Pages

Kamis, 30 Oktober 2014

ATHIRAH: Novel Yang Tak Selesai Saya Baca

sesaat sebelum dikirim balik ke empunya :D
Penulis: Alberthiene Endah Penggagas: M. Deden Ridwan Penyelaras Aksara: Nunung Wiyati, A.B Khoir, Lani Rachma ISBN: 978602781667
Penerbit: Noura Books

Ini bukan review novel Athirah, hanya cerita ngalor-ngidul nggak jelas. hehe
*yaiyalah, baca aja nggak selesai masa' mau ngreview :D*

Novel ini saya pinjam dari Mbak Prima, bareng 3 buku lainnya. Baru beberapa lembar baca, dada saya sesak sekali. Saya sempat beberapa kali berhenti, lalu menangis. Sebabnya? Entahlah. Campur aduk. Rasa empati saya yang terlalu besar pada perasaan Bu Athirah sebagai sesama perempuan mungkin. Atau rasa empati yang terlalu besar pada Pak JK dan saudara-saudaranya yang saat itu masih amat kecil untuk menghadapi kisruh cobaan rumah tangga orangtuanya? Atau karna diksi Alberthine Endah yang terlalu dalam/ Entahlah, saya nggak tau persis.

Yang jelas saya nggak habis pikir. Nggak habis pikir sama laki-laki seperti H. Kalla (Ayahanda Pak Jusuf Kalla) ini. Yup, saya pernah lihat langsung kok contohnya selain cuma dari novel ini.

Berjuang bersama, saling mencintai, terlihat selalu akur dan damai, istrinya cantik, nggak kurang suatu apa, anak-anak yang baik, lalu tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan nikah lagi?! Huh! Kecualiiiii kalo sebelumnya memang udah sering berantem dan nggak cocok sama istrinya, dll yang jadi pemicu. Lah ini? Kondisi yang digambarkan oleh Pak JK (lewat Alberthine Endah) terlalu ideal untuk melogika apa gerangan yang menjadi pemicu ayahandanya memutuskan menikah lagi.

Atau memang seperti itu (beberapa) laki-laki??  Entahlah.

Dari novel ini, meskipun -- sekali lagi -- belum selesai saya baca, saya jadi tahu dari Bapak Wakil Presiden kita ini beberapa hal yang sebelumnya saya nggak tahu. Saya baru tahu Pak JK bahkan sudah haji sejak masih kanak-kanak. Dan yang bikin takjub, beliau merasakan perjalanan menuju Tanah Suci menggunakan kapal yang memakan waktu puluhan hari. Saya juga brau tahu salah satu adiknya meninggal di Tanah Suci saat itu.

Dan yang paling penting, saya baru tahu (nggak bener-bener baru sih, saya udah pernah denger cerita sekilas sebelumnya tentang ini) kalau Pak JK tuh ternyata keturunan orang yang amat terpandang dan kaya raya dari sononya. Emm, terkait ini saya sempet komentar ke salah satu temen saat kami sedang chatt melalui whatsapp.

"Ya nggak heran, yah, kalo Pak JK kaya... orang udah kaya dari sononya, nggak bener-bener berjuang dari 0. Kalo Pak Kallanya, nah baru salut. kan beliau berjuang dari 0"

Tapi teman saya menyanggah. Dia bilang, intinya, berapa banyak anak orang kaya yang justru terlena sama berbagai kenyamanan yang ada?! Kekayaan itu melenakan, begitu kata temen saya.

Intinya, Pak JK juga sosok yang patut dikagumi, karna  beliau nggak jadi terlena sama berbagai kenyamanan yang ada di hidupnya saat itu. Iya sih, saya sadar saya terlalu cepet komentar waktu itu. Setelah baca lagi, semakin ke belakang saya makin salut sama Pak JK. Di usia yang amat belia, saat anak seumurannya sibuk bermain, dia sudah sangat ulet belajar berdagang pada ayahnya. Ah, saya jadi ingat hal yang saya pelajari beberapa hari kemarin, yang saya ceritain di sini :)

Dan, ah iya... saya kagum sekali sama Ibu Athirah. Kagum pada kehebatan beliau meredam gejolak hatinya yang tersakiti di depan anak-anaknya, bahkan di depan suaminya sendiri. Kagum sama kehebatan beliau sebagai istri yang.... ah, lidah saya kelu. Dikhianati, tapi tetap melayani dengan sepenuh bakti... Subhanallah, Ibu Athirah mungkin wanita dengan hati seluas samudra. Kagum sama kehebatan beliau yang justru bisa menjadikan lukanya sebagai pijakan untuk melompat jauh lebih tinggi. Kalo Om Mario Teguh bilang, marahlah dengan anggun. Ya marahnya Ibu Athirah ini contoh marah dengan anggun itu.

