Pages

Tampilkan postingan dengan label Reading Challenge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reading Challenge. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 April 2014

Assalamualaikum, Beijing: Kisah Cinta Berbalut Banyak Hikmah

Ajarkan aku mantra pemikat cinta Ahei dan Ashima, maka akan kutaklukkan penghalang segala rupa agar sampai cintaku padanya

Dewa dan Ra sudah lama membina kasih. Cinta yang teramat besar membuat hati mereka terikat amat kuat. Gerbang pernikahan pun telah di depan mata, selangkah lagi untuk benar-benar menjadi satu. Tapi malang tak dapat ditolak. Nafsu tak beradab menyeret Dewa pada kesalahan yang mengharuskannya menanggung tanggung jawab yang kemudian terasa menghimpitnya selama berbulan-bulan.

Lalu Ra, dengan hatinya yang terasa tak lagi utuh, tak berpikir panjang untuk menerima penugasan dari kantornya melakukan liputan ke Beijing. Perjalanan yang akhirnya mempertemukannya dengan  Zhongwen – seorang pemuda China yang amat mengagumi kisah cinta dari tentang Ahei dan Ashima dari tanah kelahirannya. Sosok Ra – yang juga dipanggil Asma – entak mengapa mengingatkan Zhongwen pada sosok Ashima.

Lalu lelaki mana yang akhirnya menjadi tempat Asma (Ra) melabuhkan hati? Pada Dewa yang tetap saja bertekad mendapatkan kesempatan kedua dari Ra setelah ia ‘memenuhi’ tanggung jawabnya, atau pada Zhongwen – yang pelan namun pasti dituntun hidayah menuju cahaya Islam? Meski perjalanan cinta Asma kemudian tak sesederhana memilih diantara dua lelaki itu, ketika takdir menuliskannya menjadi salah seorang yang ‘dianugrahi’ penyakit APS (Antiphospholipid Syndrome).

 oOo

Asma Nadia dengan gaya bahasanya yang lembut serta diksi yang indah namun tak berlebihan kembali membuat saya terpesona. Seperti novel-novel sebelumnya yang tidak dramatis bak sinetron, tetap saja membuat saya berkaca-kaca di beberapa bagian.

Apalagi pesan moral yang tersebar di sana-sini membuat novel ini tak sekedar karya fiksi kosong yang segera terlupakan sesaat setelah pembaca menamatkannya. Ya, dengan caranya yang indah, menurut saya Asma Nadia telah berhasil ‘mengemas’ nasihat dengan amat manis hingga tak terkesan menggurui dan lebih berpeluang merasuk ke hati.

“Manusia adalah tempatnya khilaf, tetapi tidak berarti setiap orang bebas mengeliminasi tanggung jawab moral yang mesti ditanggungnya, lalu berbicara seolah-olah kesalahan adalah sesuatu yang lumrah dan dengan enteng dapat ditoleransi” (Hal. 64)

“Sebab memberikan harapan pada seorang gadis, sebelum lelaki tahu persis apa yang diinginkannya, adalah sebuah kejahatan.” (hal. 147)

Hal lain yang membuat saya terpesona adalah pembentukan karakter tokoh utama yang mampu membuat saya seperti turut merasakan apapun yang dirasakannya. Tokoh utama dalam sebuah novel konon memang harus yang membuat pembaca simpatik. Tapi kadangkala ada yang lantas membuat tokoh utamanya terlampau sempurna hingga justru terkesan tidak ‘manusiawi’. Tapi tidak dengan novel ini. Asma merupakan sosok yang patut diteladani, tapi tetap membumi dan manusiawi. Ya, dan saya suka sekali dengan caranya membangun kekuatan hati ketika patah hati, juga ketika ia harus menyiasati perasaannya atas kehadiran orang baru.

