Pages

Rabu, 20 Mei 2015

WALKING AFTER YOU: Hidup di Balik Bayang-Bayang Kematian Saudara Kembar


Judul Buku: Walking After You
Penulis; Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2014
Nomor ISBN: (13) 978-979-780-772-6

Terlahir sebagai anak kembar mungkin merupakan kebahagiaan bagi sebagian orang. Siapa yang tak bahagia jika bisa memiliki sahabat karib sejak lahir?! Memiliki banyak persamaan, saling mengerti dan memahami, serta memiliki ikatan batin yang saling menghubungkan satu sama lain adalah beberapa hal menyenangkan yang dimiliki oleh sebagian besar anak kembar.

Anise – yang biasa disapa An, dan Arlet hampir memiliki semua itu. Mereka sama-sama memiliki ketertarikan besar pada dunia dapur, meskipun berbeda jalur. Arlet amat gemar memasak kue, sedangkan An mencintai berbagai menu masakan Italia. Mereka akhirnya menekuni hobi tersebut dan bersekolah di Le Cordon Bleu – Sydney (Hal. 82). Mereka juga memiliki impian bersama, yaitu mendirikan sebuah trattoria. Meskipun itu sebenarnya adalah impian An, namun Arlet selalu rela meleburkan mimpinya bersama impian saudara kembarnya (Hal. 112).

Segalanya menjadi terasa rumit ketika An dan Arlet menjatuhkan hati pada pria yang sama, bernama Jinendra (Hal. 81). Jinendra adalah pemilik restoran Italia bernama La Spezia. An dan Arlet sempat bekerja di restoran itu. Sebelum akhirnya situasi menjadi runyam ketika Arlet menangkap basah Jinendra tengah bermesraan dengan An pada malam ulang tahun mereka (Hal. 123). Arlet marah. Mereka berdua bertengkar hebat di dalam mobil saat perjalanan pulang. Hingga akhirnya An lepas kendali dan terjadilah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Arlet selamanya (Hal. 126).

Sejak kepergian Arlet, An terus dihantui rasa bersalah. Selama hidupnya Arlet selalu rela mengalahkan impiannya sendiri demi impian An, tetapi An tidak pernah sekalipun melakukan hal serupa untuk Arlet – termasuk tentang Jinendra. Ia terus mengingat pertanyaan Arlet sebelum kecelakaan terjadi, “Aku bisa melepaskan impianku untukmu. Kenapa kau tidak bisa melepaskan Jinendra untukku?” (hal. 126).

An ingin membayar semua penyesalannya pada Arlet dengan cara melakukan hal-hal yang dulu ingin Arlet lakukan. Salah satunya dengan bekerja di toko kue. Dengan alasan itulah ia tak lagi bekerja di restoran, dan lebih memilih bekerja di Afternoon Tea – sebuah toko kue milik sepupunya.

An mendapat posisi sebagai asisten Julian – koki utama kebanggaan Afternoon Tea. Hubungan antara Andan Julian yang sangat fluktuatif menjadi salah satu daya tarik utama dalam novel ini. Julian yang semula sama sekali tidak mengacuhkan kehadiran An perlahan-lahan mulai melunak. Bahkan Julian mengundang An kerumahnya untuk mengajarinya membuat soufflĂ© cokelat (Hal. 66).

“Kata Arlet, pada saatnya nanti, dia pasti akan jatuh cinta kepada lelaki yang kuat dan berani seperti aku. Sementara itu, masih kata Arlet, aku pasti akan jatuh cinta kepada lelaki yang manis dan pemalu seperti dia.” (hal .295). An merasa ada beberapa sifat Julian yang membuatnya teringat pada Arlet. Hal itu membuat perasaan An mulai berubah pada Julian, meskipun ia belum yakin itu cinta karena bayangan Jinendra masih amat kental dalam benaknya.