Tapi sayangnyaaa, saya yang emang selalu ngantuk kalo baca biografi atau novel yang based on true story gini, 'menyerah' saat sampai pertengahan. Sama persis waktu saya baca novel Sepatu Dahlan. Nggak selesai juga. hihi. Habis gimana ya, novel-novel model gini kan cenderung datar. Konfliknya kurang mengaduk-aduk. *ketauan suka novel yang drama banget. haha*. Alhasil, saya booring dan berpaling pada yang lain #halah

Etapi, saya tercengang waktu si temen chatt saya tadi mengabari beberapa hari kemudian, kalo ternyata usaha Pak H. Kalla sempet bangrut dan harus mulai dari nol lagi. Wah, saya jadi penasaran dan sempet pengen lanjutin baca lagi, tapi.... eng, tapiii... godaan novel lain masih lebih kuat. Haha. Tadinya mau paksain buat baca lagi, tapi... eng, sudah diminta kirim balik sama yang punya kemarin. #Alasan!!! :D

Ada yang sudah baca sampai tuntas novel ini? Kalau ada, ada yang bersedia berbagi cerita menarik yang saya lewatin tentang novel ini? Kalau ada, waaahh saya pasti seneng banget :)

Selasa, 28 Oktober 2014

Jodoh Dunia Akhirat: Buku Buat jomblo Yang Nggak Bikin Galau :)

Judul Buku: Jodoh Dunia Akhirat: Merayu Allah Menanti Dalam Taat
Penulis: Ikhsanun Kamil (Canun) & Foezi Citra Cuaca (Fufu)
Penerbit: Mizania
No. ISBN: 978-602-9255-62-1

Jujur awalnya malas sekali waktu baru mau mulai baca nih buku. Tapi, berhubung ini buku yang direkomendasikan sekaligus dipinjami oleh seorang sahabat yang saya idolakan banget, maka saya 'memaksakan diri' membacanya. Tanpa ekspektasi. Malah yang lebih dulu terbayang adalah betapa booring-nya baca buku jenis beginian. Saya sudah beberapa kali baca buku sejenis ini, dan ya ituu... bosan. Yang ada di otak saya, dilihat dari judulnya buku ini pasti hanya berisi seabrek iming-iming indahnya pernikahan. Motivasi-motivasi untuk segera nikah, tapi 'lupa' membahas kegalauan para jomblowan jomblowati yang sudah ingin menikah tapi belum punya bayangan tentang 'siapa' yang mau diajak nikah (Emm, oke, sepertinya postingan kali ini lagi-lagi akan sarat unsur curcl. wkwkwk)

 Tapiii, ternyata saya salah. Salah besar. Buku ini bikin saya terpesona, bahkan saat baru beberapa lembar saja yang saya baca. Selain bikin terpesona, buku ini juga bikin saya merasa ditampar bolak balik. Plak!!! plakk!! plak!! haha

Pertama, penulis menanyakan tentang seberapa lurus niat kita ingin menikah. Lalu mereka (karna penulisnya dua orang) menjabarkan beberapa jenis niat yang 'kurang tepat', yang justru sering jadi pemicu keinginan menikah. Daaann, dari beberapa niat kurang tepat yang dijabarkan tersebut, hampir semua ada di benak saya. Haha. *tepok jidat*

Lalu Teh Fu dan Canun memperkenalkan sebuah formula untuk berproses menjemput jodoh. Formula tersebut terdiri dari 3 step, yaitu: Cleansing, Upgrading, Selecting. Jadi, menurut Teh Fu sama Canun, kita harus melalui 3 step tersebut dulu satu per satu dalam proses ikhtiar menjemput jodoh dunia akhirat. Oke, saya ceritain dikit penjelasan tentang 3 step tersebut, ya.