Tapi, manusia tetaplah manusia yang segala karya ciptanya tak pernah luput dari kekurangan. Pun dengan novel ini. Jauh sebelum novel ini, saya telah dibuat jatuh cinta oleh novel karya Asma Nadia sebelumnya yang berjudul Cinta di Ujung Sajadah. Saya juga membaca beberapa buku Asma Nadia lagi yang lain, seperti Sakinah Bersamamu dan Catatan Hati Seorang Istri. Dan entah kenapa saya merasa gaya bertuturnya amat mirip. Mungkin ini yang dinamakan ciri khas, dan Asma Nadia telah memilikinya. Hanya saja, saat saya membaca novel ini, saya sempat merasa seperti tengah membaca sekuel dari novel Cinta di Ujung Sajadah. Menurut saya hal itu karna suasana yang terbangun dari dua novel itu terasa amat mirip. Terlebih karakter antara Cinta dan Asma – ah, saya beberapa kali ‘mengira’ mereka dua orang yang sama, hanya berubah nama. Hal ini membuat karya Asma Nadia kadang terasa sedikit monoton. Lalu menjelang bagian akhir novel ini, saya merasa agak janggal dengan membaiknya kesehatan Asma yang terasa tiba-tiba, setelah sebelumnya sebegitu drop-nya – hingga bisa ke Beijing bersama Zhongwen. Ya, bagian akhir novel ini menurut saya kurang ‘nendang’ hingga tak begitu meninggalkan kesan mendalam. Berbeda dengan novel Cinta di Ujung Sajadah. Atau karna saya yang terlanjur jatuh cinta pada novel sebelumnya itu hingga saya masih ‘gagal move on’ saat baca novel ini? bisa jadi!

But, overall… sedikit kekurangan itu sangat tertutupi dengan isi cerita dan sisipan-sisipan hikmah yang amat berbobot dalam novel ini. So, novel ini benar-benar patut menjadi salah satu novel yang harus dibaca. Fiksi yang tak sekedar fiksi tanpa isi.

Selasa, 18 Maret 2014

Rainbow: Pergantian Warna-Warni Kehidupan



Rainbow bercerita tentang lika-liku perjalanan Akna dan Keisha yang bagaikan pergantian cuaca. Dari cerah ke mendung, kemudian berubah menjadi hujan yang juga disertai badai, hingga akhirnya ditutup dengan hadirnya kembali pelangi dalam hidup mereka.

gb. diambil dr sini

 Judul Buku : Rainbow, Akan Selalu Ada Kesempatan Kedua


Penulis : Eni Martini
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Tebal : 201 hal + iii

ISBN  : 978-602-02-1609-6

Judul: Rainbow – Akan Selalu Ada Kesempatan Kedua
Penulis: Eni Martini
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Terbit: Juli, 2013
Halaman: 201 halaman
ISBN: 978-602-02-1609-6 - See more at: http://chemistrahmah.com/review-rainbow-selalu-ada-pelangi-setelah-badai-hujan.html#sthash.STM4UJS9.dpuf
Judul: Rainbow – Akan Selalu Ada Kesempatan Kedua
Penulis: Eni Martini
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Terbit: Juli, 2013
Halaman: 201 halaman
ISBN: 978-602-02-1609-6 - See more at: http://chemistrahmah.com/review-rainbow-selalu-ada-pelangi-setelah-badai-hujan.html#sthash.STM4UJS9.dpuf



Judul: Rainbow – Akan Selalu Ada Kesempatan Kedua
Penulis: Eni Martini
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Terbit: Juli, 2013
Halaman: 201 halaman
ISBN: 978-602-02-1609-6 - See more at: http://chemistrahmah.com/review-rainbow-selalu-ada-pelangi-setelah-badai-hujan.html#sthash.STM4UJS9.dpuf

Akna dan Keisha adalah sepasang sejoli yang amat saling mencintai. Perjalanan pernikahan mereka yang baru akan menginjak umur setahun benar-benar hanya berisi keindahan, meski mereka belum dikaruniai seorang anak. Hingga hadirlah badai tersebut, tepat di malam anniversary pernikahan mereka. Akna mengalami kecelakaan yang membuatnya harus kehilangan sebelah kakinya. Peristiwa itu tentu saja seperti mimpi buruk – bagi Keisha, terlebih bagi Akna sendiri.

