili kubu orang yang berharap waktu berhenti.

Victor mengidap sebuah penyakit yang membuatnya tak lagi memiliki banyak waktu. Dokter sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menyembuhkan Victor. Yang masih bisa dilakukan hanyal melakukan cuci darah untuk setidaknya mengulur waktu, meski mungkin tak seberapa. Dan Victor tidak puas dengan itu. Sifatnya yang ambisius dan tidak mudah puas membuatnya ingin ‘mengakali’ takdirnya. Ia mengerahkan segala daya dan upayanya, dengan melibatkan para peneliti, untuk bisa dihidupkan lagi suatu saat. Ya, Victor berusaha untuk mengakali takdir kematiannya sendiri.



“Selalu ada pencarian untuk mendapatkan lebih banyak menit, lebih banyak jam, kemajuan lebih cepat untuk menghasilkan lebih banyak setiap harinya. Kebahagiaan sederhana dalam menjalani hidup antara dua matahari terbit tidak lagi dirasakan” (Hal. 290)


Sedangkan Sarah, seorang gadis dengan wajah dan bentuk tubuh kurang menarik, tidak memiliki banyak teman dan pergaulan, untuk pertama kalinya jatuh cinta pada temannya yang bernama Ethan. Ia merasa amat senang ketika Ethan bersikap baik padanya, dan menganggap itu merupakan pertanda bahwa Ethan juga jatuh cinta padanya. Sarah terus menghitung-hitung waktu untuk tak sabar segera bertemu dengan Ethan. Ia selalu berusaha melakukan apa saja untuk membuat Ethan merasa senang. 

Hingga saat Sarah memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu, sembari memberikan kado berupa jam tangan mahal yang sangat diidamkan Ethan, kenyataan pahit harus ditelan oleh Sarah. Ternyata ia keliru. Ethan tak sedikitpun menaruh perasaan padanya. Sarah sedih. Dan ia makin hancur kala melalui media social Ethan mengumumkan bahwa Sarah – sanga gadis ‘menjijikkan’ – telah menyatakan cinta padanya, lalu dikomentari oleh puluhan teman Sarah dengan komentar-komentar yang amat pedih bagi Sarah. Saat itulah ia berharap waktu berhenti. Dan Sarah memilih bunuh diri sebagai cara untuk mewujudkan hal itu.

Dan Dor hadir untuk mereka, sebelum misi mereka tersebut benar-benar terpenuhi. Dor membuat mereka tercengang dan akhirnya sadar bahwa tidak seharusnya mereka berharap waktu tanpa batas, ataupun waktu berhenti, karna semuanya sudah sesuai takarannya masing-masing.



“Ada Sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita”
“Mengapa?”
“Supaya setiap hari itu berharga” (Hal. 288)