Cleansing. Dalam step ini kita diminta untuk membersihkan jiwa, hati dan pikiran dari macam-macam 'sampah' yang nggak berguna dan sangat mungkin menghijabi kita dari jodoh kita. Sampah-sampah tersebut diantaranya, perasaan belum memaafkan diri sendiri dari dosa-dosa masal lalu yang pernah kita perbuat sehingga bikin kita minder abis. Lalu perasaan-perasaan sakit hati dan kecewa sama orang tua atau orang-orang terdekat. Misal, yang kehidupan rumah tangga orangtuanya kurang harmonis, dll. Dan yang terakhir, membersihkan hati dari perasaan sakit hati, kecewa, menyesal, dan perasaan-perasaan semacamnya dengan orang lain (cakupannya lebih luas lagi). Termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang pernah jadi 'istimewa' di masa lalu. Contoh, sakit hati karna dikhianati mantan (bukan curhat :p).

Bagian ini paling nampol bagi saya. Saya harus berkali-kali mengambil jeda. Membaca, berhenti sejenak, menarik nafas panjang, merenung, lalu menangis. Cuma saya memang kurang bisa menceritakan isinya dengan baik agar merepresentasikan apa yang saya rasa saat membacanya. Mungkin kalo baca sendiri langsung akan merasakan hal yang sama.

Upgrading. Kalo step ini intinya sama sih sama banyaaakkk sekali materi yang bertebaran di buku-buku semacam ini lainnya. Intinya tentang memantaskan diri, nambah ilmu soal pernikahan, soal parenting, dll. Yup, ini masih sering diabaikan ya rasanya. Masih banyak yang fokusnya cuma 'mencari' siapa calonnya, tapi kelupaan membekali diri dengan ilmu untuk mengarungi perjalanan panjang setelah si 'siapa' ketemu. Untuk karier dunia aja kita sekolah SD-S1 kan, ya... masa' iya buat karier dunia-akhirat kita males belajar, sih? #SelfReminder :)

Selecting. Nah, kalo jiwa dan hati sudah bersih dari 'sampah-sampah' nggak berguna, dan bekal ilmu dan pengamalan sudah matang, tiba saatnya kita 'memilih' :) di step ini juga dikasih tips bagaimana cara untuk mengaktivasi 'magnet jodoh' loh :D Oh ya, yg digarisbesari di step ini tentu saja, jadikan agama sebagai patokan utama :))

So far, buku ini adalah buku tentang 'jodoh-jodohan' yang sama sekali nggak bikin galau. Buku ini lebih banyak mengajak para jomblo muhasabah -- merenungi segala sesuatunya. Ah, rasanya saya nggak akan bisa meceritakan dengan detail hikmah apa saja yang terkandung dalam buku ini. Jadi, silahkan gali sendiri dengan membacanya, dan mari berkaca, 'sudahkan lurus niat dibalik keinginan menikah kita?' :)

Oh ya, tambahan dikit... yang bikin salut lagi, penulis buku ini adalah seorang pasangan suami-istri yang masih belia, dan menikah diusia yang juga amat belia, tapi sudah punya pengalaman yang amat luas soal dunia pernikahan. Subhanallah :)

Selasa, 14 Oktober 2014

Wishful Wednesday [2]: Rindu dan Priceless Moment


Halo teman-temaaaan... selamat hari Rabu... semoga Rabu kita selalu menyenangkan.

Untuk kedua kalinya saya ikutan WW. Yang pertama saya menjadikan Sabtu Bersama Bapak sebagai wish saya, dan Alhamdulillah nggak lama kemudian terkabul. Semoga kali ini juga begitu. Aamiin :))

Wishful Wednesday saya kali ini ada dua, yaitu:

1. Priceless Moment by Prisca Primasari


Saya belom pernah baca karyanya Mbak Prisca sih. Tapi gegara beliaunya minggu kemarin ngisi materi tentang nulis novel di salah satu komunitas menulis yang saya ikuti, saya kok jadi penasaran dan pengen baca karya beliau. Saya suka cara Mbak Prisca memaparkan materi. Dan beberapa teman yang udah baca karya beliau, banyak yang bilang karya Mbak Prisca sanga recommended untuk dibaca.