Saat hubungan An dengan Julian sudah semakin semakin mencair, An melakukan sebuah kesalahan fatal yang mempertaruhkan nama baik Afternoon Tea (hal. 245). Bahkan Julian meminta Galuh – sepupu An sekaligus pemilik Afternoon Tea untuk memecat An. An marah pada dirinya sendiri. Ia tenggelam dalam kesedihan dan kembali disiksa perasaan bersalah pada Arlet. Galuh berkata bahwa tak seharusnya ia bekerja di Afternoon Tea hanya demi Arlet, dan melupakan bakatnya sebagai koki masakan Italia (hal. 250).
Pada saat An merasa sangat sedih karena harus dipecat dari Afternoon Tea, Jinendra kembali hadir. Laki-laki itu membawakan sebuah kabar besar untuk An, yang dulu merupakan salah satu impian besar An. Meski Jinendra harus kecewa lantaran An ternyata tak serta-merta menerimanya dengan sukacita (Hal. 299). An masih terus menimbang. Hidup untuk melakukan hal-hal yang disenangi Arlet demi membayar rasa bersalahnya, atau berdamai dengan dirinya sendiri dan kembali mengejar cita-citanya sendiri.

Walking After You merupakan novel ber-genre romance yang tidak hanya berkisah tentang hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan. Di sela-sela kisahnya juga akan ditemukan banyak pengetahuan tentang dunia memasak –  terutama tentang kue. Meskipun kalimat-kalimatnya menggunakan bahasa baku dan sesuai dengan EYD, namun tidak menjadikan novel ini terasa kaku dan tak mengurangi nuansa romantisnya.

Selasa, 28 April 2015

EVERGREEN: Selalu Ada Orang Yang Jauh Lebih Menderita Dari Kita



 Judul: Evergreen
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Grasindo

Rachel adalah seorang gadis yang tengah depresi karena baru saja dipecat dari pekerjaannya sebagai seorang editor di Sekai Publishing. Ia dipecat lantaran menelantarkan salah satu draft buku yang dikirim padanya, dan kemudian menolaknya dengan cara yang tidak baik. Bersamaan dengan itu, sahabat-sahabat baiknya menjauhinya. Mereka seolah tidak sudi lagi mendengarkan berbagai keluhan Rachel. Lengkap sudah alasan bagi Rachel untuk semakin merasa depresi. Ia bahkan sempat berniat untuk jisatsu (bunuh diri). Tapi niat itu sirna ketika pada suatu hari kakinya mengunjungi sebuah kafe es krim dengan banyak pelayan baik hati. kafe itu bernama Evergreen.

Sejak hari itu Rachel selalu ingin berkunjung ke Evergreen. Hingga pada suatu hari Yuya – sang pemilik kafe, menawari (memaksanya) agar Rachel bekerja di Evergreen saja. Yuya tahu dari Fumio – salah satu pelayan Evergreen –yang sempat mengantarkan Rachel pulang. di tengah perjalanan Rachel bercerita pada Fumio tentang masalahnya dan tentang niatnya untuk jisatsu. Meski tadinya Rachel menolak tawaran Yuya karena merasa malu jika harus menjadi pelayan dan tidak punya keahlian di dapur sedikitpun, pada akhirnya Rachel bersedia bergabung di Evergreen.

Seiring waktu, Rachel belajar banyak hal di Evergreen. Ia mulai menyadari sifat-sifat buruknya – terutama yang membuatnya dijauhi sahabat-sahabatnya sendiri. di Evergreen semua pelayannya memiliki ujian hidup yang tidak bisa dikatakan ringan. Tapi itu tak membuat mereka membenci hidup. Ujian berat itu tak menjadikan mereka merasa menjadi orang paling merana dan kemudian berhenti berbuat baik pada orang lain meskipun hanyak sekedar bersikap ramah dan tersenyum setulus hati. Yuya orangtuanya jisatsu. Fumio hari-harinya dipenuhi teka-teki tentang di mana ayahnya saat ini, dan memiliki adik yang mengidap penyakit serius. Gama ibunya telah tiada. Sedangkan Kari harus menahan perih karena laki-laki yang amat dicintainya justru sama sekali tak mengingatnya.