Keisha – meskipun tertatih, tetap menguatkan langkah untuk tetap setia dan menjadi istri yang baik. Ia juga berusaha sekuat tenaga membuat roda perekonomian keluarganya tetap berjalan, setelah Akna dirumahkan oleh kantornya. Sedang bagi Akna, kehilangan satu kaki adalah kiamat bagi ego kelelakiannya. Ia kehilangan seluruh kepercayaan dirinya, hingga semua orang yang tulus bersimpati atas keadaannya pun dianggapnya tak lebih dari sekedar menghina dan menertawakannya. Bahkan perjuangan istri tercintanya pun diartikan amat negative baginya.

Separuh lebih bagian dari novel ini bercerita tentang perjuangan Keisha mempertahankan rumah tangganya diatas sikap suaminya yang semakin tidak ia pahami. Hingga Keisha sampai pada titik dimana ia merasa tak lagi mampu dan ingin menyerah – lantaran perbuatan suaminya yang amat melukai perasaannya. Saya sedikit merasa novel ini sinetron sekali. Setelah serangkaian terjangan badai di hampir keseluruhan isi novel, lalu ditutup dengan ending yang begitu manis.

Meski begitu, novel ini mengandung pelajaran yang patut diserap oleh para wanita. Bahwa seharusnya seorang istri harus tetap berdiri tegak di belakang suaminya, seterpuruk apapun keadaan suaminya. Hal tersebut tercermin dari sikap Keisha yang tetap setia dan tetap  menunjukkan hormatnya pada Akna meski Akna benar-benar tengah jatuh.

Tapi ada dua hal dalam yang cukup mengganggu bagi saya. Pertama, gaya bahasa yang ‘campur-campur’. Contohnya, saat tengah sampai pada bagian serius dan ‘harusnya’ mampu mengaduk perasaan saya, saya harus menemui satu-dua kata tidak baku bahkan kadang jadi terkesan ‘main-main’ sehingga membuyarkan kesan dramatisnya. Mungkin karna saya tipe orang yang suka baca novel yang kalau serius ya serius sekalian, kalau santai ya santai sekalian. Hehe

Yang kedua, adalah selipan adegan Emi yang tidak sedang di rumah saat dihubungi oleh Keisha yang tengah kalut di pagi buta, dan di ternyata justru tengah tidur bersama Dimas, padahal mereka belum menikah L. Selipan adegan itu jadi sangat mengganggu karna di banyak bagian dalam novel ini penulis menyelipkan cukup banyak nilai religious di dalamnya.

Tapi, secara keseluruhan… novel ini bisa masuk salah satu rekomendasi bacaan bagi kita yang sering merasa amat menderita dengan banyak sekali cobaan – agar kita kembali sadar, bahwa kita harus tetap tegak berdiri menghadapinya, dan pelangi pastilah akan segera menyambut di depan sana.

Rabu, 05 Februari 2014

A Miracle Of Touch: Baca Novel Serasa Nonton Film India



Pernikahan adalah suatu ikatan suci yang hampir semua orang ‘normal’ meniatkannya hanya sekali seumur hidup. Untuk itu, tentu saja orang yang akan menikah akan sangat memikirkan niat dan alasannya ketika hendak menikah. Dan cinta adalah hal yang paling sering digunakan sebagai dasar sebuah pernikahan.

Sayangnya tidak begitu dengan Talitha dan Ravey Malhotra– dua tokoh sentral dalam novel “A Miracle Of Touch”  karya Riawani Elytha ini. Mereka berdua menggunakan alasan ‘konyol’ untuk akhirnya memutuskan menikah. Talitha yang tak ingin kehilangan ijin kerjanya di Singapura memutuskan menikah dengan Ravey Malhotra yang merupakan permanent resident. Sedangkan Ravey segera menyetujui ‘tawaran’ dari teman Talitha yang merupakan terapis kecantikan keluarga Malhotra untuk menikah dengan Talitha agar terhindar dari wanita pilihan ibunya, dan segudang alasan lainnya.