2. Rindu by Tere Liye





Kalo yang ini nggak banyak alasan sih. Saya emang suka sama karya-karyanya Tere Liye. Hehe

Kalo kamu, apa wishful wednesday-mu? Share yuk :)


  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Senin, 13 Oktober 2014

HOW TO MASTER YOUR HABITS: Ibu Dari Semua Keahlian

Judul: How To Master Your Habits
Penulis: Felix Shiauw
Penerbit: Khilafah Press
No. ISBN: 9786029716429

Habits, atau yang biasa kita sebut sebagai kebiasaan adalah sesuatu yang sepertinya sepele dan tidak penting. Tapi apa benar seperti itu? Ternyata sama sekali tidak. Buku How To Master Your Habits ini menjelaskan secara rinci betapa habits adalah sesuatu yang amat penting bagi hidup kita.

“Habits adalah pelayan kita, pekerja kita. Seandainya kita telah cukup mengajarinya, maka mereka akan melakukan hal itu secara otomatis” (Hal. 36)

Habits merupakan suatu tindakan yang kita lakukan secara berulang, sehingga lama-kelamaan menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dari diri kita. Ia telah menjelma bak program otomatis yang terinstal di alam bawah sadar kita. Contohnya, saat kita memasang alarm untuk bangun pagi jam 5, setelah beberapa lama kita akan secara otomatis tetap bangun jam 5 pagi meski tak lagi menyalakan alarm.

Semua orang memiliki habits yang berbeda-beda. Habits-habits kecil seperti makan berapa kali sehari, atau tidur jam mulai jam berapa, sampai habits-habits penting seperti membaca berapa lembar sehari, atau menulis berapa paragraph setiap hari. Ada orang-orang yang punya jauh lebih banyak habits baik dibanding habits buruk, ada pula yang sebaliknya. Maka, masuk dalam golongan yang manakah kita?

Lalu apakah habits baik bisa dibentuk jika saat ini yang kita miliki jauh lebih banyak habits kurang baiknya? Tentu saja bisa. Buku How To Master Your Habits ini menjelaskan secara lengkap, namun padat. Tidak panjang lebar dan membuat bosan seperti buku-buku motivasi pada umumnya. Buku ini menjelaskan tahapan-tahapan membentuk habit secara terperinci.

Menurut buku ini, habits sudah mulai bisa terbentuk setelah kita mengulang-ulangnya selama kurang lebih satu bulan (Hal. 65). Tentu saja dibutuhkan komitmen yang kuat untuk melakukan hal tersebut. Akan banyak sekali tantangan yang kita alami dalam proses pembentukan habits ini, dan tentu saja tantangan terbesar adalah diri kita sendiri.

Yang juga sangat ditekankan dalam buku ini adalah, habits merupakan ujung tombak bagi keahlian-keahlian yang kita miliki. Kita bisa ahli dalam satu bidang, ketika kita memiliki habits yang sudah melekat kuat sekian lama mengenai bidang tersebut.

“Sebuah penelitian menyampaikan bahwa seseorang baru akan menjadi ahli dalam bidang yang dia pilih apabila telah berlatih selama 10.000 jam di bidang tersebut.

Jika kita berlatih 3 jam sehari dalam bidang yang ingin kita kuasai, maka perlu 10 tahun bagi kita untuk mencapai 10.000 jam itu. Bila kita ingin 5 tahun menjadi seorang ahli, maka haruslah latihan itu kita tingkatkan 6 jam setiap hari” (Hal. 104)

Latihan 3 jam setiap hari atau 6 jam setiap hari itulah yang disebut sebagai habits. Dan hal tersebut mustahil kita lakukan tanpa komitmen yang kuat. Tapi, setiap keinginan dan cita-cita memang selalu diwarnai kesulitan dan tantangan? Termasuk keinginan untuk menjadi ahli dalam suatu bidang tentunya :)

“Ibu dari semua keahlian adalah repetisi (pengulangan), dan ayahnya adalah practice (latihan)” (Hal. 38)

Jadi bagaimana? Masihkah kita enggan mulai berusaha membentu habits-habits baik bagi hidup kita? Kalau kalian sedang ingin menciptakan habits-habits baik dalam keseharian seperti saya, buku ini cocok untuk menjadi salah satu bacaan wajib kalian ;)

Selasa, 23 September 2014

Sabtu Bersama Bapak: Pelajaran Tentang Parenting dan Keluarga Dalam Sebuah Novel

 Judul: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2014
No. ISBN: (13) 978-979-780-721-4

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Kata-kata tersebut tertulis di cover belakang novel Sabtu Bersama Bapak karya Mas Adhitya Mulya. Ini karya beliau yang pertama say abaca, dan wow… saya langsung dibuat terpesona. Kata-kata di atas sebenarnya sudah sangat menggambarkan tentang keseluruhan isi novel ini.