Pada suatu hari, saat Rachel hendak menyambut pengunjung kafe, ia dibuat terkejut karena ternyata mereka adalah para sahabatnya. Sebelum Rachel keluar, ia sempat mencuri dengar pembicaraan sahabat-sahabatnya yang ternyata tengah membicarakan dirinya. Pada moment itu mata Rachel seperti dibuka lebar-lebar. Ia seperti baru sadar, betapa egois dirinya selama ini.

“Kau hanya ingin menerima, Kau ingin diperhatikan, disayangi, dipedulikan. Tak pernahkah kau menanyakan pada dirimu sendiri berapa banyak Kau telah member? Berapa banyak yang telah Kau lakukan untuk sahabat-sahabatmu?” (halaman 79, ucapan Mei – sahabat Rachel – pada Rachel)

Di Evergreen juga ada seorang pelanggan tetap. Ia selalu duduk di tempat yang sama, dan selalu membaca buku yang sama setiap mengunjungi Evergreen. Ia bernama Taichiro. Saking seringnya Taichiro berkunjung, ia seperti sudah menjadi bagian dari Evergreen. Namun Rachel merasa agak ganjil. Tatapan Taichiro pada Rachel seperti penuh arti. Pada pada akhirnya, Rachel akhirnya tahu bahwa secara tidak sadar ia punya kesalahan teramat besar pada Taichiro di masa lalu, dan untuk pertama kalinya bertekad untuk berbuat baik sekaligus menebus kesalahan tersebut.

Melalui Evergreen kita akan belajar, bahwa saat kita menjadi orang paling menderita karena suatu hal, sesungguhnya kita tengah lupa bahwa di luar sana banyak sekali orang yang jauh lebih menderita dibanding kita. Di Evergreen kita akan belajar, bahwa saat kita berbuat baik untuk orang lain, maka kita akan memperoleh kebaikan yang jauh lebih baik. Di Evergreen kita akan belajar, bahwa hidup terlalu indah untuk disia-siakan begitu saja.

5 dari 5 bintang untuk karya teramat indah ini:)

Minggu, 12 April 2015

Selamat Ulang Tahun Blogger Buku Indonesia (BBI)

Saya gabung kalo nggak salah menjelang akhir tahun 2014 lalu. Lupa sihh tepatnya bulan apa :(. Motivasi gabung sih tadinya karna dikomporin Mba Esti. Hehe.
Dulu waktu dinyatakan diterima sebagai member BBI seneeeeeeng banget. Soalnya tadinya sempet hopeless... secara, jarak antara saya daftar dan sampi akhirnya diterima tuh lumayan lamaaa. Sebulan lebih.

Lalu setelah diterima? Jujur, jiper abissss :(((. Bacaannya pada ngeri-ngeriii. Kebanyakan yang saya tahu temen-temen BBI banyak banget yang hobi baca buku impor. Padahal saya baca buku terjemahan aja kepala langsung diputerin bintang -,-'. Selain buku impor, temen-temen juga kebanyakan pada suka novel fantasi. Sedangkan saya? Nggak doyan genre itu :(( Tapi yaudah sih, tiap orang kan dilahirkan dengan minat dan selera masing-masing, yaa... termasuk selera baca. Kalo semua suka novel fantasi, nanti kasian penulis-penulis novel yang menye-menye. Hihi.

Nggak lama setelah gabung BBI, saya kemudian gabung grup whatsapp BBI-JogloSemar. Seneeeeng banget bisa gabung grup rumpi ini. Hihi. Dulu sih awal saya gabung, di JogloSemar ada kebiasaan unik. Yaitu, cerita kismis tiap malam. Cerita kismis yang lalu ditingkahi komentar-komentar yang bikin mules gara-gara ketawa. Selain rumpian tentang buku (yang saya banyak nggak mudengnya) tentunya. Tapi tradisi kismis kayaknya mulai punah sih, kehabisan stok :D.Tapi baca rumpian kocak mereka (meski lebih sering jadi silent reader) tuh selalu menyenangkan. Selalu bisa jadi hiburan di tengah penatnya rutinitas kerja #tsaaaah.