Judul buku: A Miracle Of Touch
Penulis: Riawani Elyta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
No. ISBN: 978-979-22-9949-6
Tebal: 240 halaman


Ya, singkat kata pernikahan mereka adalah pernikahan yang tidak sedikitpun didasari rasa cinta – melainkan semata demi berbagai kepentingan pribadi mereka masing-masing. Tapi apa lantas cinta tidak mungkin tumbuh di antara mereka? Tentu saja sangat mungkin. Witing trisno jalaran soko kulino kalau kata orang jawa. Apalagi Ravey dan Talitha telah dibingkai sebuah ikatan yang membuat mereka sangat mungkin melakukan ‘kontak fisik’ – yang menjadi pemantik rasa cinta yang perlahan mulai tumbuh.

Tapi apakah dengan tumbuhnya cinta di antara mereka lalu membuat rumah tangga Talitha dan Ravey membuat lebih mulus dan bahagia? Tidak. Ada bermacam rintangan yang dating bertubi-tubi menguji seberapa kuat cinta mereka. Rintangan yang salah satunya justru diprakarsai oleh Laksmi Malhotra – ibunda Ravey sendiri.

Ah, saya tidak ingin membuat review novel ini terlalu panjang apalagi detail. Saya hanya berani bilang novel ini very recommended untuk teman-teman penikmat novel. Dan sekali lagi saya juga harus memuji si penulis untuk karyanya kali ini. Semoga pujian saya kali ini benar-benar objektif, bukan lantaran saya mendapatkan novel ini gratis karna menang event Giveaway-nya. Hehe

Membaca novel ini saya seperti menonton film india. Detail tentang ke-khas-an warga keturunan India dituturkan dengan sangat pas – mampu membangun feel India, tapi tidak berlebihan dan membuat booring. Saya biasanya nggak terlalu suka baca novel yang temanya ‘drama banget’. Tapi nggak tau kenapa baca novel ini kok saya enjoy yah?!

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah thread ‘serem’ yang berisi keheranan atas sebuah novel yang menang di sebuah event lomba, padahal menurut banya orang yang nimbrung di thread tersebut merasa kulaitas novel itu jauh dari pantas untuk menang. Nah, gara-gara itu saya jadi penasaran banget sama novel AMOT ini. Secara novel ini kan pemenang berbakat lomba Amore yang diadakan oleh Gramedia. Ya, penasaran pengen tau novel jebolan lomba ini memang pantas menang nggak sih (setidaknya menurut saya). Dan jawabannya, sangat pantas! Saya sampe sempat dibikin agak nggak percaya kalau novel ini menurut cerita si penulis, ditulis dalam waktu sangat singkat. Wow!

Oh ya, satu lagi yang bikin saya kagum sama Mbak Elyta. Yaitu, keistiqomahannya untuk menulis novel romance yang ‘santun’. Pun dalam novel ‘A Miracle Of Touch’ yang jelas-jelas mengangkat ide bahwa cinta bisa tumbuh melalui ‘sentuhan’ ini, tak satu pun saya temui kata atau kalimat yang dengan gamblang menyebutkan aktivitas-aktivitas untuk menguatkan ide itu. Diksinya santun sekali, tapi sama sekali nggak bikin saya merasa ada yang kurang saat membacanya.

Emm, kurang lengkap kali ya kalo nggak ada kritikannya, hehe. Satu-satunya yang bikin saya agak janggal adalah, keberadaan keluarga Talitha yang seperti ditiadakan sama sekali setelah Talitha menikah dengan Ravey, lalu baru dimunculkan lagi menjelang bab-bab terakhir. Jadi munculnya di bab awal sama bab-bab akhir aja gitu, ditengah sama sekali nggak disinggung.

Tapi over all saya suka sama novel ini. Emm, kalo dibikin grafik untuk beberapa novel Mbak Riawani Elyta yang sudah saya baca, saya menempatkan Hati Memilih dan Yang Kedua pada ranking yang sama, lalu novel Perjalanan Hati satu ranking di atasnya, dan novel A Miracle Of Touch ini ada satu ranking lagi di atas Perjalanan Hati.