Novel ini bercerita tentang keluarga Garnida, yang terdiri dari Pak Gunawan Garnida dan Ibu Itje – istrinya, dan kedua putra mereka – Satya Garnida dan Cakra Granida. Satya dan Cakra masih berumur delapan dan lima tahun saat harus menerima dengan lapang dada garis takdir mereka yang akan tumbuh tanpa sosok bapak di samping mereka. Tapi mereka beruntung karna memiliki bapak luar biasa seperti Pak Gunawan. Pak Gunawan yang telah lama menerima sinyal batas umurnya sendiri, telah menyiapkan semuanya dengan baik. Yang dengan itu ia akan tetap bisa menemani setiap langkah putranya dalam memahami hidup, meski jiwanya telah hidup di alam berbeda. Sebuah video.


Hari terus bergulir, Satya dan Cakra telah tumbuh dewasa. Satya telah memiliki keluarga dengan tiga putra dan tinggal di Denmark. Sedangkan Satya sudah memiliki posisi yang cukup mumpuni untuk usianya di sebuah lembaga perbankan. Tapi sayangnya Cakra masih tunacinta.

Karna kesibukannya bekerja di perusahaan minyak, Satya sudah jarang sekali menonton video bapaknya. Tapi email Rissaa – istrinya, yang melarangnya pulang sebelum ia ‘berubah’ menjadi Satya yang lebih baik membuatnya merasa harus kembali belajar pada bapaknya melalui video-video itu.

Sedang Cakra? Aahh. Perjalanan cintanya cukup tragis. Cinta pada pandangan pertamanya pada salah satu karyawati baru bernama Ayu cukup berliku, hingga akhirnya membuat Bu Itje harus turun tangan membantu. Yang saya suka, perjalanan cinta Cakra tetap terasa berliku, tanpa didramatisir bak sinetron Indonesia. Hehehe. Sisi humoris novel ini hampir semuanya terletak pada bagian cerita tentang pencarian cinta Cakra.



Secara keseluruhan, hal paling menonjol dan menarik dari novel ini adalah, terkemasnya materi ‘berat’ tentang parenting dan keluarga menjadi sebuah bacaan renyah dan sama sekali tidak membosankan. Ada pesan di hampir seluruh kalimatnya, tapi tidak membuat pembaca merasa digurui. Ahh, rasanya saya tidak bisa mendeskripsikan kelebihan buku ini dengan baik. Jadi, lebih baik, silahkan membacanya sendiri :)

Karna saya gak bisa menceritakan dg baik, jadi saya selipin foto2 bagian yang saya suka. nggak cuma ini sih sebenernya. Ini cuma beberapa diantaranya :)

Pelajaran mendalam yang saya ambil ketika membaca novel ini adalah, betapa sepertinya banyak lelaki yang memutuskan menikah tanpa kesadaran penuh bahwa setelahnya, ia bertanggungjawab atas dunia dan akhirat istri dan anak-anaknya kelak. Dan mereka harusnya belajar dari Pak Gunawan. Pernikahan sama sekali nggak cukup jika hanya berbekal cinta. Betapa banyak pula seorang wanita yang mengiyakan ajakan menikah dari seorang lelaki, tanpa kesiapan utuh bahwa setelahnya ia wajib mempersembahkan sebaik-baik bakti untuk suaminya, serta sesempurna-sempurna kasih untuk anak-anaknya. Seorang ibu harusnya nggak pernah terpikir balasan apa yang akan anaknya berikan, melainkan terus-menerus berpikir bagaimana cara mencurahkan kasih. Dan mereka (termasuk saya), harusnya belajar dari sosok Ibu Itje.