Kalo bicara soal perubahan saya setelah gabung sama BBI, jujur belum terlalu signifikan sih :(. Iya, saya ngaku kok belum all out. Masih nggak fokus dan kurang serius. Tapi meski belum siginifikan, tentu saja tetap ada kemajuan bagi saya. Yang paling utama, saya selalu berusaha menulis review atas buku-buku yang saya baca. Kalopun reviewnya belum begitu berkualitas *ngaku*, seenggaknya beberapa tahun ke depan, saya nggak akan kehilangan arsip dan memori atas apa saja yang pernah saya baca.

Anyway, saya tetep bersyukuuurrr sekali bisa bergabung sama BBI. Semoga, momentum ulang tahun BBI yang ke-4 ini bisa menjadi momentum bagi BBI untuk menjadi komunitas yang lebih keren dan bermanfaat, sekaligus menjadi perubahan ke arah yang lebih baik dari saya -- khususnya di bidang baca-membaca dan tulis-menulis. Aamiin.

Selamat ulang tahun yang ke-4 BeBI... :*

Senin, 06 April 2015

Api Tauhid: Novel Sejarah Tentang Badiuzzaman Said Nursi

Judul Buku: Api Tauhid
Penulis: Habiburrahman E Shirazy
Penerbit: Republika
ISBN: 978-602-8997-95-9

Setelah cukup lama tidak terdengar debut novelnya setelah keberhasilan dua novel fenomenal yaitu Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, kini Habiburrahman kembali menyuguhkan karyanya. Kali ini Kang Abik mempersembahkan novel berjudul Api Tauhid. Berbeda dengan novel-novel sebelumnya yang garis besar temanya adalah tentang cinta, Api Tauhid ini merupakan novel sejarah sekaligus novel biografi tokoh ulama yang berasal dari Turki, yaitu Said Nursi. Tapi bukan berarti tidak ada bumbu cerita cinta sama sekali.

Adalah Fahmi, seorang mahasiswa asli Jawa Timur yang sedang menimba ilmu di negeri Para Nabi. Ia amat terpukul mendengar permohonan dari ayah mertuanya – Kyai Arselan – untuk menceraikan putrinya secara tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas. Untuk mengobati kepedihan hatinya, Fahmi memutuskan untuk I’tikaf di Masjid Nabawi selama berhari-hari dan bertekad untuk tidak akan membatalkan I’tikafnya sebelum ia menamatkan hafalan Qur’annya sebanyak 40 kali. Apa yang dikhawatirkan teman-temannya – Ali dan Hamzah – terjadi. Fahmi jatuh sakit.

Setelah kondisi kesehatannya membaik, Fahmi memutuskan untuk ikut Hamzah pulang ke Turki. Ia ingin mencari pencerahan jiwa dengan melihat negeri penuh sejarah itu, sekaligus ingin napak tilas perjalanan ulama Said Nursi. Dari situ, sejarah tentang perjalanan hidup Said Nursi pun terpapar dengan amat lengkap – sejak beliau masih kanak-kanak hingga menjadi tokoh paling dikenal di Turki.

Said Nursi adalah seorang ulama yang mendapat gelar Badiuzzaman atau keajaiban zaman. Ia telah hafal banyak sekali kitab saat usianya masih amat belia. Ia juga menjadi tokoh yang menentang keras sistem sekularisme di Turki. Selain sejarah tentang perjalanan hidup Said Nursi, dalam novel ini juga banyak sekali ternukil pesan-pesan kebaikan dari beliau.