Selasa, 21 Januari 2014

Perjalanan Hati: Perjalanan Menemukan Keyakinan dengan Menapak Masa Lalu



Masa lalu merupakan bagian dari hidup setiap orang. Ada yang hitam, ada yang putih, ada pula yang abu-abu. Ia ada bukan untuk dikubur atau dilupakan, apalagi dirutuk dan disesali. Tapi justru bisa menjadi bahan renungan bagi kita, agar tak mengulangi kesalahan yang ada, atau mensyukuri yang sekarang ada serta menjaganya agar tak berlalu begitu saja. Ada yang bilang masa lalu itu seperti kaca spion mobil bagian dalam, atau spion bagian kiri pada motor. Ia tetap butuh dilihat demi keselamatan, tapi juga tak boleh terlalu lama terpaku padanya karna justru akan membahayakan diri.


Judul: Perjalanan Hati
Penulis: Riawani Elyta
Penerbit: RakBuku
Tebal Buku :  194 halaman
ISBN :  602-175-596-0

Mungkin analogi itu cocok untuk menggambarkan apa yang mengguncang kedamaian rumah tangga Maira dan Yudha dalam novel Perjalanan Hati karya Riawani Elyta ini. Maira yang terguncang hatinya karna baru saja melihat tabir masa lalu suaminya dibuka oleh Donna, yang juga teman mereka semasa kuliah. Maira pun memutuskan untuk menekuri kembali hatinya sendiri melalui sebuah perjalanan backpacker menuju Anak gunung Krakatau, dimana ia tahu bahwa Andri – laki-laki yang menjadi bagian penting dari potongan masa lalunya pun turut serta dalam perjalanan tersebut.

Maira dalam perjalanannya, dan Yudha dalam kesepiannya tanpa Maira, mencoba merenungi segala sesuatunya, juga merenngi tiap tapak perjalanan hati mereka. Mencoba memahami perasaan mereka sendiri, memastikan sekali lagi apakah masih ada sisa-sisa perasaan pada orang-orang di masa lalu yang tertinggal. Dan akhirnya mereka menyadari, bahwa pulang adalah ke hati pasangan sah mereka adalah jawaban.

Novel ini sangat manis dan mengena menurut saya. Cara penulis menggambarkan perasaan tokoh melalui dialog-dialog serta kalimat deskripsi terhitung amat berhasil membawa pembaca turut terbawa emosinya. Saya seperti bisa turut merasakan kegalauan Maira serta perih hatinya saat mengetahui masa lalu Yudha yang baru sekarang diketahuinya. Begitu juga kesepian Yudha serta rasa berdosanya, pun dengan perasaan Donna dan Andri. Saya juga sempat dibuat geram oleh sikap Yudha yang terlalu pasrah membiarkan istrinya pergi, padahal ia tahu ada lelaki masa lalu yang juga ikut dalam perjalanan tersebut. Huh, suami macam apa itu?!

Tapi saya tidak cukup berhasil membangun gambaran tentang sosok dan karakter mereka. Penggambaran fisik tokoh cukup minim, terutama Maira. Sosok Maira yang terbentuk dalam benak saya adalah sosok yang terlalu lembut dan kalem untuk ukuran mantan ‘anak gunung’ seperti yang selama ini sering saya jumpai. Suasana perjalanan ala backpacker dan penggambaran ke-eksotisan Gunung Anak Krakatau juga kurang bisa saya rasakan. Tapi mungkin karna saya terlalu fokus ‘merasai’ perasaan Maira sebagai wanita.

Novel ini mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi yang sudah menikah atau akan menikah, bahwa keterbukaan pada pasangan itu sangat penting. Satu lagi yang tidak kalah penting yang juga harus diingat adalah saat konflik tengah mewarnai rumah tangga, menoleh ke masa lalu dan berpikir masa lalu tersebut bisa memberi pencerahan sepertinya merupakan tindakan yang kurang bijak bahkan justru bisa memperkeruh suasana.

Intinya, novel ini sangat patut jadi pilihan sebagai teman menghabiskan waktu luang ditengah hari-hari yang tengah diakrabi hujan seperti sekarang ini.