Yang jelas, saya merekomendasikan novel ini untuk semua laki-laki. Yang tengah mencari cinta, yang baru hendak menikah, yang sebentar lagi menjadi ayah, atau yang sudah menjadi suami dan ayah tapi merasa belum menjadi suami dan ayah yang cukup baik untuk istri dan anaknya. Saya merekomendasikan novel ini untuk para wanita yang ingin belajar menjadi perhiasan terindah di dunia dan akhirat – bagi suami dan anak-anaknya kelak :)

Selasa, 16 September 2014

(Bukan) Salah Waktu: Tidak Ada Yang Salah, Kecuali Masa Lalu

”Tahukah kau, Sayang…
Aku mencintaimu lebih dari apa pun. Aku rela kehilangan segalanya, kecuali kamu. Aku sanggup melepas duniaku demi dunia kita bersama.
Namun, ketika waktu bergulir tanpa bisa dibendung, ketika kenyataan memaksa untuk dipahami, ketika kesalahn memohon dimaafkan, kurasa aku tak sanggup, Sayang…
Entahlah, siapa yang harus memahami dan mengalah. Mungkin aku butuh seribu cara untuk mengobati luka hati ini”
Judul : (Bukan) Salah Waktu
Penulis : Nastiti Denny
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2013
Halaman : viii + 24

Sekar – tokoh utama dalam novel ini – akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dan beralih profesi menjadi full-time wife, seperti yang sekrang ini diidamkannya. Meski Prabu – suaminya – orangtuanya, bahkan mertuanya pun tidak benar-benar memahami apa alasan Sekar meninggalkan kariernya yang sudah cukup baik, toh mereka tetap mendukung. Tapi dukungan itu tak lantas menjadikan Sekar bisa dengan mudah menyesuaikan diri dengan perubahan total fungsi diri di rumah.

Saat masih tertatih menyesuaikan diri dengan berbagai jadwal baru sebagai ibu rumah tangga, Sekar harus dihadapkan dengan tantangan yang lain. ia yang ternyata punya trauma masa kecil dan masih menyimpan rapi sebuah rahasia dari suaminya sendiri, harus berusaha menguatkan hati ketika rahasia itu perlahan mulai menyembul ke permukaan.

Namun drama kehidupan memang seringkali tak teraba akal. Saat Sekar tengah menyiapkan segenap mentalnya untuk menghadapi 'serangan' Prabu yang mulai mengendus rahasia hidupnya, justru harus menerima pukulan telak saat ia harus mendengar tentang masa lalu suaminya yang sama sekali tidak pernah ia duga. Prabu yang ia kenal sebagai laki-laki santun dan sangat menyayanginya ternyata telah memiliki seorang putra dari wanita masa lalunya bernama Larasati.

Diam-diam Sekar mencari tahu. Lalu memutuskan menenangkan diri bersama ibunya -- yang tanpa ia sadari selama ini sering ia abaikan dan amat merindukannya. Sedangkan Prabu tenggelam dalam penyesalan dan dilema. Ia ingin tetap bersama Sekar, tapi ia juga tak mungkin meninggalkan putranya setelah tahu tentang keadaan yang sebenarnya.

Lalu apakah Sekar akan berlapang dada menerima Prabu dengan masa lalunya? Silahkan menikmati sendiri alur cerita novel (Bukan) Salah Waktu ini di sela-sela waktu senggang anda :)

Secara keseluruhan saya suka dengan novel ini. Tidak banyak typo, bahasanya mengalir dan ringan, serta tidak terlalu banyak dramatisasi bak sinetron. Meskipun novel ini mengangkat konflik rumah tangga sebagai tema utama, tapi saya tidak menemui pertengkaran dimana sepasang suami-istri yang sedang bertengkat saling berteriak dan marah-marah. Sosok Sekar terkesan anggun menghadapi badai rumah tangga yang menerpanya. Ia tidak sedikitpun mencaci Prabu meski kisah masa lalunya terbilang cukup sebagai alasan untuk sang istri marah besar pada suaminya. Begitu juga Prabu. Ia tampak tenang, tapi bukan tak berusaha.

So, Saya pikir novel ini cukup patut direkomendasikan sebagai teman bacaan di sore hari sembari menikmati secangkir teh hangat dan sepotong kue. Selamat membaca :)

Kamis, 11 September 2014

NOTES FROM QATAR 2: Honest, Humble, Helpful


 Judul: notes From Qatar 2
Penulis: Muhammad Assad
No. ISBN: 9786020018 (ISBN13: 9786020018331)
Penerbit: Elex Media Komputindo

Saya membeli buku ini di Gramedia Kudus tanggal 25 Agustus 2013 – dan baru berhasil saya tamatkan pertengahan 2014. Haha. Bahkan sebelum sempat say abaca, buku ini harus mengalami nasib tragis: kebocoran!!! Hiks.