Karena Api Tauhid merupakan novel sejarah, maka tentu saja membaca novel ini akan sangat berbeda rasanya dengan saat membaca novel Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Dalam Api Tauhid, kisah cinta antara Fahmi dan Nuzula hanya sebatas ‘hiasan’ untuk memperindah novel. Namun sayangnya, novel ini sepertinya digarap dengan kurang maksimal. Ada cukup banyak typo/salah ketik. Salah satunya di halaman 82. Dalam narasi novel disebutkan bahwa lahirnya Nabi Muhammad SAW bertepatan dengan tanggal 22 April, sedangkan pada catatan kaki ditulis 20 April. Lalu mana yang benar? Kisah cinta antara Fahmi dan Nuzula juga terasa agak hambar dan terkesan dipaksakan.

Untuk Api Tauhid, 3 bintang saja dari 5 bintang. Sepertinya saya belum bisa benar-benar move on dari catatan cemerlang Kang Abik lewat Ketika Cinta Bertasbihnya. Jadi – jujur – novel Api Tauhid ini menjadi obat rindu pada tulisan beliau yang agak sedikit mengecewakan.

Senin, 23 Maret 2015

Coupl(ov)e: Sahabat Yang Jadi Suami-Istri


Judul buku: Coupl(ov)e
Penulis: Rhein Fathia
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-7888-12-8

Sahabat jadi cinta. Tema itu sepertinya nggak pernah ada matinya. Selalu punya daya tarik yang menggelitik. Dua orang – laki-laki dan perempuan – yang tadinya berlindung di balik jubah persahabatan toh pada kenyataannya banyak yang menyerah pada pepatah jawa ‘witing trisna jalaran saka kulina’.

Halya dan Raka ada salah satu kisah yang menjadi bukti atas hal itu. Bersahabat sejak SMA, lalu di ujung masa pencarian akhirnya memutuskan menikah hanya atas dasar: ‘apalagi yang dicari?’. Yup, logika mereka sederhana saja. Mereka sudah sama-sama saling ngerti kebaikan dan keburukan masing-masing, sudah bersama sekian lama. Maka rasanya tidak sulit bagi mereka untuk hidup bersama di bawah naungan rumah tangga.

Meski pada akhirnya mereka harus mengakui bahwa semuanya nggak sesederhana itu. Pernikahan itu terjadi bersama beberapa permintaan Halya pada Raka yang terasa agak menyiksa. Halya masih teramat sulit mengesampingkan mainset bahwa Raka adalah sahabatnya. Dia belum benar-benar siap dengan perubahan status dan pola hubungan antara antar-sahabat dengan suami-istri.

Hal itu kemudian diperparah oleh keping-keping masa lalu yang masih mereka genggam. Halya masih amat mencintai Gilang – lelaki yang pernah melamarnya dan menjanjikan pernikahan. Pada awalnya Raka mengerti. Ia tidak menuntut Halya untuk melupakan Gilang seketika. Tapi ego kelelakiannya mulai tidak terima ketika Halya tak juga menunjukkan kepedulian padanya sebagai seorang istri kepada suami – dan justru masih mengekspresikan cinta yang demikian besar pada Gilang. Pada saat itulah Rina – masa lalu Raka – hadir. Seseorang yang amat berkesan di masa lalu Gilang. Orang yang tepat pada waktu yang tepat. Situasipun berubah runyam, hingga Halya dan Raka mulai goyah dan ragu; apakah mereka masih mampu mempertahankan rumah tangga yang tak sehat seperti itu?!

Membaca Coupl(ov)e ibarat makan permen nano-nano. Manis-asam-asin datang silih berganti, bahkan kadang bersamaan. Meski novel atau cerita yang mengambil tema utama ‘sahabat jadi cinta’ sudah cukup banyak, tapi Coupl(ov)e punya daya tarik yang membuatnya berbeda dan nggak terasa membosankan untuk diikuti jalan ceritanya. Yah, meskipun flashback ke jaman Raka dan Halya muda (SMA dan kuliah) sempat terasa agak melelahkan. Tapi hal itu rasanya berhasil ditutupi oleh gaya bercerita yang mengalir dan diksi yang lincah serta ringan. Obrolan Raka dan Halya juga terasa segar dan cukup humoris. 3,5 dari 5 bintang untuk novel ini.

Rabu, 11 Maret 2015

PRICELESS MOMENT: Tentang Momen Berharga Antara Ayah dan Dua Buah Hatinya

Judul Buku: Priceless Moment
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: (13) 978-979-780-738-2

Kehilangan orang yang amat dicintai, konon akan terasa seperti kehilangan separuh nyawa. Apalagi jika kehilangan itu meninggalkan sebuah konsekuensi dan tanggung jawab yang cukup berat, dan selama ini belum sempat terbayangkan.

Hal itu dirasakan benar oleh Yanuar saat secara tiba-tiba harus kehilangan Esther – istrinya. Esther tertabrak mobil saat hendak menyebrang untuk menjemput Hafsha dan Feru – putra-putrinya, dan meninggal seketika. Yanuar linglung saat menyadari bahwa kini ia tak hanya berperan sebagai seorang Ayah yang berkewajiban mencari nafkah, tapi juga berperan sebagai ibu bagi Hafsha dan Feru. Sebuah peran yang sama sekali tidak Yanuar pahami. Selama ini Yanuar terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga ia hampir benar-benar kehabisan waktu untuk Esther, Hafsha dan Feru.

Yanuar sedih saat menyadari bahwa Hafsha dan Feru terlihat lebih bahagia saat bersama dengan Wira – adiknya, yang pandai membacakan dongeng. Ia akhirnya sadar bahwa ia harus memperbaiki diri jika tak ingin merasakan penyesalan karena kehilangan momen-momen berharga dengan dua anaknya itu.

“Saya tidak bisa seperti ini terus.” Yanuar menangkupkan kedua tangan di meja. “Saya harus memperbaiki diri, perlahan.” (Halaman 29)

Ketika kedekatan dengan Hafsha dan Feru mulai terbangun, Yanuar kembali didera perasaan galau dan takut kehilangan saat Matilda – ibunda Esther, hendak mengajak Hafsha ke Meksiko saat liburan sekolah. Matilda ingin memperkenalkan Hafsha dengan Meksiko, karena ia ingin mewujudkan keinginan Esther untuk menyekolahkan Hafsha di sana, saat memasuki jenjang sekolah menengah nanti.

Sementara itu, seorang karyawati baru bernama Lieselotte cukup menarik perhatian Yanuar. Lieselotte cenderung penyendiri, terkesan arogan dan tidak peduli pada lingkungan. Tapi ia cukup takjub ketika mendapati Lieselotte begitu mudah akrab dengan anak-anak, termasuk Hafsha dan Feru saat mereka bertemu di sebuah acara gathering kantor mereka. Yanuar merasakan perasaan lain, meski ia belum yakin itu cinta. Yanuar masih tetap ingin memprioritaskan seluruh energinya untuk Hafsha dan Feru.

Priceless Moment menyuguhkan sebuah cerita tentang betapa momen berharga akan sangat meninggalkan penyesalan mendalam jika terlewatkan. Setiap kalimat dalam novel ini amat sarat dengan emosi yang mengaduk-aduk perasaan. Hubungan antara seorang ayah dan anak tergambar begitu nyata dan natural. Kalimat-kalimat Hafsha dan Feru juga benar-benar menggambarkan jiwa anak-anak mereka.

Jika ada hal yang membuat saya agak kurang sreg dalam novel ini, satu-satunya adalah tentang kisah cinta Yanuar dan Lieselotte. Rentang waktu hingga akhirnya mereka bertemu kembali rasanya terlalu panjang. Apalagi adegan saat mereka hujan-hujanan, sebelum akhirnya Lieselotte pindah ke Jerman. Rasanya adegan itu kurang pas untuk dua orang yang sama-sama dewasa.  Di luar itu, perfect!