Penasaran sama buku ini sejak Mas Assad datang sebagai bintang tamu di acaranya Ustadz Yusuf Mansur – kalo nggak salah pas bulan Ramadhan. Dan bener sih, buku ini menurut saya pantas menjadi best seller – di luar endorsement-nya yang dari tokoh-tokoh top Indonesia. Yah, meskipun saya sempet males lanjutin baca nih buku gegara Mas Assad nikah. Yup, saya patah hati. haha. #Apasih! #Abaikan

Sebagai buku non-fiksi, buku ini termasuk tidak membosankan menurut saya. Nggak terkesan seperti membaca textbook kuliah yang bikin kepala mumet. Hehe. Karna selain memaparkan teori-teori, Mas Assad juga menyelinginya dengan cerita-cerita ringan tentang dirinya – yang di dalamnya tersirat pengaplikasian dari teori yang sebelumnya ia paparkan.

Gegara kebocoran, bukunya jadi udah jelek banget T.T

Notes From Qatar 2 ini punya tiga kata yang menjadi garis besar dari seluruh pembahasan. Honest, Humble, Helpful.  Selain itu juga diselipkan kisah nyata kiriman para pembaca buku ini yang merasakan langsung ‘keajaiban sedekah’ yang ‘virus’-nya disebarkan Mas Assad lewat buku NFQ 1 (sayang saya justru belum baca). Banyak sekali kisah yang sangat menginspirasi di situ – tak terkecuali kisah-kisahnya Mas Assad sendiri. Mas Assad banyak menyelipkan hadist dan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu membahasnya dengan bahasa yang menurut saya bisa diterima semua kalangan – termasuk yang mungkin masih awam soal agama. Jadi sepertinya, yang biasanya enggan baca buku keislaman karna bikin ngantuk dan mumet, akan merasa asyik baca buku ini.

Salah satu yang saya rasa paling menginspirasi adalah tentang kebiasaan Mas Assad bersedekah setiap hari – sebelum memulai aktivitasnya. Pasti banyak banget, kan, yang ngrasa kesulitan dalam berbagai hal kalo harus bersedekah setiap hari? Entah bingung mau di kasih ke siapa, nggak sempet karna saking sibuknya, atau merasa sayang sama uang yang kita punya. Nah, Mas Assad ternyata menyiasati hal tersebut dengan cara menyiapkan sebuah tempat di depan pintu yang ia gunakan untuk naruh uang tiap mau keluar beraktivitas (kayak kotak sedekah gitu kali, ya!), lalu uang tersebut akan ia salurkan pada yang membutuhkan sebulan sekali. Menurut saya cara tersebut sangat efektif dan patut dicontoh. Selain akan lebih terasa manfaatnya jika uang kita donasikan setelah jumlahnya terkumpul cukup banyak, kitanya juga jadi nggak begitu terasa ‘sayang’ karna nggak langsung keluarin jedeerrr banyak buat sedekah. Emm, ini cocok buat yang masih latihan kayak saya kali, ya. Beda lah sama yang udah jagoan sedekah. Hehe

Mas Assad juga menceritakan tentang pengalamannya menjadi salah satu peserta dalam G20 Youth Summit 2011 sebagai wakil dari Indonesia bersama 5 orang delegasi lainnya. G20 kali itu diselenggarakan di Paris. Dalam G20 ini, setiap Negara anggota G20 mengirimkan 6 delegasi mudanya untuk berkumpul  dan menegosiasikan isu-isu penting yang nanti hasil akhirnya dalam bentuk communiqué dan diserahkan kepada Presiden Perancis (karna saat itu diselenggarakan di Perancis) – Nikolas Sarkozy.

Hal menarik lainnya yang Mas Assad dalam buku ini adalah betapa ia anak muda yang jaringannya sudah keren banget. Ia mengenal baik banyak sekali tokoh keren di Indonesia. Yah, sekali lagi, itu terlihat jelas dari endorsement yang tercetak di sampul belakang buku ini. hehe

Emm, apalagi ya? Banyak banget sih hal menarik dan menginspirasi lainnya. Kalo disuruh menceritakan apa aja isinya, saya nggak sanggup kayaknya. Hehe. Jadi mending, yuk, dibaca sendiri ;)