Selasa, 17 Februari 2015

MARI LARI: Selesaikan Apa Yang Kamu Mulai

Judul Buku: Mari Lari
Penulis: Ninit Yunita
Penerbit: Gagasmedia

Kalaulah saya melihat novel ini di salah satu sudut toko buku, tanpa pernah baca resensinya terlebih dulu, mungkin saya nggak akan tertarik untuk membaca apalagi membelinya. Jujur covernya nggak menarik buat saya. Judulnya juga. Mari Lari? Duh, males, enakan Mari Tidur atau Mari Makan. Haha… apa siihhh!!

Yup, takdir membuat saya tertarik membaca novel ini lewat perantara review-nya Mba Ila. Dan setelah membacanya, saya sama sekali nggak nyesel. Pesan utamanya bagi saya teramat JLEB. Selesaikan apa yang kamu mulai, kalau nggak pengen nyesel di kemudian hari.

Rio – tokoh utama dalam novel ini – adalah seorang pemuda yang menyesal dan merasakan dampak buruk dari kebiasaan setengah-setengah dalam melakukan segala sesuatu. Dia sering ingin melakukan banyak hal, tapi baru setengah jalan dia akan cepat sekali menyerah pada rasa bosan. Nggak ada satupun hal yang ia selesaikan dengan baik, termasuk kuliahnya. Hingga ayahnya sampai pada batas limit rasa sabarnya, dan menyuruh Rio pergi dari rumah.

Rio bekerja di sebuah showroom mobil milik sahabatnya, sekaligus tinggal di situ – dalam kondisi yang serba memprihatinkan. Kinerjanya di showroom amat membuat sahabatnya amat prihatin pada sahabatnya. Rio sama sekali tidak menunjukkan performa yang mumpuni sebagai seorang marketer mobil. Ia pun amat menydari kondisi dirinya tersebut. Ia merenung, menyesali segala kesalahannya selama ini. Ia sadar  kebiasaan buruknya yang nggak pernah menyelesaikan apapun yang ia kerjakan selain merugikan dirinya sendiri, juga teramat mengecewakan dua orang yang paling ia sayangi dan menyayanginya: ayah dan ibunya. Lalu perlahan tekad untuk memperbaiki diri pun muncul.

Puncaknya, saat ia tahu bahwa ibunya menderita penyakit kanker. Rio ingin sekali membuat ibunya bangga dan bahagia. Rio ingin membalas kasih sayang tanpa batas ibunya dengan memperbaiki segala kesalahannya selama ini. Namun sayang, takdir berkata lain. Rio tak lagi memiliki waktu, karna ajal mengambil alih dunia ibunya.

Rio menyesal dan sedih. Tapi ia terlanjur berjanji akan membuat ibunya bahagia meski tak lagi hidup di dunia yang sama dengannya. Rio memperbaiki performanya di showroom dan berhasil meningkatkan kemampuannya menjual mobil. Ia juga mengejar semua ketertinggalan kuliahnya. Dan satu lagi yang terpenting, ia mulai lari. Ya, Rio tekun berlatih lari demi mengikuti event Bromo Maraton dengan memakai nomor ibunya yang mendapat undangan khusus. Ohya, FYI, ayah-ibu Rio adalah mantan atlet lari berprestasi. Meski ayahnya masih sangat meragukan Rio, toh akhirnya ia memberikan ijin pada Rio untuk memakai nomor ibunya, dengan sebuah syarat. Lalu apakah kali ini Rio akan menyelesaikan apa yang ia mulai dan berhasil mencapai finish line? Baca sendiri, lah, ya… hehe.

Ohya, btw… katanya ini novel udah ada filmnya, ya? Sumpah sama sekali nggak tahu lho malah. Filmnya yang kurang promosi atau kupernya saya yang semakin akut? Ah, entahlah. Haha.